Membalas Penghinaan

Membalas Penghinaan
Bab 34


__ADS_3

Setelah menunggu tiga jam, akhirnya hasil pemeriksaan sudah keluar.


Dirga dan Atika sudah tak sabar ingin tahu dengan hasilnya.


"Silahkan pak Dirga sama ibu Atika duduk dulu, saya akan menjelaskan." ucap dokter Astra.


Atika terus saja berdoa dalam hatinya semoga hasilnya sama dengan apa yang di pikirkan nya, tidak mungkin hasilnya seperti dulu karena Atika tidak melakukan hubungan dengan siapa pun.


Keringat dingin membasahi kening Dirga, tanpa melirik sang istri, Dirga tetap fokus pada dokter.


"Begini pak Dirga hasil pemeriksaan nya disini bagus, pak Dirga tidak mandul sama sekali, malah pak Dirga lebih subur maka dari itu istri bapak bisa secepatnya hamil." Dirga tak menyangka ternyata selama ini ia tidak mandul tapi kenapa dengan istri pertama ia bisa mandul, kenapa dokter waktu itu bisa memvonisnya mandul. Rasa bahagia dan syukur Dirga langsung menggenggam tangan Atika dengan erat.


"Terimakasih ya allah." ucap atika dalam hatinya.


"Istri saya memang sedang hamil dok, tapi kenapa bisa dulu saya di vonis mandul." Tanyanya.


"Mungkin saja dulu ada terjadi kesalahan dengan dokter sebelumnya, tapi disini sudah jelas bahwa bapak tidak mandul. Selamat ya pak atas kehamilan istrinya, semoga sehat selalu."


Dirga dan Atika pun keluar dari ruang dokter dengan hati yang bahagia.


"Atika mas minta maaf sudah mendiamkan mu, mas minta maaf juga sudah mencurigai mu."

__ADS_1


"Tak apa apa mas, aku mengerti mas yang penting sekarang mas udah tahu bahwa mas tidak mandul."


"Iya Atika, mas tak menyangka, tapi mas masih kepikirin waktu dulu kenapa mas bisa di vonis mandul."


"Aku curiga dengan mantan istri mu mas, mungkin saja dia meminum pil pencegah kehamilan, mas pernah bilang kalau mantan istri mah sering menkonsumsi obat sebelum berhubungan."


"Ya Atika, apa benar ia yang meminum obat pencegah kehamilan, kalau begitu dia sangat keterlaluan."


"Sudahlah mas, sekarang dia sudah jadi mantan istri mu kan."


"Iya Atika, tapi kalau begini mas jadi gak terima. Selama ini keluarganya sering memaki mas. Apa mungkin dia juga selingkuh di belakang mas."


"Karena waktu itu sebelum mas menceraikan nya, ada yang bilang mantan istri mas jalan dengan seorang pria tapi mas bodohnya tak percaya dengan ucapan adik ipar mas."


"Sudah mas, mas ikhlaskan saja. Sekarang aku sedang ngandung anak mu mas,"


"Iya Atika, mas mau fokus saja ke kandungan mu. Jaga baik baik anak kita ya, besok mas akan pulang ke rumah ibu dan memberi tahu kabar bahagia ini."


"Iya mas." Dirga pun mengecup kening Atika, lalu ia mengedarai mobilnya menuju pulang.


Setelah sampai dirumah, Dirga dan Atika mencerikannya pada ibu dan juga Tini, tentu saja mereka semua bahagia apalagi dengan kehamilan Atika, Karina sangat kegirangan setelah mendengar ibunya hamil, ia benar benar ingin punya adik sedari dulu namun baru sekarang Atika bisa mengabulkan nya walaupun beda ayah.

__ADS_1


"Alhamdulilah, jaga baik baik kandungan mu ya Tik, ini harapan Arga dari dulu jadi kamu harus benar benar menjaganya."


"Iya bu, Atika akan menjaga nya semoga lancar sampai lahiran nanti."


"Aamiin."


"Em sayang kamu mau makan apa, biar mas belikan, biasanya kan ibu hamil selalu menginginkan sesuatu." ujar Dirga.


"Cie akhirnya kak Atika dimanjakan sama kak Dirga," Atika tersenyum malu dengan ucapan Tini.


"Aku sedanh tak ingin apa apa mas, aku hanya mual jadi ingin istirahat dulu."


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya, nanti mas belikan susu buat kamu biar anak kita sehat."


"Iya mas, bukannya mas mau ke kantor, ini udah mau siang loh mas."


"Mas gak jadi ke kantor, mas sudah menelpon asisten jadi semua pekerjaan di handle dia, hari ini mas mau libur dulu demi anak kita."


"Cieee romantis sekali kalian hehehe."


Sudah lama Dirga mengharapkan buah hati, dan sekarang keinginan Dirga sudah terkabulkan, ia tak menyangka dirinya bisa memberikan anak pada Atika. Sedangkan dulu ia sering di maki istri pertamanya, semua atas kehendak tuhan kita tidak tahu kedepannya, rencana tuhanlah yang sebaik baiknya.

__ADS_1


__ADS_2