Membalas Penghinaan

Membalas Penghinaan
Bab 31


__ADS_3

"Mas berangkat kerja dulu ya." ujarnya lalu mencium kening Atika.


"Mas hati hati dijalan."


"Iya, kamu baik baik dirumah ya jagain Karina." Setelah menikah Dirga tak membolehkan Atika untuk jadi sekertaris nya lagi, ia tidak ingin istrinya bekerja karena ia bisa mencukupi kebutuhan nya. Dirga juga sudah mencari pengganti Atika yang pasti ia memperkerjakan pria untuk jadi asisten nya.


"Kakak sangat di istimewakan sama kak Dirga, aku jadi ngiri kak." ujar Tini.


"Iya Alhamdulillah kakak punya suami yang bertanggung jawab seperti mas Dirga, tapi Tin akhir akhir ini kakak selalu merasa lelah dan mual."


"Mungkin kakak lagi hamil."


"Gak mungkin Tin karena mas Dirga kan ga bisa punya anak."


"Tapi belum tentu juga kan kak."


"Kakak juga tidak tahu sih, tapi dia sudah dapat surat dari dokter katanya bener mas Dirga ga bisa punya anak."


"Tapi kakak harus cari tau lagi loh kak, kan kakak belum tau betul sedang kan kak Dirga kan dulu sama istri pertamanya, memang nya kakak belum datang bulan."


"Iya terakhir datang bulan kan sebelum nikah sama mas Dirga."


"Bisa jadi kakak hamil loh."


"Ga tau juga sih Tin."


Arga yang sudah berada di tempat kerja pagi pagi ia sengaja datang keruang Dirga namun ia tak menemukan Atika sudah seminggu, Arga sangat berharap bisa bertemu dengan mantan istrinya, ia tau Atika sudah menikah tapi hati Arga tak bisa melupakan Atika apalagi sekarang rumah tangga Arga sangat berantakan.


"Ehem."


"Eh pak Dirga sudah datang." ujar Arga.


"Iya, kamu ngapain disini apa ada perlu dengan saya."


"Tidak ada pak, em saya hanya jalan jalan saja di sekitar sini."


"Oh gitu." kemudian Arga kembali lagi ke tempat kerjanya, ia malu sudah tertangkap basah oleh suami Atika.


"Kamu dari mana aja Arga tiap pagi kok selalu ke ruangan pak Dirga."

__ADS_1


"Ah aku hanya jalan jalan saja."


"Oh iya kamu tau ga kalau sekertaris kita udah di ganti sama pria."


"Hem pantas saja aku tak pernah melihat Atika rupanya ia sudah tidak bekerja." ucapnya dalam hati.


"Kamu di kasih tau malah melamun."


"Ah aku sudah tau dari kemarin." Setelah tau Atika tak bekerja lagi di sini membuat Arga tak semangat untuk bekerja, harapan Arga hanya pada Atika, melihatnya saja ia bisa bahagia.


"Aku harus menemui anak ku biar aku bisa bertemu dengan Atika." gumamnya.


***


Semakin hari perut Dinda semakin besar membuatnya ia sesak.


"Ngapain juga sih aku hamil, rasanya sesak gini. Ingin sekali aku mengeluarkan bayi yang ada di perut ku argh." Semua wanita sangat menginginkan kehamilan apalagi berjuang untuk garis dua sebagian wanita susah mendapatkan nya, namun tidak dengan Dinda ia sangat membenci kehamilan nya. Ia ingin hidup bebas di dunia malamnya.


"Kenapa aku memperjuangkan mas Arga kalau dia saja tak peduli pada ku, harusnya dulu aku menggugurkan anak yang di perut ku. Aku jadi tak bisa mendapatkan uang lagi karena sudah tidak ada yang menginginkan ku dengan perut besar begini."


"Apalagi mas Arga hanya memberiku uang 500 ribu sebulan, mana cukup untuk kebutuhan ku segitu. Ingin secepatnya aku melahirkan anak ini, nanti jika telah lahir aku bisa memberikan nya pada mas Arga. Ia pasti menyayangi anak ini."


