
Setelah pulang kerja Arga memilih mengemasi baju bajunya untuk pulang ke rumah sang ibu.
Mulai terasa tidak ada Atika membuatnya sengsara namun ia tidak mengakui itu, menurut nya sama saja walaupun ada Atika.
"Mungkin aku lagi apes saja, lebih baik aku ke rumah ibu.
" Arga mengendarai sepeda motornya menuju kampung bu Ratna, ia akan tinggal di sana walaupun jauh dari tempat kerjanya! ia bisa berangkat pagi pagi.
"Ibu!" Arga mengetuk pintu rumahnya bu Ratna.
"Arga kok kamu kesini?" bu Ratna tak menyangka dengan kedatangan Arga yang tiba tiba.
"Iya bu, Arga mau tinggal disini saja! gara gara tinggal sendirian, Arga jadi kesiangan." benar benar membuat Arga gila melihat rumah yang berantakan dan juga harus kesiangan.
"Kok bisa kesiangan," tanya sang ibu.
"Ga ada yang membangunkan Arga bu!" ini yang di harapkan bu Ratna supaya Arga mengeluh dengan kehidupan nya yang tak punya istri.
"Kalau begitu kamu harus secepatnya menikah dengan Dinda biar ada yang merhatiin kamu Ga," dengan gampangnya bu Ratna menyuruh Arga menikah lagi.
"Memang Dinda mau nikah sama Arga ?" namun arga masih berpikir kenapa harus secepat ini ia menikah, karena ia masih belum berkomunikasi lagi dengan Dinda.
"Dia mau Ga, kemarin pak kades kesini, minta kamu untuk melamar anak nya, karena mungkin Dinda perawan tua jadi pak kades meminta kamu menikahi Dinda."
"Walaupun usia Dinda sudah tua, tapi dia masih cantik bu!"
"Iya tapi mulut tetangga di sini kan pada pedes Ga, kalau gitu rumah kamu jual aja Ga! buat melamar Dinda." dengan menjual rumahnya Arga, ini bisa membuat Arga secepatnya menikah.
"Ibu benar juga, apa aku harus melamar secepatnya bu,"
__ADS_1
"Iya dong supaya dia tidak berubah pikiran," Ibu dan anak memang sama saja, dari dulu bu Ratna menginginkan menantu yang sederajat dengan anaknya, namun Arga malah memilih Atika yang masih di bawah rendah.
"Kalau begitu ayo secepatnya jual rumah Arga bu.
"Sabar dong Ga, soal itu biar ibu yang ngurusin! Kamu fokus deketin Dinda aja.
***
"Atika apa Tini sudah pulang." ku kira ibu tak peduli pada Tini lagi, tapi ibu masih bertanya tentang nya.
"Sudah kok bu, ada apa bu."
"Tidak apa apa Tik, biarkan saja dia hidup sendiri biar tahu keras nya dunia luar." Atika tak menyangka ternyata ibunya membiarkan anak nya begitu saja.
Lalu Tika kembali lagi menuju tempat jualan nya di depan rumah.
"Assalamualaikum Tik apa kabar?"
"Begini Tik, ada yang ingin aku bicara kan dengan kamu?"
"Apa itu sa?" kata ku.
"Mau ga kamu kerja di perusahaan paman ku, dia lagi butuh karyawan nih, aku sengaja mengajak mu karena aku tahu kamu menginginkan kerja di kantor."
"Tapi ijazah ku cuma SMP sa,"
"Ga apa apa kok Tik, kita coba aja lagian walaupun ijazahnya SMP kamu sangat pintar Tik.
Cita cita ku memang ingin bekerja di kantor, aku ingin tahu masuk kedalam gedung yang tinggi, Tapi bagaimana pun aku akan izin dulu pada ibu, aku takut ibu tak setuju karena aku harus meninggalkan Karina di sini.
