
Pagi yang bahagia bagi pasangan Dirga dan Atika begitu juga dengan keluarganya, mereka sarapan bersama dengan canda tawa apalagi Karina yang selalu membuat suasana semakin rame.
"Mas ini kamu yang masak."
"Iya dong, enak ya masakan mas."
"Ini kaya masakan di restoran gitu kak." ujar Tini dengan mulut yang penuh makanan.
"Tini kalau mau bicara tuh makanan nya di makan dulu, ga baik berbicara dengan makanan yang penuh di mulut."
"Hehe iya bu maaf, lagian Tini baru ngerasain makanan buatan kak Dirga seenak ini."
Udang asam manis kesukaan Tini begitu juga dengan Alena mereka berdua sangat lahap sekali membuat Dirga bahagia. Namun tidak dengan Atika ia ingin mengeluarkan makanan di perutnya, Atika pun berlari ke wastafel membuat semua orang khawatir.
"Atika kamu kenapa?" Dirga mengikuti Atika dari belakang lalu ia memijit tengkuk Atika.
"Mas kesana, jangan liatin aku nanti kamu jijik."
"Tidak apa apa, aku kasian melihat kamu kaya gini."
"Aku gak apa apa kok mas, kamu lanjut makan aja. Aku mau ke kamar dulu bentar untuk ngambil minyak angin."
"Ya sudah mas sarapan dulu ya." Atika pun menganggukkan kepalanya tanda nya ia mengiyakan apa kata Dirga.
"Papa,, kenapa dengan mama."
"Em mungkin mama mu masuk angin."
"Apa jangan jangan kak Atika hamil." Sambung Tini.
"Tidak mungkin Tin, kakak kan gak bisa memberinya anak."
"Padahal Karina pengen adek bayi juga pa." ucapan Karina membuat Dirga sakit hati, bagaimana jika ia seperti dulu di caci maki oleh keluarga istrinya.
"Suts Karina jangan bicara begitu ya." ujar neneknya.
"Maafkan Karina, dia masih polos belum tau apa apa." lanjutnya lagi.
"Iya bu tak apa apa, Dirga juga mengerti dia kan masih anak kecil." Dirga tau dengan sikap ibunya Atika yang baik hati tak pernah mempermasalahkan apapun tentangnya, tapi ia tak enak hati pada anak angkatnya. Ia takut suatu saat nanti Atika menginginkan anak juga.
"Aku mau menemui Atika dulu ya." ujar Dirga yang sudah selesai dengan sarapan nya lalu ia kembali ke kamar nya untuk menemui Atika.
Atika yang sedang meringkuk di tempat tidur dengan memegang perutnya yang mungkin terasa di aduk aduk.
__ADS_1
"Sayang kamu masih sakit."
"Sedikit mas, aku hanya mau istirahat sebentar."
"Mas mau berangkat kerja dulu ya, nanti sore mas mau antar kamu berobat."
"Iya mas hati hati dijalan ya," Dirga pun mengecup keningnya lalu ia pergi untuk ke kantor.
***
Arga yang masih menunggu di bengkel memperbaiki ban motornya yang tiba tiba kempes membuatnya kesal dan ingin marah.
"Udah belum bang nambal nya, udah siang nih saya mau ke kantor."
"Maaf mas, ini harus ganti ban dalam nya."
"Ah sial." Arga sama sekali tak bawa uang lebih, ia hanya mengantongi uang 30 ribu untuk makan siang.
"Gimana dong bang saya ga bawa uang."
"Kalau gitu saya juga ga bisa bantu bapak."
"Ya sudah kalau gitu saya titip motornya di sini ya, nanti adek saya yang ngambil." kemudian Arga menumpangi angkutan umum menuju kantornya.
Dengan pakaian rapih dan membawa tasnya juga memakai sepatu membuat orang yang ada di mobil melirik Arga.
"Iya bu, kendaraan saya bermasalah."
