Membalas Penghinaan

Membalas Penghinaan
Bab 14


__ADS_3

"mama," Karina memanggil ku.


"ada apa sayang?"


"Karina kangen sama ayah, kapan Karina bisa bertemu dengan ayah!" ya allah sebelum nya aku tak memikirkan ini, Karina pasti sangat merindukan mas Arga! aku harus bagaimana? mas Arga ayah kandungnya tapi aku tak bisa membawa Karina kepada mas Arga.


Sejauh ini aku tak tahu mas Arga tinggal dimana, walaupun tinggal bersama bu Ratna, aku tetap tidak tahu karena selama menikah dengan mas Arga, aku tak di izinkan ke rumah bu Ratna. Mungkin nanti di tempat kerja aku harus bertemu mas Arga untuk memberitahu dia.


"sabar ya sayang, nanti mama hubungi ayah mu,"


"iya ma," Karina tak banyak bicara lagi, lalu Karina memejamkan matanya. Ada rasa bersalah pada Karina karena aku telah memisahkan anak dengan ayahnya, akan tetapi ini semua juga gara gara mas Arga


***


Hari ini adalah hari pernikahan Arga dengan Dinda, banyak tamu undangan yang datang mengucap kan selamat kepada mereka berdua.


"akhirnya kalian sudah sah, ibu sangat senang sekali."


"iya bu, dinda juga senang sudah menjadi istri sah mas Arga." namun pikiran Arga saat ini tertuju pada Karina, ia sangat merindukan anaknya! sudah lama ia tak bertemu dengan Karina, begitu pun dengan Karina yang sangat merindukan ayahnya, memang ya ikatan anak dan ayah itu kuat.


"Arga kamu kenapa malah melamun, lihat tuh tamu undangan banyak yang datang di pernikahan kedua mu."


"iya Bu aku tahu!"


Dirga dan Atika sedang dalam perjalanan menuju rumah Arga, tadinya Tika ingin menolak namun Dirga malah memaksanya karena bagaimana pun Tika sekretarisnya, apalagi ini pernikahan karyawan nya, tentu saja sebagai seorang bos harus datang ke acaranya.


"kamu kenapa Atika dari tadi diam saja."


"aku ga apa apa kok pak, hanya ga enak hati aja."


"tenang saja aku tak menyuruh mu untuk berbohong seperti kemarin lagi, karena ini karyawan ku! ga mungkin kan kalau karyawan ku tahu tentang hubungan bohongan kita."


Aku mengerti apa maksud pak Dirga, aku tak pantas untuknya karena aku tak sederajat dengan nya.


"saya tahu pak, tapi asal bapak tahu kalau yang nikah ini mantan suami saya!" lebih baik aku jujur saja pada pak Dirga biar ga di kira aku diam karena nya.


"apa! jadi dia mantan suami mu, tapi kenapa kamu ga bilang dari awal? kan sekarang perjalanan nya sudah jauh. Ga mungkin kan kalau harus putar balik."


"lanjutkan saja pak, aku juga ingin melihat pernikahan nya."


"tapi kamu jangan nangis ya, nanti kan bikin saya malu."


"ya iya lah pak ngapain nangis, lagian aku sudah tak ada rasa lagi pada dia."

__ADS_1


"bagus lah kalau begitu, itu namanya wanita kuat." ucapnya.


Atika dan Dirga sudah sampai di resepsi pernikahan Arga.


Dari jauh Arga melihat bosnya dan juga mantan istrinya yang baru saja keluar dari mobil begitu juga dengan bu Ratna yang terkejut melihat Atika turun dari mobil mewah bersama pria tampan.


"Atika? benarkah itu dia!" bu ratna masih tidak percaya dengan penglihatan nya.


"selamat ya Arga dan istri, maaf kami telat" pak Dirga mengucapkan selamat pada Arga, lalu ia memberikan kode pada ku untuk mengucapkan selamat pada mas Arga.


