
"Arumi dimana Tini." ucap ibu yang baru saja datang dengan membawa Karina juga.
"masih di ruang operasi bu, ibu tenang ya semoga Tini ga kenapa napa!"
"sebenarnya kenapa Tini bisa kecelakaan Tik,"
"Tika juga belum tahu bu, nanti kalau Tini sudah sadar dia bisa cerita sama ibu."
Aku melihat wajah ibu dengan raut yang sedih, ibu sepertinya merasa bersalah pada Tini, semoga saja Tini tidak kenapa napa.
Sudah 6 jam aku menunggu di sini, begitu pun dengan pak Dirga ia masih di sini.
"pak," panggil ku.
"ya ada apa Atika ?"
"bapak pulang saja, karena bapak sudah lama disini !"
"tak apa apa saya akan menunggu nya." aku sudah menyuruhnya pulang namun pak Dirga masih kekeh ingin di sini.
Tak lama kemudian dokter sudah keluar dari ruang operasi, ibu dan aku langsung menghampirinya.
"bagaimana ke adaan anak saya dok?"
"alhamdulilah anak ibu selamat walaupun sudah melewati masa kritisnya. Ibu bisa menemuinya di ruang perawatan, saya permisi dulu."
"terimakasih dok," ku peluk ibu dan ku beri semangat untuk ibu agar ibu tak terlalu larut dalam kesedihan nya.
"ya sudah bu mari kita temui Tini." begitupun dengan pak Dirga ia ikut bersama ku menuju ruang perawatan.
"Tini hiks hiks maaf kan ibu nak," namun adik ku masih belum membukakan mata nya.
"bu yang sabar ya," ku tenangkan ibu dengan memeluk nya.
"permisi, apakah ibu dari keluarga pasien atas nama Tini?"
"iya sus!"
"silahkan untuk pembayaran nya di tunggu di administrasi."
"baik sus!" aku langsung menuju administrasi untuk membayar biaya operasi adik ku.
Seketika aku terkejut dengan biaya yang tidak tertanggung.
"kenapa Tik," ucap pak Dirga yang mengikuti ku dari belakang.
"ga apa apa kok pak."
"sini biar saya lihat," pak Dirga langsung mengambil kertas ditangan ku.
"baiklah biar saya lunasi semuanya."
" tapi pak,"
"sudah! biar saya urusi administrasi nya, kamu temui saja ibu mu!
__ADS_1
aku menurut saja pada pak Dirga, sebenarnya aku ga enak juga karena pembayaran nya yang sangat namun pak Dirga tetap membayarnya.
"Arumi bagaimana dengan administrasi nya?" ibu bertanya padaku.
"di bayar sama pak Dirga bu!"
"kenapa, ibu masih punya simpanan kok! memang nya berapa yang harus di bayar?"
"seratus juta bu!" ibu langsung terdiam, kami memang tak memiliki uang sebanyak itu.
"ya allah Tik biaya nya sangat mahal!"
"yang penting Tini sembuh dulu bu! nanti kita bisa nyicil sama pak Dirga."
"iya Tik."
***
Resepsi pernikahan sudah selesai, tamu undangan pun sudah pada pulang.
namun bu Ratna masih dengan bahagianya membuka amplop tamu undangan.
"Arga sini bantu ibu, amplop nya sangat banyak hasilnya pasti banyak juga."
"iya bu, buka aja sendiri! Arga mau ke kamar dulu." Arga masih kepikiran dengan Atika yang bisa datang bersama bos nya itu.
"rupanya Atika sedang mengincar bos ku, dasar wanita matre!" ucapnya.
"mas aku gerah sekali!" Arga terpesona melihat Dinda dengan menggunakan lingerie, membuat jiwa laki ku bangun.
"mas Arga bisa aja,"
"ini malam pertama kita kan, boleh kah aku melakukan nya!"
"tentu saja mas, kamu suami sah ku."
Dan terjadilah malam yang panas untuk pengantin baru, akan tetapi Arga merasa kurang menikmati.
