
Aku kembali masuk keruangan pak Dirga, akan tetapi tunangan nya juga sudah tidak ada di sana! entahlah kapan dia pulang, aku tak melihatnya.
Ku fokuskan lagi pada layar laptop ku, sekali kali aku menatap pak Dirga! apa dia masih ingat dengan kata katanya yang kemarin, sepertinya pak Dirga sudah melupakannya! aku jadi kepikiran dengan calon tunangan nya pak Dirga? apa dia tahu kalau pak Dirga pernah melamar ku. Ah sudahlah, aku tak ingin memikirkan mereka.
POV Dirga.
Sepertinya rencana Rara berhasil membuat Atika cemburu padaku, ku lihat dia seperti gelisah namun aku pura pura tak mempedulikannya.
Biarkanlah rencana nya berjalan dengan mulus, aku ingin tahu bagaimana perasaan Atika pada ku. Tapi setelah ku lihat sepertinya dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku.
Sengaja hari ini aku tak menyuruhnya membuatkan kopi, aku ingin tahu sampai mana ia bisa bertahan dengan sikap ku yang seperti ini.
"permisi pak, ini laporan keuangan minggu kemarin. Maaf saya baru sempat membuat laporan!" ucap Arga mantan suaminya Atika.
Ku lihat Arga sepertinya ia masih mencintai Atika, sedari tadi ia melirik ke arah Atika. Sedangkan aku tak suka melihatnya, ku suruh ia pulang karena sudah waktunya pulang.
"baiklah ini sudah saya tandatangani, silahkan pulang saja karena sudah waktunya," ucap ku, tapi aku masih melihat Arga yang memperhatikan Atika, ini membuat ku emosi.
Lalu aku menjatuhkan laporan di meja agar ia sadar untuk tidak melirik Atika.
"ah ia pak saya permisi dulu," kata Arga, lalu ia kembali menaruh kertas laporan yang barusan jatuh.
"pak pekerjaan saya sudah beres, apa saya boleh pulang," setelah kepergian Arga lalu Atika menghampiri ku, sepertinya dia juga menyadari kalau Arga selalu menatapnya.
"ya silahkan pulang," tapi Atika malah diam saja.
"pak! apa bapak masih ingat dengan kata kata kemarin!" Atika memberanikan diri bertanya padaku.
"kata kata apa maksud mu?"
"tentang kemarin waktu di taman, bapak melamar ku tapi bapak sudah punya tunangan! memang nya tunang bapak tidak marah kalau ia tahu!"
Rupanya Atika membicarakan soal kemarin, aku tahu pasti Atika bertanya tanya tentang hubungan ku dengan Rara, padahal ini hanya ide Rara.
"ya saya melamar mu karena saya mencintai mu,"
"terus bagaimana dengan mbak Rara, kenapa bapak tega mempermainkan perasaan wanita!"
"apa kamu juga tega menolak cinta saya."
"maaf pak tapi saya belum siap untuk menikah."
__ADS_1
"ya sudah kalau begitu jangan bertanya lagi pada saya!"
Ku kira Atika akan menyatakan cinta pada ku, rupanya ia hanya peduli pada Rara.
"kalau begitu saya permisi untuk pulang pak."
"Ya." ucapku.
Atika memang keras kepala, ia tetap pada pendiriannya padahal hatinya mengatakan ia, aku ingin tahu sampai kapan kamu akan seperti ini terus tidak mau mengakui perasaan mu sendiri.
***
Biasanya kalau mau pulang pak Dirga selalu menawarkan tumpangan untukku, tapi sekarang bicara aja singkat kaya yang malas bicara dengan ku.
Terpaksa aku harus menunggu angkutan umum, karena ojek langganan ku sedang sakit.
"Tik ayo pulang bareng aku," mas Arga lagi! mas Arga lagi! sudah ku beritahu dia jangan menggangguku lagi tapi masih saja seperti itu.
"Tik ayo, dari pada nunggu angkot lama mending pulang bareng aku."
"engga mas, aku lagi ingin naik mobil!" ucap ku.
