
Arga baru saja pulang dari rumah Dinda, ia sudah memberikan mahar pada Dinda dan akan secepatnya melaksanakan pernikahan keduanya.
"Mas terimakasih kasih ya sudah meminang ku," ucap Dinda.
"Iya Din semoga saja rumah tangga kita sampai jannah,"
"aamiin mas, aku ga nyangka bisa berjodoh dengan mu mas! karena ku kira kamu akan selamanya dengan istri mu itu!"
"nyatanya pernikahan ku ga lama Din, dia istri yang boros! tiap hari selalu saja minta duit!" ucapnya, Arga selalu menjelekkan Atika pada Dinda dan ini membuat Dinda berfikir kalau Arga suami yang pelit.
"kalau aku sudah nikah dengan nya, aku tak mau di perlakukan seperti mantan istrinya! enak aja kalau mas Arga menyuruhku beres beres rumah kaya babu, pokonya aku harus di manjain sama dia!" ucap Dinda dalam hatinya.
"wah ini calon pengantin sudah dari mana." ucap bu Ratna.
"Arga udah jalan jalan keliling kampung ini bersama Dinda bu,"
"Iya bu kami sudah memberitahu pada semua orang bahwa kami akan menikah 2 hari lagi!" sambung Dinda.
"bagus dong, akhirnya ibu punya menantu seperti kamu Din, cocok sama Arga karena sederajat."
"Hehe iya doakan kami semoga bahagia selalu," ucap Dinda.
"iya dong sayang, ya sudah ayo masuk biar ibu bikin kan minuman spesial buat menantu ibu yang cantik ini." mereka semua tertawa bahagia, belum tahu ke depan nya seperti apa? karena Dinda tak seperti Atika, dia wanita malam yang selalu keluyuran.
***
"Bu Atika berangkat kerja dulu ya, soalnya tadi di telpon pak Dirga di suruh berangkat pagi pagi."
"Hati hati di jalan Tik, jangan lupa berdoa dulu ya."
"Iya bu," sebelum berangkat aku sudah mendandani Karina yang mau sekolah, walaupun hari ini aku kerja, aku tak melupakan kewajiban ku pada anak ku. Aku mencium nya dan memberi perhatian padanya lalu aku pamit pada ibu dan juga Karina.
"dah mama,, hati hati di jalan ya ma,, Karina bakalan rindu mama." ocehan Karina membuatku semangat untuk bekerja.
Aku berangkat dengan tukang ojek yang biasa ada di pangkalan, kalau naik angkutan umum bisa membuatku terlambat.
Setengah jam kemudian aku sudah sampai di perusahaan tempat ku bekerja, alhamdulilah karena tidak terjebak macet jadi aku lebih cepat sampai. Lalu aku memasuki ruangan pak Dirga namun aku terkejut kenapa pak Dirga sudah stay di kursinya.
"pagi pak," ucap ku.
__ADS_1
"baru pertama kerja sudah terlambat."
"maaf pak bukanya masuk kerja jam 8, tapi ini baru jam 7 pak."
"sebagai sekertaris itu berbeda dengan karyawan lain nya, kamu harus cepat dari yang lain."
"oh iya pak saya minta maaf, lain kali saya berangkat lebih pagi lagi karena rumah saya ke sini cukup jauh."
"ya sudah tolong salin semua ini, kamu bisa menggunakan laptop kam, jangan bilang kamu tidak bisa!" ucapnya.
"saya bisa kok pak, karena dulu saya pernah belajar di bagian komputer."
"bagus kalau begitu ga akan merepotkan saya, tolong secepatnya salin semua ini ya!"
"baik pak." Atika mulai fokus dengan layar laptopnya, ia wanita yang pintar dan cerdas hanya saja ia bukan lulusan sarjana tapi itu semua bukan halangan bagi dia yang hanya tamatan SMP.
"ini pak sudah selesai" ucap ku.
"cepat sekali, awas saja kalau ada yang salah."
"Bapak bisa mengecek nya kok,"
"permisi pak Dirga," ucap bawahan nya.
"ya ada apa?"
"begini pak, Arga Winata bagian manager keuangan mau meminta cuti untuk pernikahan nya."
Seketika aku menghentikan jari jari ku, aku mendengar nama mantan suami ku, apa mas Arga juga bekerja di sini? tapi aku mendengar ia akan minta cuti menikah? ternyata dia menikah secepat itu tanpa memberi tahu Karina.
"suruh dianya datang ke ruangan ku sekarang."
"Baik pak," mas Arga akan kesini, aku harus bagaimana? apa aku harus sembunyi tapi kan ini di kantor, aku harus tetap profesional menghadapinya.
"permisi tuan, apa anda memanggil saya," ku dengar suaranya mas Arga, ternyata benar selama ini mas Arga kerja di sini.
"kamu meminta cuti untuk menikah?" tanya pak Dirga.
"iya pak 2 hari lagi saya mau menikah."
__ADS_1
"tapi saya ga bisa kasih kamu cuti lama, paling cuma 3 hari."
"ga apa apa pak, yang penting saya di kasih cuti." aku menatap mas Arga, ternyata jika berbicara dengan orang lain mas Arga sangat sopan, ia terlihat seperti pria yang kalem.
"kalau begitu ini surat cutinya, silahkan kunjungi sekertaris saya untuk menandatangani surat ini." jantung ku berdebar, mas Arga berjalan ke arah ku.
"Atika?" ucap mas Arga yang terkejut melihat ku berada disini.
"silahkan duduk pak, ada yang bisa saya bantu." Arga masih menatap ku dengan tatapan tak percaya, lalu Arga memberikan kertasnya padaku. Aku langsung menandatangani kertas itu dan memberi cap di sana.
Setelah selesai mas Arga langsung pergi dari meja kerja ku tanpa pamit dan juga mengatakan sesuatu, mungkin dia masih syok dengan adanya aku di sini.
***
POV Arga
aku tak menyangka Atika bisa bekerja di sini, sejak kapan ia ada di sini kenapa bisa ia menjadi sekertaris pak Dirga padahal ia hanya tamatan SMP, penampilan nya pun masih sama seperti dulu hanya saja ia menggunakan baju kasual yang bersih dan rapih ia jadi terlihat berkelas berbeda waktu masih di rumah ku ia selalu menggunakan daster kucel nya.
Ah ini jadi membuat ku memikirkan nya, kenapa bisa dengan dia yang di bawah ku bisa menjadi sekertaris, aku tak percaya ini.
Lalu anak ku dengan siapa jika dia bekerja di sini?
***
"Atika tolong buatkan kopi tanpa gula," ada ada saja pak Dirga ini kenapa suka kopi yang tanpa gula?
"baik pak," aku segera menuju ke office girl untuk membuatnya dan juga menanyakan takaran kopinya pada mereka di bagian office girl.
"mbak sekertaris baru ya."
"Iya mbak,"
"namanya siapa mbak?" tanya Dini karyawan office girl.
"saya Atika panggil saja Tika,"
"saya Dini mbak, salam kenal ya! oh iya mbak semoga betah ya kerja sama pak Dirga soalnya mbak sekertaris yang kesekian." apakah benar aku sekertaris yang kesekian tapi kenapa? menurutku pak Dirga baik hati, memang agak dingin sih dan cuek, tapi aku harus bisa menyikapinya karena aku sudah biasa dengan manusia bersikap seperti itu, pak Dirga menurutku baik di banding dengan sikap mertua dan mantan suami ku dulu, jadi aku tak terlalu bawa perasaan.
hai kak jangan lupa like dan komentar nya .
__ADS_1