Rasanya berbeda dengan Atika sewaktu jadi pengantin baru!
"aku tergoda dengan penampilan Dinda yang **** yang bisa membangunkan jiwa lelaki ku tapi kenapa rasanya sangat berbeda sekali dengan Atika." ucapnya dalam hati .
"mas terimakasih ya sudah jadi suami aku, kamu sangat pintar sekali mas, membuat ku ingin lagi," Arga hanya tersenyum kecut, ia ingin jujur pada Dinda tapi ia takut.
***
"alhamdulilah bu, Tini sudah sadar," aku membangun kan ibu yang tertidur di kursi, ibu langsung bangun dengan wajah bahagia.
"Tini,"
"ibu," dengan suara lemah Tini.
"kamu sudah sadar nak, maafkan ibu ya!"
"ini bukan salah ibu, Tini minta maaf sama ibu karena Tini sudah menjadi anak perempuan yang pembangkang."
__ADS_1
"tidak Tin, kamu anak ibu yang baik! mari kita berkumpul bersama sama lagi." ibu dan Tini saling berpelukan, rasanya aku sangat bahagia melihat mereka berdua sudah saling memaafkan.
"Dimana Adera Tin?" tanya ibu.
"Adera ada bersama tetangga Tini bu, Tini tinggal di sini yang tak jauh dari rumah ibu."
"syukur lah kalau begitu, ibu takut kenapa napa sama Adera, lalu kamu kenapa seperti ini?"
"maafkan Tini bu, Tini mau mengejar mas dzikri suami Tini yang waktu itu bu, Tini menikah dengan nya setelah cerai dengan suami sah Tini. Tapi Tini salah memilih dia bu, ternyata dia pergi meninggalkan ku dengan wanita lain," Tini menangis di pelukan ibu, sepertinya rumah tangga adikku sedang di landa badai.
"kamu yang sabar ya Tin, sekarang ada ibu disini. Lepaskan saja laki laki yang menyakiti mu."
"iya bu," lalu aku pun menghampiri adikku dan ku peluk dia dengan kasih sayang.
"kak Atika terimakasih sudah menolong Tini, maafkan Tini ya kak,"
"iya kakak sudah memaafkan mu kok,"
Rasanya aku bahagia sekali setelah ibu dan Tini kembali seperti dulu lagi.
"bu, Atika mau menemui pak Dirga dulu ya!"
"iya Tik, ucapkan terimakasih padanya ya tik."
"iya bu."
kemudian aku menemui pak Dirga di parkiran karena ia baru saja datang.
"bagaimana dengan adik mu?"
"dia udah sadar pak, terimakasih ya pak sudah membantu ku, aku tak tahu harus dengan apa membalas kebaikan pak Dirga, tapi kalau soal pembayaran boleh kan aku mencicil nya pak,"
"tak usah di ganti saya ikhlas membantu mh,"
"aku tidak mau pak, saya akan tetap membayarnya."
"terserah kamu saja lah, kalau begitu saya mau pulang lagi karena ada urusan! besok kamu harus masuk kerja, saya sudah memberi mu cuti hari."
"baik pak besok saya kerja kembali, saya ucapkan terimakasih pak,"
"ya sama sama," lalu pak Dirga kembali pulang meninggalkan ku, aku sangat berterimakasih punya bos baik seperti pak dirga, semoga saja suatu saat aku bisa membalas ke baikan nya.
Hari ini aku akan pulang ke rumah, karena Karina di tinggal dengan tetangga samping rumah ibu, biarkan saja Tini bersama ibu di sana, aku akan kembali pulang dulu.
setelah sampai di rumah kulihat Karina menangis .
"Karina!"
"mama,, hiks hiks Karina rindu mama dan nenek, Karina ga mau sendirian lagi di sini."
"kan ada Sisil sayang, temen baik Karina."
"tapi karina kangen mama!"
"iya, iya, mama ga akan pergi lagi, tante mu sudah baikan kok, doa in tante Tini sehat ya!"
__ADS_1
"iya ma aamiin," lalu aku mengajak Karina untuk masuk.