Membalas Penghinaan

Membalas Penghinaan
Bab 9


__ADS_3

Alhamdulilah dagangan ibu hari ini laris manis dan aku pun menambahkan beberapa menu seperti cemilan dan kripik.


Hari ini juga Karina tidak masuk sekolah karena sekolahnya berada di kampung mas Arga, jadi aku berniat akan berpindah sekolah Karina di sini.


"Permisi," ucap seseorang yang menghampiriku.


"Ah iya mbak ada apa?"


"Begini mbak saya mau pesan bolu kukus nya buat hajatan, apakah bisa?"


"Tentu saja bisa mbak, memangnya untuk hari kapan?"


"Sekitar tiga hari lagi mbak, ini saya mau bayar separonya dulu!"


"Boleh mbak, namanya siapa ya biar saya catat!"


"Mbak Narti!" ucapnya.


"Baik mbak sebelumnya terimakasih ya,"


alhamdulilah pesanan untuk ibu semakin banyak, ke depan nya pasti akan lebih sibuk lagi! aku harus mencari karyawan untuk bantu ibu.


"Atika bagaimana? apakah ada orang kesini?" ucap ibu yang membawa cemilan pada ku, ibu ku sangat terbantu setelah aku disini, ibu sebagai pembuat menu nya dan aku yang penjaga warung nya.


"Ya ada bu, ibu mendapat pesanan lagi."


"Alhamdulilah Tik, akhir akhir ini ibu jadi makin sibuk,"


"Iya bu kayanya kita harus cari karyawan deh bu."


"Iya Tik, kayanya tetangga kita juga banyak yang mau."


Aku sedang asyik mengobrol dengan ibu, namun tiba tiba aku melihat seorang wanita yang ku kenal selama hidup ku.


"Tini," ucapku.


"Assalamualaikum Bu, mbak!" namun ibu tak menjawab salam dari Tini, ibu pergi kedalam tanpa mempedulikan Tini mungkin ibu sakit hati dengan kelakuan Tini.


"Mbak, aku pulang! mbak apa kabar." Tini langsung memeluk ku dengan tangisan kecil yang terdengar di telinga ku.


"Mbak baik kok Tin, kamu kenapa menangis?"

__ADS_1


"Mbak maafkan Tini, ibu pasti membenci Tini."


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mu?"


"Apa ibu tak menceritakan soal aku mbak?"


"Mbak sudah tahu semuanya Tin," Jujur saja aku pun kecewa pada Tini apalagi dengan ibu, ibu pasti butuh waktu untuk memaafkan Tini. Rasanya aku ingin menceramahi Tini sekarang juga tapi aku ingat sekarang banyak orang di sekitar ku, sampai ada tetangga yang mencaci maki Tini.


"Mbak kok ga punya malu ya, sudah kabur malah balik lagi kesini? di campakkan sama suaminya ya mbak," kata tetangga yang sedang membeli dagangan ku, namun aku melihat Tini biasa biasa saja mungkin ini sudah jadi makanan sehari hari untuk Tini.


Setelah pelanggan sepi aku langsung menutup ya lalu aku mengajak Tini ke dalam rumah, karena sedari tadi Tini diam saja di dekat ku, ia takut pada ibu rupanya.


"Duduk lah Tin, aku mau menemui ibu dulu."


"Iya mbak." aku menuju kamar ibu, terlihat ibu sedang menangis! apakah hati ibu sesakit ini dengan kelakuan anaknya.


Kemudian aku menghampiri ibu.


"Ibu ada Tini di ruang tamu,"


"Suruh dia pergi saja Tik, untuk apa ia kesini lagi? jika ia ingin mengambil anak nya maka ambil saja Adera di rumah tetangga.


"Ia bu Atika ngerti, tapi Atika kasihan melihat Tini."


"Ibu mana bu?: ucap Tini.


