
"Alhamdulilah Tik mulai sekarang ibu bisa usaha kecil kecilan,"
"Tapi bagaimana dengan Adera Bu? Tika juga ga bisa di sini lama lama karena Karina harus sekolah." ucap ku.
"Ibu mau bayar pengasuh aja buat Adera, pasti banyak yang mau soalnya di sini banyak yang nganggur Tik."
"Oh iya Bu, kalau itu sih terserah ibu, Atika takut ibu kerepotan." Aku sangat mengkhawatirkan ibu, aku takut ibu semakin kurus karena terlalu kecapean.
"Ibu mau juga sudah pesan meja di depan sama bang Rohman, besok ibu mau mulai buat kue bolu sama nasi uduk. Semoga banyak yang suka."
"Aamiin Bu, tapi maaf Tika harus pulang sore ini Bu. Tika ga bisa bantuin ibu."
"Ga apa apa Tik jangan pikirkan ibu, ibu bisa minta bantuan orang lain, ibu juga ingin memperkerjakan mereka, biar mereka juga dapat penghasilan dari ibu."
"Ibu hebat! semoga usahanya lancar ya Bu," aku terharu pada ibu walaupun sudah tua ibu masih tetap semangat, semoga ibu sehat selalu.
"Ini buat kamu Tik," ibu menyodorkan uang beberapa lembar pada ku.
"Ini untuk apa Bu?"
"Ini buat kamu Tik, buat jajan Karina di sana."
"Tapi ini kebanyakan Bu," jujur aku baru pegang uang segini, ini bagiku sangat banyak sekali.
"Ini untuk mu 5 juta Tik, kau bisa gunakan untuk usaha kecil kecil an juga."
"Tapi Bu!"
"Ambil saja Tik, ibu ikhlas kok,"
"Terimakasih ya Bu." aku malu sekali di kasih uang oleh ibu, rasanya ingin ku tolak tapi ibu memaksa ku, ya sudah aku menerimanya. Akan ku simpan uang ini dengan baik.
***
"Arga kamu jangan pulang, lebih baik kamu tinggal di sini aja sama ibu," ucap Bu Ratna.
"Tidak bisa Bu, Arga kan harus kerja."
__ADS_1
"Tapi kamu harus menempati janji mu untuk menceraikan Atika,"
"Iya Bu sepulang dari sini aku akan menyampaikan nya."
"Tapi ibu kurang percaya pada mu, kalau begitu ibu mau ikut saja dengan mu Arga, ibu yang akan bicara pada Atika."
"Terserah ibu saja lah," kemudian Bu Ratna siap siap mengambil tas nya, ia akan kembali pada anak nya.
"Ayo Arga kita pulang ke rumah mu sekarang, sebelum istri mu pulang juga, ibu ingin memberi pelajaran pada Atika."
"Iya iya Bu ayok." Kemudian Arga mengendarai sepeda motornya, tidak terlalu jauh dari rumah Bu Ratna sampai rumah Arga hanya menempuh waktu setengah jam saja.
"Tuh kan istri mu belum pulang Arga, dia sangat tidak mempedulikan mu. Kau harus menceraikan Atika sekarang juga Arga."
"Tapi Bu gimana dengan Karina, aku tak ingin berpisah dengan nya."
"Ya gampang kalau soal Karina, kita ambil saja dia! Karina tak boleh ikut dengan Atika karena ia tidak becus cari uang, ibu takut Karina tidak di beri makan."
"Ibu benar juga, aku harus mengambil Karina dari dia, sudah sejak lama Arga sudah tidak mencintai Atika Bu, jujur Atika sudah tidak ada pesona nya tapi Arga memikirkan Karina jadi sampai saat ini Arga masih bertahan."
"Iya Bu, Dinda masih mengharapkan ku, aku tak tahu kenapa Dinda masih mencintai aku."
"Sudah lah pokonya kamu harus secepatnya ceraikan Atika.