"selamat ya mas, semoga bahagia selalu," ucap ku, ada rasa sakit di dada ku melihat mas Arga yang menikah lagi secepat ini. Namun bukan karena cemburu tapi aku memikirkan Karina bagaimana untuk bisa bertemu dengan ayahnya sedangkan ayah nya sudah menikah lagi, belum tentu kan ibu tiri bisa menyayangi anak nya.


"terimakasih Tik," ucap mas arga


Akan tetapi Bu Ratna malah mempermalukan ku pada Dirga.


"maaf ya pak Dirga, Atika ini dulunya menantu saya tapi dia sudah cerai dengan anak saya. Itu karena dia terlalu matre sampai anak saya rela berpisah dengan nya."


"oh begitu ya bu!" pak Dirga tak menanggapi ucapan Bu Ratna, ia hanya tersenyum tapi hati ku tak enak pada pa Dirga.


"pak pulang yuk, aku tak bisa lama lama disini!" ucap ku.


"ya sudah ayo!"


"heh Atika kok bisa bisanya kamu deketin bosnya Arga, ga bakalan mau dia dengan mu apalagi kamu yang jelek kaya gini, lihat tuh calon mantu saya sangat cantik dan anggun kan.


Aku tak menanggapi perkataan nya lalu aku langsung masuk ke dalam mobil pak Dirga sepertinya bu Ratna sangat kesal pada.


"kamu ga sedih melihat mantan suami mu yang bersanding dengan wanita lain di sana "


"ngapain harus sedih pak, lagian saya sudah tak ada rasa pada mantan suami saya."


"kok secepat itu kamu bisa melupakan nya? aku aja yang sudah 1 tahun masih belum bisa melupakan nya."


"jadi pak dirga sudah menikah?"


"menurut mu bagaimana!"


"kirain aku masih single pak!" ucap ku karena memang pak Dirga masih kelihatan tampan walaupun usianya sudah 35 tahun.


"kalau saya single, kamu mau naksir saya ya?" ledek nya.


"ya ga gitu lah pak, aku masih belum ingin pacaran apalagi sampai nikah, ini karena aku masih trauma."

__ADS_1


"em gitu ya!" tak terasa sepanjang jalan mengobrol dengan Dirga membuatnya nyaman.


"pak kok mobilnya masib belum maju ya?"


"sepertinya ada kecelakaan di depan,"


"masa sih pak? kasian dong korban nya.


"ya namanya juga takdir," ucapnya.


Sudah satu jam kami terjebak macet, lalu aku meminta turun untuk berjalan kaki.


"ya sudah kamu tunggu di depan sana Atika !"


"baik pak!" aku pun turun dan aku pun penasaran dengan orang yang kecelakaan di depan.


Aku seperti mengenalnya, astagfirullah dia Tini, aku langsung menangis histeris melihat Tini yang bercucuran darah.


"pak Dirga tolong saya!"


"kamu kenapa Tika?"


"dia adik saya, tolong bawa saya ke rumah sakit sekarang juga."


"baiklah."


Akhirnya pak Dirga dengan gercep menolong Tini, kalau telat sedikit ini akan membuat Tini tak terselamatkan.


"terimakasih pak sudah nolong adik saya ."


"sama sama, kamu yang sabar ya,"


Aku harus memberitahu ibu bagaimana, ibu pasti syok mendengarnya, aku taku ibu merasa bersalah pada Tini. Ini akan membuat perasaan ibu sakit hati.


Aku dan mas dirga masih menunggu dokter, namun masih lama karena dokternya sedang ada jadwal operasi.


"aku takut adikku kenapa napa pak?"


"tenang saja, dia akan baik baik saja, percaya lah padaku."


"terimakasih pak, mungkin besok aku minta cuti untuk merawat adikku."


"tenang saja, aku akan mengizinkan mu Atika." ucapnya.

__ADS_1


Aku menelpon ibu dan menjelaskan apa yang terjadi pada Tini, namun ibu sepertinya pingsan setelah mendengar kabar ini dan aku mendengar tangisan Karina pada nenek nya.


__ADS_2