
Dinda sudah tiba di rumah nya dengan membawa banyak belanjaan di tangan nya.
"dari mana saja kamu Din!" bentak Arga.
"aku udah belanja mas, apa sih marah marah gitu!"
"kamu tuh sadar ga sih Din, yang di lakuin kamu itu salah!"
"apanya yang salah mas, salah aku dimana?"
"mana uang ku yang tadi," pintanya.
"udah habis di pake belanja," kemudian Dinda masuk ke kamarnya dengan hati bahagia walaupun Arga marah marah ia tak peduli.
"Dinda! kamu dengar aku gak sih!"
"apa lagi sih mas!" ucap Dinda sambil membuka belanjaan yang baru saja di bawa.
"mana uang ku Din, kalau di kamu semua aku mau makan apa?"
"nih mas!" Dinda melemparkan uang nya pada Arga.
"cuma 500 ribu, sisa nya mana Din!"
"sudah aku belanjain, itu cukup kan uangnya buat makan kamu di luar sama bensin buat motor mu!"
"sialan kamu Dinda, bisa bisa nya kau habisi uang ku!"
Namun Dinda tak menanggapinya, ia cuek saja yang penting sudah bisa belanja.
Lalu Arga pergi mengendarai motornya menuju ke rumah Bu Ratna dengan rasa marah dan kesal nya pada Dinda.
"Arga! mana Dinda kok kamu sendirian?"
"aku kesal sama Dinda bu, uang gaji Arga di habisi sama dia!"
"apa! ko bisa!" bu Ratna pun syok mendengarnya.
"ini salah ibu gara gara menjodohkan Arga dengan dia."
"ko kamu jadi nyalahin ibu sih Ga!"
"ibu tau tidak! aku sangat menderita menikahi Dinda, dia tak pernah masak dan nyuci baju, semuanya aku yang ngerjain!"
"apa? kenapa dia bisa begitu!"
"ibu tanya aja sama orang nya kalau ga percaya sama Arga, Arga pusing bu! Arga ingin cerai!"
"ga bisa gitu dong Arga, apa kata orang nanti? apalagi sama pak kades! ibu yang malu nantinya."
__ADS_1
"ibu mementingkan diri sendiri sedang kan ibu tak mementingkan aku!" Arga benar benar kesal dengan jalan pikiran ibunya.
"bang Arga mana uang kuliah buat Dini," kata Dini yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"ga ada!" ketus Arga.
"lah ga bisa gitu dong bang, gimana dengan kuliah ku? kan abang bilang ingin melihat ku jadi dokter!"
"uang abang habis Din, uang abang di rampas sama kakak ipar mu!"
"lah kok bisa sih bang, abang ini kan cowok masa ga bisa melawan sama istri abang!"
Arga memikirkan ucapan Dini, bener juga apa kata Dini kenapa ia harus kalah dengan wanita!
"bang, kenapa abang melamun! Dini butuh uang nih."
"untuk sekarang abang ga bisa ngasih kamu uang dulu, kamu minta saja pada ibu!"
bu Ratna langsung melotot pada Arga.
"enak aja minta sama ibu, kan itu tanggung jawab kamu Ga!"
"Arga bilang Arga tak punya uang, ibu masih saja tidak mengerti!" mereka bertiga malah saling menyalahkan bukanya saling dukung.
"ya udah aku minta sama ibu aja!" ucap Dini.
"gimana dong bang!" akhirnya Dini menangis, ia tak tahu harus bagaimana kalau tidak ada yang memberinya uang.
"maafin abang Din, abang juga lagi kesusahan, kalo bulan depan abang bisa memberi mu uang lagi, abang tak akan kecolongan lagi sama Dinda."
"ya udah deh bang, Dini ngalah aja."
POV Arga.
kenapa semua nya jadi kacau begini, kenapa hidup ku jadi seperti ini. Ini semua gara gara ibu yang memaksaku untuk menikahi Dinda dan bodoh nya aku malah mau menikahi dia. Andai waktu bisa di ulang aku tak ingin berpisah dengan Atika, sekarang aku menyesal telah meninggal kan Atika.
Aku jadi merindukan Karina anak ku, sudah dua bulan aku tak pernah menemui nya.
Aku benar benar jahat, tapi bagaimana aku bisa menemuinya? uang ku saja habis sama Dinda. Ga mungkin kan kalau aku bertemu dengan anak ku tanpa memberi uang.
"Arga," lalu ibu mendekati ku.
"Apa bu?"
"mulai hari ini ibu mau tinggal di rumah mu saja, biar tahu kelakuan istri mu itu!"
"ya bu, ini yang aku inginkan! aku mau ajak ibu untuk tinggal sementara di sana, biar aku ga kesiangan dan baju ku ga numpuk di kamar mandi!"
"kamu mau nyuruh ibu jadi babu?"
__ADS_1
"bukan begitu bu, Arga bisa sendiri tapi tolong bantu Arga juga karena Arga ini pekerja!"
"iya iya deh sekarang juga ibu akan menyiapkan baju ibu untuk di bawa kesana!"
"iya bu, terimakasih ya bu,"
Akhirnya ibu mau tinggal dengan ku, biar ada yang memasak untuk aku dan juga ada yang mencuci baju ku.
Aku bukan ingin menyuruh ibu, tapu aku juga ga bisa begini terus karena aku harus kerja berangkat pagi pagi biar tidak kesiangan terus! aku sudah mendapat peringatan beberapa kali di kantor ku. Ini semua gara gara Dinda yang ga becus ngurus kebutuhan ku.
***
Hari ini pak Dirga mengajak ku ke taman, tumben sekali dia mengajak ku kesini.
"pak kita ngapain disini? kaya anak muda aja."
"ya sekali kali saya pengen di sini di temani kamu."
"tapi saya ga enai sama orang pak, tuh banyak yang ngeliatin!"
"emang kamu kenal sama mereka?"
"tidak sih pak hehe, cuma ga enak aja!"
"dasar kamu!"
"hehe saya terlalu kepedean ya pak, kenapa bapak ga nyari pacar aja sih biar ada yang nemenin gitu."
"kan saya sudah bilang sama kamu, saya ga mau pacaran, mau nya langsung nikah."
"ya udah kalau gitu nikah aja pak! apa susahnya."
"mau nya sama kamu Tik,"
"ma maksud bapak apa ya!"
"aku mau nikah nya sama kamu, kamu mau ga jadi istri aku?" kenapa pak Dirga jadi melamar ku disini, aku jadi ga enak!
"kok kamu diam Tik,"
"em iya pak, aku belum siap menikah lagi, aku masih trauma!"
"aku tak seperti mantan suami mu itu Tik," tetap saja aku belum siap untuk menikah lagi, apa lagi aku sudah punya anak sedangkan pak Dirga juga orang kalangan atas, ga pantas jika bersanding dengan ku, aku terlalu kampungan untuk nya.
"aku butuh jawaban dari kamu, kamu mau nerima saya atau mau nolak saya?"
"saya belum siap nikah pak,"
"em berarti kamu nolak saya, kalau begitu kita pulang saja." tiba tiba pak Dirga mengajak ku pulang, perasaan ku jadi ga enak sama dia. Sepanjang jalan pak Dirga hanya diam saja, sepertinya ia marah padaku.
__ADS_1