Membalas Penghinaan

Membalas Penghinaan
Bab 29


__ADS_3

"Mas bangun ini udah jam 5 pagi loh mas."


"Emm Atika, aku serasa mimpi dibangunkan sama kamu."


"Apaan sih mas, cepetan bangun sana."


"Baik sayangku."


Atika menyiapkan baju ganti Dirga begitu juga ia menyiapkan sarapan pagi dan secangkir susu untuk suaminya.


"Mama."


"Eh Karina sudah bangun."


"Iya ma, Karina nyenyak banget tidur sama nenek."


"Iya sayang, ya udah sekarang mandi dulu yuk pake air hangat." Tini yang sedari tadi tersenyum dari kejauhan membuat Atika salah tingkah.


"Cie yang udah malam pertama an sampe merah begitu." Atika langsung menutupinya dengan rambut, memang adik yang satu ini bibirnya terlalu jujur membuat Atika malu.


"Tini apa sih." Atika pun langsung kembali ke kamarnya ingin tahu apa yang diucapkan Tini.


"Astaga kenapa banyak sekali tanda merahnya." Atika sudah tahu ini kelakuan suaminya, karena ia bukan gadis polos tapi ia sudah berpengalaman.


Dirga yang baru selesai mandi melihat Atika yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Atika kamu kenapa melihat ku begitu."


"Ini gara gara kamu mas, aku malu sama tini." ia menunjukkan jarinya ke tengkuknya.


"Hahaha gak apa apa lah maklumi saja kita kan pengantin baru."


"Tapi aku malu mas, aku gak suka yang kaya gini susah hilangnya tau."


"Ya sudah sini kamu nya." Dirga menarik tangan Atika lalu ia mengambil sesuatu dari tas nya.


"Kamu pakai ini aja." Dirga memberikan syal pada Atika untuk menutupi bekas semalam.


"Terimakasih mas, aku pakai ya."


"Iya sayang, ya udah ayok sarapan aku sudah lapar nih."


Mereka berdua menuruni tangga menuju meja makan, disana sudah ada ibu, Tini, dan Karina yang sedang menikmati sarapan nya.


Namun Tini masih terus tersenyum membuat Atika ingin mencubit bibirnya.


"Ehem ehem."


"Tante kenapa sih dari tadi kaya gitu terus sama mama." ujar Karina dengan polosnya, namun ekspresi ibu biasanya saja mungkin ibu sudah tahu soal pengantin baru.


"Mama kenapa pake kain disini." Karina menunjuk ke syal yang di pakai Atika.


"Ah mama mu sedang tak enak tenggorokan, jadi ia pakai syal." sambung Dirga menjelaskan pada Karina.


"Oh gitu pa."

__ADS_1


Tini terus saja tersenyum meledek Atika.


"Hari ini papa libur, kita jalan jalan yuk." ajaknya pada Karina.


"Horeeeee Karina mau pah, kita jalan jalan nya kemana pah."


"Kamu maunya kemana sayang?"


"Karina mau ke taman terus ke mall."


"Oke deh." Dirga dan Karina saling tertawa membuat Atika bahagia dengan sikap lembut Dirga pada anaknya.


"Ya sudah kalau gitu mama siap siap dulu ya."


"Ya aku ga di ajak nih." ujar Tini.


"Kamu sama ibu aja Tin jangan ganggu kakak mu." sambung ibu.


***


Arga yang masih tidur dengan nyenyak karena semalam ia tak bisa tidur memikirkan Atika yang sedang malam pertama dengan bos nya membuat ia cemburu memikirkan nya.


"Bangun mas." Dinda membangunkan Arga dengan air segelas membasahi wajah Arga.


"Apa apaan ini Dinda, beraninya kamu mengguyur ku."


"Ya bangun dong mas, ini sudah jam 9 masih tidur aja."


"Kenapa kau selalu membuatku muak, awas saja kau berani lagi pada ku." Dinda tak peduli dengan ucapan Arga, ia mengangkat bahunya bodo amat.


"Arga kenapa wajah mu basah." tanya bu Ratna.


"Astaga wanita ular itu membuat ulah lagi samu kamu, sebaiknya kamu usir dia dari sini Ibu juga ga suka dia tinggal disini sok menjadi ratu ga mau bersihin rumah membuat tenaga ibu lelah."


