
Alhamdulilah aku sudah dijalan raya, dan aku menghentikan angkutan umum untuk menuju ke rumah ibu.
"Ma kenapa ayah mengusir mama?" tanya Karina, seperti nya ia mengerti apa yang terjadi padaku.
"Tidak apa apa ko sayang, mungkin lagi sedikit kesal sama mama! kamu jangan pikirin tentang kejadian kemarin ya."
"Iya ma," Karina tidak bertanya lagi, akhirnya aku lega. Semoga tidak mengganggu mental Karina dengan kejadian kemarin.
Air mata ku tiba tiba saja menetes, aku langsung mengusapnya tak ingin Karina tahu atas masalahku.
Setelah setengah jam di perjalanan akhirnya aku sudah sampai di rumah ibu.
Ada rasa bahagia bisa tinggal bersama ibu lagi, namun ada rasa sedih juga pernikahan ku kandas.
"Assalamualaikum." ucapku, aku melihat ibu yang sedang sibuk membungkus makanan untuk pembeli, aku pun terharu ternyata dagangan ibu laris manis.
"Atika," ibu melihatku bingung karena aku membawa sebuah tas besar yang membuat ibu bertanya tanya?
"Ibu," air mata ku luruh, aku langsung melepaskan tas ku dan memeluk ibu.
"Ada apa Tik? apa yang terjadi pada mu."
"Ibu nanti aku ceritakan di dalam,"
"Ya sudah ayo masuk Tik." kemudian aku masuk kerumah ibu, sementara ibu menutup dagangan nya dulu.
"Kamu kenapa Tik, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ibu,,, aku di talak mas Arga."
"Astagfirullah kenapa? bukanya kalian baik baik aja Tik."
"Sebenarnya rumah tangga Tika sedang bermasalah Bu, maafkan Tika tidak menceritakan soal ini pada ibu."
"Sebenarnya apa permasalahan mu itu? sampai kamu di usir oleh suami mu."
"Mas Arga sudah tak mencintaiku lagi bu, dia bilang aku sudah tak menarik lagi di mata mas Arga. Bagaimana aku mau mempercantik diri? sedangkan uang dari mas Arga saja hanya di beri 10 ribu perhari."
"Ya Allah kenapa Arga setega itu pada mu Tik, kamu yang sabar ya." lalu ibu memeluk ku dan menguatkan ku.
Terimakasih ibu sudah mengerti ke adaan ku, aku bersyukur masih ada ibu di sisi ku.
"Ya sudah sekarang bereskan dulu baju baju mu, tempat tidur mu berada di sana,"
"Terimakasih Bu masih mau menerima ku disini."
__ADS_1
"Apa yang kamu bicarakan Tik, kamu anak ibu dan ini rumah kita, tinggallah disini mari kita berjuang bersama sama."
"Ya Bu," aku langsung memeluk ibu dengan air mata yang mengalir di pipi ku.
"Sudah jangan menangis lagi, ini takdir dari yang maha kuasa semoga kita kuat menjalani nya lagi."
"Aamiin Bu."
***
Setelah Arga mengantar ibunya ke kampung, ia langsung menuju ke sekolahan Karina.
"Permisi pak, lihat anak saya ga?"
"Anak bapa yang namanya karina?"
"Iya pak, apa melihat dia?"
"Maaf pak tadi Karina sudah pulang di jemput mama nya."
"Apa,"
Arga tak percaya ternyata Atika masih belum pergi, tapi kemana ia semalam? membuat Arga bertanya tanya dengan pikiran nya.
"Lebih baik aku kembali lagi ke rumah ibu, aku harus memberi tahu ibu."
"Wanita sialan itu berani berani nya mengambil anak ku, mau di kasih makan apa Karina cari kerja saja ia tak becus apalagi hanya tamatan SMP," ucapnya dalam hati dengan perasaan kesal.
"Arga? kenapa kamu balik lagi kesini." tanya Bu Ratna.
"Karina di bawa sama Atika bu, ternyata Atika semalam belum pergi."
"Ah wanita miskin itu berani berani nya membawa cucu ku."