"ayolah Tik, aku antar sampai rumah! aku juga ingin menemui Karina."
tiba tiba angkotnya sudah ada, aku langsung buru buru naik, karena sudah sangat malas bertatap muka dengan mas Arga.
Aku ingin tahu apa mas Arga menemui Karina, kalau tidak berarti ia hanya menginginkanku.
Ku lihat motor mas Arga ada di belakang mobil ini, akan tetapi ia belok ke arah kanan mungkin memang mas Arga mau pulang ke rumahnya. Sudah ku pastikan mas Arga hanya ingin dekat dengan ku lagi bukan dari hatinya ingin menemui Karina, itu hanya alasan saja.
POV Arga.
Kenapa susah sekali menaklukkan hati Atika biar ia mau kembali pada ku lagi.
Mengajaknya untuk pulang saja sangat susah, aku terpesona lagi pada Atika karena ia semakin hari semakin cantik dan aku ingin kembali lagi padanya, apalagi sekarang Atika sudah bekerja, jika ia kembali lagi padaku, aku tak akan repot menafkahi dia karena dia sudah menjadi wanita karir.
Ah aku menyesal sudah melepaskan Atika, tiap hari aku harus menghadapi sikap Dinda yang membuatku pusing.
Sesampainya dirumah, ibu langsung menghampiri ku.
"Arga,,, Arga!"
__ADS_1
"ada apa sih bu teriak teriak begitu kan malu sama tetangga!"
"uang ibu hilang Ga, ibu menyimpannya dalam tas tapi tidak ada!"
"kok bisa ilang bu, kan ibu tiap hari ada di rumah."
"ibu juga ga tahu kenapa bisa hilang, ibu hanya main ke rumah tetangga sebentar tapi pas di cek sudah tidak ada."
"Sabar ya bu, ibu sabar dulu! kok aku seperti janggal dengan Dinda."
"ibu juga sudah bertanya pada dia, tapi dia ga ngaku." jujur saja aku sangat janggal dengan Dinda karena ia sering belanja barang barang mewah namun aku tak tahu ia mendapatkan uang dari mana! aku jadi curiga padanya yang mungkin mencuri uang ibu.
"gimana ini Ga, uang ibu tinggal segitu, ibu ga punya uang lagi."
"sabar ya bu nanti Arga ganti! ibu tenang aja pokonya Arga akan memberikan gaji Arga pada ibu asal ibu jangan berisik."
"iya Ga, ibu ikhlaskan aja uangnya tapi tetap saja ibu menginginkan uang ibu kembali."
"iya iya bu Arga tahu, ya sudah mending kita masuk bu, Arga sudah lapar nih." kemudian kami pun masuk ke dalam, aku melihat Dinda sedang nyenyak dengan tidurnya.
"ibu ayo cepat sini !"
"ada apa sih Ga?"
"coba ibu cek tasnya Dinda, siapa tahu ada di sana."
"bener juga ya," kemudian ibu menghampiri tas Dinda yang menggantung lalu mencarinya di sana namun ibu tetap tidak menemuinya.
"tidak ada sama sekali," dimana Dinda menyimpan uangnya, kenapa ia sangat pintar untuk menyembunyikan sesuatu.
"mas,, ibu,, lagi ngapain di sini." ucap Dinda yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"ibu hanya mau menemui Arga,"
"oh mas Arga sudah pulang ya, aku rindu sama kamu mas!" rasanya aku ingin muntah mendengar ucapan Dinda.
"kalau begitu ibu mau ke dapur dulu!" lalu ibu pun pergi meninggalkan aku dan Dinda.
"mas sudah lama kita tidak melakukan nya lagi!"
"aku lagi malas Din," jujur saja gairah ku sudah tidak ada lagi semenjak tahu Dinda bukan perawan! aku jadi curiga dengan kelakuan Dinda sebelum menikah dengan ku.
__ADS_1
Dinda terus saja menarik tangan ku, lalu ku hempaskan dengan kasar! terserah dia mau marah atau tidak! intinya aku sedang tak ingin bercinta dengan nya.