"Iya bu, aku juga udah ga tahan sama dia. Aku ingin bercerai bu tapi dia benar benar licik membuat ku tak bisa berkutik."


"Kita harus cari cara." ujar bu Ratna.


"Ya sudah Arga mau mandi dulu, Arga kesiangan nih mau main ke rumah temen." setelah kepergian Arga, bu Ratna langsung masuk ke kamar nya Arga.


"Heh wanita ular beraninya kau mengguyur anakku." Bu Ratna dengan kasar menjambak rambut menantunya itu.


"Lepaskan rambut ku."


"Tidak akan, kau pantas seperti ini."


"Sakit bu aaaaa, mas Arga tolong aku." Namun Arga tak mendengarnya karena dia sedang di kamar mandi, akan tetapi Dini terganggu dengan teriakan kakak iparnya.


"Ada apa sih ini mengganggu tidur ku saja." Dini langsung mendatangi sumber suara yang mengganggunya.


"Kakak, ibu kalian ngapain?"


"Dini tolong kakak, rambut kakak sakit."


"Diam disana Dini, biar wanita ular ini kesakitan." Dini bingung harus membela yang mana, ia sangat pusing dengan teriakkan kakak iparnya.

__ADS_1


"Dini tolong aku cepat nanti kakak akan memberi mu uang." Dengan sigap Dini langsung melepaskan tangan ibunya dari rambut Dinda, kalau soal uang dini selalu gercep.


"Hah ini membuat rambut ku rontok, dasar nenek nenek gak tau di untung malah menyiksa ku seperti ini."


"Apa kau bilang hah, harus nya kamu yang mikir, bukannya kamu sangat untung dinikahi anak ku." bu Ratna mulai emosi.


"Bu sudah bu, malu lah sama tetangga."


Dini mencoba memisahkan dua manusia yang keras kepala.


Bu Ratna mengalah, ia pergi meninggalkan Dinda yang masih kesakitan.


"Kak mana uangnya."


"Apa maksud mu."


"Katanya tadi kakak mau memberiku uang."


"Cih, ga ada uang. Kalau mau uang ya kerja sana." Dini kesal pada Dinda karena sudah di bohongi "Kalau tahu gitu mending tadi belain ibu." gerutunya.


***


"Mas makasih ya udah ajak kita kesini."


"Iya sayang, apa pun yang kalian mau aku akan menurutinya."


"Ye makasih pah, Karina mau dong di beliin boneka yang besar." sambung Karina.


"Ayok kita kesana cari boneka." Dirga dan Karina berjalan dengan cepat menuju boneka yang terpampang di mall itu, Atika bahagia dengan keluarga kecil yang sekarang. Ia benar benar di ratu kan oleh Dirga, Setelah sekian lama ia di hina dan di maki Arga sekarang ia merasa di hargai oleh Dirga.


"Pah aku mau yang ini."


"Boleh sayang, ambil yuk."


Dirga langsung mengambilkan untuk Karina dan membayarnya sedangkan Atika syok melihat harga boneka nya.


"Mas ini terlalu mahal."


"Ga apa apa Atika, ini bahan nya bagus biar bonekanya awet ya Karina." Dirga tak peduli dengan harga mahal yang penting ia sudah membuat senang Karina walaupun bukan anak kandungnya.


"Terimakasih ya mas, maaf sudah merepotkan mu."


"Ini ga gratis Atika." Ucapnya pada telinga Atika.


"Apa maksud mu mas."


"Kau harus membayarnya nanti malam 5 ronde." reflek Atika mencubit Dirga dengan keras.


"Auh sakit."


"Mama jangan galak galak sama papah dong, ini papah Karina kenapa mama cubit." Karina langsung memeluk Dirga, memisahkan jarak dengan Atika.


"Papah tidak apa apa Karina, mama mu hanya becanda kok."


"Tapi ko papah teriak."

__ADS_1


"Pura pura sakit hehe, ya udah kita makan siang dulu yuk. Disini ada restoran seafood loh."


"Horeee Karina mau pah, karina suka sama lobster." Kemudian mereka berjalan menuju restoran, sedangkan Atika hanya mengikutinya dari belakang seperti asisten Dirga dan Karina.


__ADS_2