"Hei wanita ular tumben kamu diem dirumah." ujar bu Ratna yang baru saja pulang dari warung tetangga.


"Cih kau malah menyuruhku, enak aja kamu bilang begitu. Rasain aja sudah hamil besar begitu bisa membuat mu seperti gajah nanti kamu ga cantik lagi Dinda."


Soal fisik Dinda tak terima jika di hina, kemudian iya mengambil air lalu mengguyurnya pada Bu Ratna.


"Dasar wanita gilaaaa." teriaknya.


"Jangan pernah menghina fisik ku, kalau tidak mau ku guyur, rasain kau nenek tua." Bu Ratna sangat marah dengan perlakuan Dinda tapi ia tak ingin melawannya karena ia sadar dengan Dinda yang pasti akan menyerangnya lagi jadi ia mengalah untuk kali ini.


***


"Mas akhir akhir ini aku sering mual." jujur Atika pada Dirga.


"Kenapa? apa kamu sakit."


"Aku juga tidak tau mas, sering sekali aku mual."

__ADS_1


"Nanti besok kita ke dokter ya, kita periksa."


"Iya mas, semoga saja tidak apa apa." setiap ngobrol dengan sang istri, Dirga selalu mengecup kepalanya. Ia sangat menyayangi Atika, untuk perkara masak pun kadang Dirga yang selalu memasak karena dia pernah bekerja jadi chef dulunya.


"Sayang tadi aku liat mantan suami mu, setiap hari dia selalu nunggu di depan ruangan ku. Apa mungkin dia masih mengharapkan mu."


"Biarkan saja lah mas jangan di pikirin, yang penting sekarang aku sudah bersama mu mas, aku sudah tak berharap padanya apalagi yg tentang perasaan ku itu tidak ada sama sekali untuknya."


"Janji ya kamu akan selalu bersama ku walaupun aku mandul, tapi aku tetap bisa memberi nafkah lahir dan batin. Kamu tau sendiri kan kalau aku hebat di ranjang."


"Ih mas apa sih kalau bicara suka kesitu."


"Hehehe." mereka berdua terus berbincang bincang sebelum tidur karena belum terlalu malam jadi mereka masih ngobrol berdua sedangkan keluarga yang lain sudah ke alam mimpi.


"Mas aku mau tanya sama kamu."


"Apa itu."


"Maaf ya kalau aku menyinggung kamu, sebenarnya mas tau mandul kata siapa?"


"Dulu pernah periksa ke dokter dengan mantan istri ku, lalu dokter memberikan hasilnya dan memvonis ku mandul."


"Em begitu ya mas."


"Iya tapi mas juga masih kepikiran dengan mantan istri mas setiap berhubungan dia selalu meminum pil katanya itu obat kuat untuk wanita, mas juga baru tahu ada obat kuat untuk wanita."


"Memangnya pil kaya gimana mas?"


"Pil nya kecil gitu, tapi isinya banyak."


"Setelah mas Dirga cerita, kok aku jadi kepikiran dengan pil yang di minum mantan istrinya. Mungkin saja itu pil pencegah kehamilan, apa karena dia tak ingin hamil anak mas Dirga? tapi kenapa dokter bisa memvonis mas Dirga mandul." ucapnya dalam hati.


"Apa sekarang mantan istri mas sudah hamil?"


"Setau mas belum sih, padahal dulu mas merelakan dia menikah lagi. Mas sengaja menceraikan dia supaya dia menikah lalu punya anak."


"Kenapa mas merelakan nya? apa mas tidak mencintainya."


"Bukan begitu, tapi mas gak tega sama dia yang menginginkan anak dan orang tua nya pun selalu memaki mas membuat mas ingin mundur jadi mas mengikhlaskan nya, alhamdulilah sekarang mas bisa mendapatkan mu yang bisa menerima mas apa adanya. Terimakasih ya Atika, aku janji akan selalu ada untuk mu dan apapun yang terjadi aku akan tetap bersama mu."

__ADS_1


Hai readers tinggalkan like dan komentarnya ya untuk cerita ini.


Dan baca juga cerita terbaru ku "PERNIKAHAN DENGAN TUAN KENZO"


__ADS_2