"Ibu sedang tidak ingin bertemu dengan mu dulu Tin,"


"Mbak aku benar benar minta maaf pada ibu."


"Sudahlah Tin, ibu mu masih ingin menyendiri, sebenarnya kamu kenapa?"ucap ku.


"Kak aku salah sudah membuang suami ku yang baik dan penyayang, aku malah pilih pria lain yang kaya raya tapi jujur aku tak bahagia dengan kehidupan sekarang kak, suami ku malah membalas ku dengan perselingkuhan lagi, apakah ini karma untuk ku?"


"Lalu sekarang dimana suami baru mu itu?"


"Dia sudah menikah lagi kak, tapi kamu belum bercerai."


"Ya allah Tini, ada ada saja dengan hidup mu ini, maaf mbak engga bisa bantu kamu, dan ibu juga masih belum bisa memaafkan mu, bisakah kamu pergi dari sini Tini."


"Hiks mbak maafkan Tini?"

__ADS_1


"Mbak tidak bisa berbuat apa apa Tin," Tini melangkah gontai menuju ke luar rumah, aku ga tak tega melihatnya pergi sendirian namun karena kelakuan nya yang sudah membuat ibu sakit hati, rasa iba ku padanya seketika hilang.


***


sudah pukul jam 9 pagi, Arga baru saja bangun dari tidurnya. Hari ini Arga kesiangan untuk berangkat kerja biasanya ia selalu di bangunkan Atika, namun kali ini Arga benar benar kesiangan.


Di lihatnya jam yang berada di dekat bantal tidurnya, Arga teronjak kaget.


"Apa! ini sudah pukul jam 9 pagi, yang benar saja aku kesiangan! arggh sial ini gara gara Atika!" Arga belum sadar bahwa Atika sudah tidak ada di rumahnya lagi.


"Atika!" Teriaknya dari kamar.


"Kemana si atika itu!" kemudian Arga langsung pergi ke kamar mandi, setelah selesai ia membuka lemari bajunya untuk mengambil seragam kerja nya.


"Aku baru sadar, tenyata Atika sudah pergi dari sini kenapa aku tidak ingat? Arga mengacak acak rambut nya, pagi ini ia sangat kesal sekali.


Baru saja ingin berangkat kerja dan menyalakan motornya, namun ponsel Arga berdering.


"Hallo,"


"Kenapa kau tidak kerja Arga, ini di kantor sedang ada masalah! kenapa kau tidak datang, kau tak bertanggung jawab Arga." ucap seorang pria yang marah pada Arga.


"Maaf tuan saya bangun kesiangan, karena sekarang tak ada yang membangunkan saya, saya sudah bercerai dengan istri saya tuan."


"Saya tak peduli Arga! kau sudah membuat saya marah, hari ini kau tak perlu masuk kerja. Saya akan memotong gaji mu 2x lipat dari biasanya."


"Jangan tuan, saya mau masuk saja, maafkan saya tuan. Sekarang saya berangkat kerja."


"Terserah kau saja Arga!"


Arga langsung mematikan telpon nya, lalu ia menghidupkan motornya.


Dipertengahan jalan tiba tiba ban motor Arga kempes dan terpaksa ia harus mencari bengkel di sekitar sini.


"Sialan kau motor tua, malah kempes lagi!" Arga benar benar kacau, sudah setengah jam ia baru beres menambal ban motor nya kemudian ia melajukan kembali motornya sampai ke perusahaan.


"Pagi tuan maaf saya ke siangan."


"Pagi kau bilang? ini sudah siang, apa kau buta hah?" namun arga malah kena omelan sang bos.


"Iya saya minta maaf tuan, saya janji tak akan mengulanginya lagi."

__ADS_1


"Baiklah hari ini kau boleh bekerja tapi gaji mu tetap di potong 4 jam."


Arga hanya bisa pasrah dengan ucapan bos nya, dari pada ia di pecat lebih baik potong gaji saja.


__ADS_2