"Bagaimana ini Bu?" Arga terus mondar mandir ga jelas, ia berpikir harus bagaimana.
"Ya sudah Arga biarkan saja, ibu yakin Atika pasti menyayangi Karina, ia tak mungkin membiarkan Karina kelaparan." Bu Ratna memastikan Arga tak mengkhawatirkan Karina karena tujuannya sekarang adalah menikah dengan Dinda anak pak kades.
"Ibu benar juga, apa aku tak perlu mencarinya."
"Biarkan saja, sekarang kamu fokus pada Dinda saja. Kamu harus secepatnya menikah dengan Dinda, dia pantas untuk mu dan juga dia sederajat dengan mu Arga."
"Ya ibu benar! jadi sekarang Arga tak akan mencari Karina lagi biarkan dia bersama Atika."
Kalau begitu Arga mau pulang Bu? besok Arga harus kerja."
__ADS_1
"Ya sudah pulanglah, kerja yang rajin buat halalkan Dinda."
"Iya bu," tanpa rasa capek Arga kembali lagi menuju kampungnya dengan mengendarai sepeda motornya.
***
"Karina ayo makan dulu sayang,"
"Iya nek."
"Kamu cicipin masakan nenek ya, ini enak loh,"
"Iya nek ini enak sekali, Karina sangat menyukai masakan nenek hehe,"
"Gemes sekali cucu nenek ini," aku bahagia melihat ibu dan Karina, ibu benar benar sangat penyayang pada cucunya, ya allah semoga ibu ku sehat selalu.
Kemudian aku menghampiri Karina dan juga ibu.
"Ibu lagi apa!"
"Ibu lagi suapin Karina, ibu senang ternyata anak mu ini sangat lahap."
"Iya bu, Karina tak pernah memilih makanan."
"Pintar sekali anak mu ini."
"Oh iya bu, Adera mana?"
"Adera sedang di asuh sama Bu Retno tetangga sebelah ibu,"
"Alhamdulilah kalau gitu ibu tidak terlalu kecapean,"
"Iya Tik, ayo makan dulu kamu pasti lapar."
Masakan ibu sangat enak, ini membuatku rindu pada ayah yang setiap hari makan bersama di meja makan begitupun dengan adikku Tini, aku merindukan nya sampai sekarang aku belum bertemu Tini.
Setelah selesai makan, aku langsung membantu ibu membuat kue untuk pesanan ke tempat kerja, aku senang melihat ibu dengan wajah yang bahagia, ibu masih semangat sampai saat ini. Aku harus belajar dari ibu bagaimana caranya kuat dan tegar menerima cobaan. Aku hanya bercerai dengan mas Arga, tapi ibu berpisah beda alam dengan bapa pasti rasanya lebih sakit hati ibu, pokonya aku harus bisa menunjukan pada mantan suami ku bahwa aku bisa sukses.
***
Rumah Arga sangat sepi, biasanya Atika selalu menyiapkan makanan untuk Arga namun mulai hari ini Arga harus bisa masak sendiri begitupun dengan mencuci baju, Arga melakukan nya sendiri.
"Kenapa sangat capek sekali mengerjakan pekerjaan rumah, tapi Atika setiap hari bisa mengerjakan ini semua sambil menjemput sekolah Karina, apa ia tidak capek setiap hari seperti ini. Kenapa aku jadi mikirin Atika sih, sekarang aku bebas tidak usah memberi uang untuk Atika ku lagi, ia sudah bukan istriku lagi. Jadi uangnya bisa buat makan siang di tempat kerja ku."
Arga langsung merebahkan badan nya, akan tetapi setelah semuanya beres tetap saja rumah Arga masih berantakan.
__ADS_1
"Bodo amat lah rumah berantakan, yang penting sekarang aku tidur saja, karena ke depan nya aku harus membahagiakan Dinda calon istri ku."
Lalu Arga memejamkan matanya, ia tidur dengan nyenyak sekali. Tak ada beban di pikiran nya setelah kepergian Atika, ia benar benar pria yang tidak peduli pada istrinya.