__ADS_1
"Nanti ya sa, aku mau tanya ibu ku dulu. Besok kamu bisa kesini lagi kan sa,"
"Bisa kok Tik." Sepertinya aku harus bekerja bersama Salsa, aku ingin merasakan kerja di kantor yang seperti mas Arga bangga kan itu. Katanya kerja di kantoran itu untuk orang orang yang sederajat dengan nya, ga ada pekerja lulusan SMP. kemudian aku menemui ibu di dalam, aku ingin menceritakan soal salsa tadi.
"ibu sedang apa, apakah ibu sibuk?" ibu masih fokus pada kue yang sedang di buat.
"memangnya mau cerita apa Tik, bicara saja ibu akan mendengarkan." lalu aku menceritakan semuanya pada ibu, dan ibu mengerti dengan keinginan ku tapi aku belum mendapatkan izin dari ibu. Semoga saja ibu mengizinkan ku walaupun aku harus meninggalkan Karina! aku hanya ingin membuktikan pada mantan suamiku bahwa aku juga bisa bekerja di kantoran.
"Mama," tiba tiba Karina memang ku,
"Ada apa sayang, kamu baru pulang main dari mana nak," sepertinya Karina senang sekali bermain dengan teman nya.
"Karina main sama sisil bu, tetangga sebelah rumah nenek," pantas saja ia selalu betah main di sana ternyata memang tetangga sebelah sangat baik pada Karina, tiap pulang ke rumah, Karina selalu cantik dan wangi mungkin dia di mandiin sama orang tuanya sisil, aku sangat berterimakasih padanya. setelah mengobrol dengan Karina, aku mendengar suara ibu memanggil ku.
"ada apa bu?" aku melihat ibu tersenyum pada ku? apakah ibu mengizinkan aku untuk bekerja ke kantor.
"Begini Tik, kalau kau mau bekerja di kantor ibu setuju aja, ibu tahu apa yang di rasakan oleh mu Tik. Biarkan saja karina bersama ibu karena ia sudah besar dan ibu tak akan terlalu kewalahan walaupun sambil berjualan." akhirnya ibu mengizinkan aku untuk bekerja di kantor, aku sangat senang sekali karena ibu mau merawat cucunya. Semoga saja Karina tidak rewel dan tidak merepotkan ibu, aku juga sudah mendaftarkan Karina sekolah di sini yang tak jauh dari rumah ibu.
***
"Arga ibu sangat senang sekali, ternyata dalam sehari rumah mu sudah ada yang beli, ibu ingin kau secepatnya menikah dengan Dinda," Bu Ratna berhasil menjual rumah yang di tempati Atika seharga 100 juta, namun ia tak ingat bahwa Arga mempunyai anak yang seharusnya bisa mendapatkan uang dari rumah itu juga, namun ia tak peduli dengan semua itu. Yang penting Arga bisa menikah dengan wanita pilihan nya.
"Arga juga ikut senang bu, kalau begitu besok Arga akan melamar Dinda! tadi Arga sudah bicara dengan nya." kata kata Arga membuat bu Ratna senang.
"Tentu saja kau harus secepatnya menikah walaupun belum lama kau bercerai, tak apa apa lah Atika tak akan tahu soal ini dan tak usah memberi tahu Karina juga." benar benar ibu mertua yang tak mempedulikan cucunya padahal masih darah daging nya tapi ia cuek saja hanya memikirkan Arga menikah lagi.
***
POV Dinda
__ADS_1
"Akhirnya mas Arga akan melamar ku, aku sangat senang sekali karena dari dulu aku sangat menginginkan mas Arga. Dia cinta pertama ku tentu saja aku belum bisa move on darinya." Sebenarnya Dinda sudah beberapa kali di lamar pria namun pria itu banyak yang menolak nya setelah tahu bahwa Dinda wanita malam yang selalu berada di Club, ini lah yang membuatnya susah nikah jadi dia setuju saja menikah dengan duda anak satu yang penting dia sudah menghapus masa lajangnya.
"biarkan saja mas Arga sudah ada anak, yang penting anaknya ga ikut dia. Enak aja kan kalau aku yang harus ngurus anaknya! untung saja mantan istrinya Arga membawa kabur anak nya, jadi aku tak perlu capek capek memisahkan Arga dengan anaknya."