"Oh begitu, biasa kan kalau kerja di kantor orang kaya semua pak. Kendaraan pun ga mungkin cuma satu." Arga tak menjawabnya lagu, ia langsung turun di depan kantor dan membayarnya pada pak sopir. Baru kali ini ia berangkat kerja naik angkutan umum dengan banyak pertanyaan dari penumpang lain membuatnya tidak nyaman.
"Murah sih ongkos nya, tapi aku tak nyaman." ucapnya dalam hati.
***
"Atika, mas sudah panggil kan dokter Erina kerumah karena mas ga bisa pulang siang." ujar nya di telpon.
"Kenapa repot repot mas, aku kan bisa pergi sendiri."
"Kamu lagi sakit Atika, aku ga mau kamu pingsan di jalan nanti."
"Iya iya mas terimakasih ya."
Setelah menutup telpon nya, ada tamu yang datang dengan pakaian seperti dokter mungkin itu dokter Erina yang di suruh Dirga.
__ADS_1
"Permisi, kenalkan saya Erina diperintahkan pak Dirga untik kesini."
"Iya dok silahkan masuk."
"ini ibu Atika istrinya pak Dirga ya."
"Iya dok."
"Kalau begitu bisakah saya memeriksanya sekarang."
"Silahkan dok." Atika pun berbaring di tempat tidurnya.
"Kapan terakhir ibu Atika datang bulan?"
"Tiga minggu yang lalu dok."
Dokrer Erina pun mengangguk mengiyakan.
"Sekarang ibu tespack dulu ya, biar tau hasilnya." Alena pun mengambil tespack itu lalu ia memasuki toilet.
Setelah 5 menit Alena keluar dengan tespack di tangan nya.
"Boleh saya lihat hasilnya."
"Ini bu," Atika susah tau hasilnya positif karena ia sudah punya firasat bahwa ia hamil namun ia masih kepikiran dengan mas Dirga yang katanya mandul.
"Selamat ya ibu Atika positif sudah menginjak 4 minggu, nanti ibu biaa periksa ke klinik saya lewat usg biar lebih jelas ya "
"Iya dok terimakasih sebelumnya."
"Saya permisi dulu"
Atika memandangi hasil tespack nya, ia masih tidak percaya dengan semua ini. Ia harus senang atau sedih karena di sisi lain ia bingung dengan suaminya yang mandul tapi bisa membuatnya hamil.
Dirga sudah mendapatkan informasi dari dokter Erina bahwa ia sudah memeriksa istrinya, dokter Erina juga memberi tau Dirga bahwa Alena hamil membuatnya terkejut karena selama ini Dirga di vonis mandul oleh dokter.
Arga yang sedang di ruangan Dirga ia mendengar semua percakapannya dengan dokter.
"Selamat ya pak Dirga mau punya calon bayik." ucap Arga
"Tapi katanya bapak mandul ya, ko bisa istri bapak hamil. Apa dia tidak bermain-main dengan pria lain." Sambungnya.
Dirga pun langsung kepikiran dengan ucapan Arga, apa yang di ucapkan Arga memang benar adanya, bagaimana mungkin Atika hamil jika ia saja di vonis mandul. Dirga menahan amarah nya ia tetap pada hatinya, tak mungkin Alena mengkhianatinya, ia percaya Alena wanita baik yang bisa menjaga kehormatan nya pada pria lain. Tapi di sisi lain juga ia bingung dengan hasil pemeriksaan Alena yang positif hamil.
__ADS_1
"Saya permisi dulu pak," ujar Arga.
"Rupanya Atika wanita murahan, mana bisa ia hamil sedangkan pak Dirga mandul. Jadi selama ini ia sering bermain juga dengan pria lain, pantas saja ia terlihat cantik dan sexy mungkin tubuhnya untuk menggoda pria lain. Atika dengan Dinda sama saja ia memang murahan. Aku senang jika Atika diceraikan lagi oleh suaminya, biar dia menyesal telah bercerai dengan ku dan ia pasti ingin kembali padaku." ucap Arga dalam hatinya.