
"Dinda mana baju kerja ku," ucap Arga yang masih mencari baju kerjanya.
"mana aku tahu mas?"
"kok kamu bisa ga tahu sih Din, ini aku mau kerja loh takut kesiangan."
"ya itu bukan urusan ku!" kemudian Arga mencarinya ke kamar mandi ternyata baju kerjanya belum di cuci, begitupun dengan baju sehari hari Arga masih numpuk dan belum di cuci.
"Dinda dari kemarin kamu ngapain aja, kenapa ga nyuci sampai numpuk begitu!" Arga mulai kesal.
"Enak aja mas, aku ini istri mu masa di suruh nyuci kayak babu aja."
"Dinda harusnya jadi istri itu kamu harus pandai nyuci jangan di tumpuk tumpuk seperti itu!"
"males aku mas! cuci aja sendiri!" ini membuat Arga geram namun ia tak bisa berbuat apa apa karena bu Ratna sudah berpesan pada Arga untuk memperlakukan Dinda dengan baik, katanya harus menjadi keluarga yang terhormat untuk pak kades.
Arga terpaksa harus memakai baju yang kemarin belum di cuci karena tidak bisa masuk tanpa seragam.
Lalu setelah berdebat dengan Dinda ia berjalan menuju dapur untuk sarapan, namun apa yang ia lihat ternyata tidak ada apa apa di sana.
"Dinda mana sarapan ku?"
"mas kenapa sih! ya beli lah jangan nyuruh aku yang masak."
"Dinda harus nya kamu tuh masak biar irit uangnya."
"enak aja mas, aku ini bukan babu mu, kalau mau makan ya beli dong! kalau mau makanan di rumah ya tinggal cari pembantu! apa susah nya."
argh ini membuat Arga marah dan kesal dengan sikap Dinda, masih mending dulu dibuatkan nasi goreng walaupun tanpa apa apa masih bisa di makan.
POV Arga.
baru kali ini aku tahu sikap Dinda yang sangat pemalas, dia sangat pembangkang. Bisa bisanya ia tak menyiapkan baju kerja dan sarapan ku, terus dia ngapain aja dari semalam? ini membuat ku marah pada Dinda tapi aku tak bisa marah padanya karena demi menjaga nama baik aku dan ibu.
Aku terpaksa makan di warteg dengan harga 20 ribu bagi ku sangat mahal, ini pemborosan! bagaimana aku bisa membiayai kuliah adik ku jika aku boros terus.
Padahal dulu walaupun dengan uang sepuluh ribu, aku masih bisa makan enak walau hanya tahu tempe buatan Atika.
Ah! kenapa aku jadi mikirin Atika sih, lagian dia bukan istri ku lagi.
Semua orang yang ada di kantor menatap ku, aku merasa tidak enak dengan tatapan mereka.
"ngapain kamu menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"tuh lihat baju mu kok kotor begitu Arga, tumben sekali baru masuk kerja tampilan mu sangat berantakan seperti ini, padahal udah di kasih cuti tiga hari sama bos."
"iya istriku lagi sakit jadi dia ga nyuci, dan aku juga ga sempet!" ucap ku berbohong, ga mungkin kalau aku bilang Dinda pemalas, padahal aku baru nikah 4 hari, namun sudah membuat ku seperti ini.
"oh iya Arga nanti kita meeting dengan bos dan sekertaris baru."
"baiklah," ucap ku.
***
"Pak Dirga aku sudah memberitahu pada mereka semua untuk meeting siang ini!"
"ya bagus, tolong buatkan aku kopi dulu Tik,"
"Baik pak," lalu aku turun ke bawah untuk membuat kopi, aku tak sengaja bertemu dengan mas Arga di lift. Kok aku merasa aneh dengan dia, kenapa terlihat kusut sekali padahal biasanya mas Arga tak seperti itu.
"Atika, gimana kabar Karina," ucap nya, baru kali ini mas Arga menanyakan kabar anaknya, berarti ada kesempatan untuk Karina bisa bertemu dengan nya.
"Karina baik kok mas!"
"oh syukurlah, kapan kapan aku ingin bertemu dengan nya."
"iya mas, Karina juga sering menanyakan kabar mu!"
"benarkah, kalau begitu nanti libur aku mau menjemputnya."
"tenang saja aku tak akan membawa nya untuk kabur."
Setelah sampai di ruangan pak Dirga aku langsung menyodorkan kopi nya di meja.
"kamu lama sekali Atika,"
"maaf pak tadi saya ngobrol dulu sebentar!"
"sama siapa?"
"sama mas Arga pak,"
"apa? kamu masih berhubungan sama dia?"
"tidak mas, dia hanya menanyakan kabar Karina !"
"oh gitu, saya ga suka jika kamu dekat dengan dia Atika,"
__ADS_1
"lagian buat apa dekat dekat pan, dia sudah ada istri."
"hem siapa tahu gitu!" aku tak tahu dengan pikiran pak Dirga, padahal ia tak pernah ikut campur tentang aku dan mas Arga, tapu sekarang ia selalu bertanya sampai sedetail mungkin.
"maaf pak jam meeting sudah mulai,"
"persiapkan saja berkas pentingnya,"
lalu aku berjalan menuju ruangan meeting dan aku sudah mempersiapkan materinya.
Meeting kali ini, aku lah yang menjelaskan semuanya karena pak Dirga yang menyuruhku padahal aku baru pertama kali, aku masih grogi tapi aku berusaha se profesional mungkin.
Aku melihat mas Arga seperti kagum pada ku, semoga saja ia sadar walaupun aku hanya tamatan SMP, aku bisa melakukan ini semua. Sekarang mas Arga ada di bawah kendali ku.
"oke meeting hari ini selesai silahkan kembali ke tempat kerja masing masing." kata pak Dirga.
Ah akhirnya aku lega sekali walaupun baru pertama kali tapi aku sukses bisa membawakan materi meeting nya, ku lawan rasa gugup ku dan juga rasa malu ku, aku benar benar bisa melakukan ini semua.
"saya salut pada mu Atika !"
"kenapa pak?"
"walaupun hanya tamatan SMP tapi otak mu sudah melebihi aku!"
"hahaha pak Dirga bisa saja, saya juga gugup loh pak,"
"tapi kamu sangat profesional, dan bisa membawakan materinya. saya sangat kagum."
"terimakasih pak hehe,"
Sangat tidak menyangka pak Dirga pun memujiku, jadi aku benar benar sudah profesional ya, padahal aku juga gugup dan deg deg an. biarpun begitu aku sangat bahagia semoga ke depan nya aku bisa lebih bagus lagi cara menyampaikan materinya.
Mas Arga pun sepertinya kagum pada ku karena terlihat dari tatapan nya, atau mungkin ia tak menyangka pada ku. Ah akhirnya aku bisa membuktikan pada mas Arga bahwa aku juga bisa lebih dari dia.
"Atika, bagaimana dengan kabar adik mu!"
"adik saya sudah lebih baik pak, seperti besok ia sudah di bolehkan pulang. Terimakasih ya pak sudah menolong adik saya! dan soal pembayaran saya akan menyicilnya setelah dapat gaji pak!"
"saya tidak menagih itu Atika, saya hanya bertanya kabarnya."
"iya pak saya tahu, tapi saya juga hanya menyampaikan saja!"
"terserah lah, saya tak minta di bayar Atika,"
__ADS_1
"saya juga tak mau punya hutang sama bapak."
"Cih dasar keras kepala." ucapnya.