Atika baru saja sampai, sebelum masuk kedalam rumah. Atika mampir dulu ke warung Bu Rini untuk membayar hutang yang kemarin.
"Assalamualaikum Bu,"
"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang Tik,"
"Sudah Bu, oh iya Tika kesini mau bayar utang yang kemarin Bu! sisanya berapa lagi?"
"40 ribu lagi Tik, memang nya kamu sudah ada uang nya tik?"
"Ada kok Bu, aku lunasin semuanya ya bu! terimakasih sudah meminjamkan uang pada ku."
"Iya Tik sama sama! oh iya itu di rumah mu ada ibu mertua mu tik baru saja ia juga datang!" kata Bu Rini.
__ADS_1
"Yang benar Bu,"
"Benar kok Tik, sepertinya suami mu juga menginap ke rumah ibunya." Jadi mas Arga juga menginap di rumah ibunya, mas Arga memang tidak pernah mencari ku, ia juga tak pernah peduli pada ku. Mau bagaimana pun aku, mau aku pergi jauh pun ia tak pernah peduli. Dari semenjak menikah dengan nya, mas Arga tak pernah berkunjung kerumah ibu ku.
Ku langkahkan kaki ku menuju rumah mas Arga dan ku genggam tangan Karina untuk menuju ke sana, namun perasaan ku tak enak! ada apa ini?
"Assalamualaikum," aku mengetuk pintu rumah mas Arga, tak lama kemudian pintu itu terbuka dan menunjukkan wajah ibu mertua ku dengan tatapan tajam pada ku.
"Ibu ada disini!" ucap ku.
"Ya iya lah, ini kan rumah saya dan Arga. Kamu ngapain kesini lagi, bukan nya diam di sana."
"Tika hanya nginap 2 hari kok Bu, soalnya besok Karina masuk sekolah," aku langsung masuk saja ke dalam rumah karena takut ada tetangga yang mendengar omelan ibu mertua ku.
"Heh Tika kamu tuh mikir ga sih, bukannya melayani suami mu! kamu malah keluyuran."
"Maaf Bu, sudah lama Atika tak mengunjungi rumah ibu jadi Atika menginap kesana dan maaf Atika tidak izin dulu karena waktu kemarin mas Arga tidak ada di rumah.
"Alasan aja kamu!" Ketusnya, kemudian mas Arga keluar dari kamar mandi, ia baru saja selesai mandi tanpa melirik dan bertanya kepada ku, mas Arga benar benar tak peduli.
"Karina kamu masuk ke kamar dulu ya nak,"
"Iya ma," Karina benar benar anak yang penurut, aku sengaja menyuruhnya masuk karena takut Karina mendengar omelan neneknya.
"Istri macam apa kamu ini atika? berani berani nya pergi tanpa pamit."
"Maafkan Atika Bu, lain kali Atika tak akan mengulanginya lagi."
"Cih udah mah ga becus cari duit, boros, kucel lagi, bisa bisanya masih jadi istri Arga." Mulut ibu benar benar keterlaluan, aku begini juga karena kekurangan uang, kalau mas Arga memberi ku uang yang cukup mungkin aku akan mempercantik diri.
"Maaf Bu, Atika juga bisa mempercantik diri kalau mas Arga memberi Atika uang yang cukup."
"Bisa bisanya kamu menyalahkan ku Tika, walaupun kamu di beri uang banyak tetap saja ga akan pernah cantik," ucap mas Arga yang baru saja keluar dari kamar.
"Mas aku juga bisa merawat diri seperti orang orang, tapi karena mas Arga kurang duit jadi efek nya kena aku, harusnya mas Arga juga berpikir kenapa aku bisa begini."
"Kau melawan ku Tika hah, buat apa aku memberi mu uang sedangkan kamu anak orang lain dan hanya dari keluarga miskin." Mas Arga benar benar menghina ku, ia tak pernah peduli terhadap perasaan ku.
__ADS_1