
Hari ini Dirga bersama ibunya pergi menuju rumah Atika, sebelumnya Dirga juga sudah memberitahu Atika akan datang bersama ibunya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Atika yang baru saja membuka pintu, ia langsung menyalami tangan Dirga dan juga ibunya.
"Pak, bu mari masuk, silahkan duduk dulu."
"Terimakasih Atika." begitupun juga ibu Atika dan juga Tini saling bersalaman.
"Ini ibunya Atika." ujarnya.
"Iya saya ibunya, dan ini Tini adik Atika."
Kemudian Atika membawa dua gelas minuman untuk Dirga dan ibunya.
"Silahkan di minum bu."
"Ya terimakasih Atika, em sebenarnya saya kesini mau melamar kamu Atika dan Dirga juga sudah bilang pada saya bahwa kamu sudah menerimanya."
"Iya itu benar bu."
"Jadi begini Atika, ibu ingin kalian secepatnya menikah, kalau bisa tiga hari lagi kalian harus menikah, maaf jika ibu sudah lancang sama kamu."
"Apa ini ga terlalu kecepatan bu?"
Ibu Atika pun langsung menimpali ucapan Atika.
__ADS_1
"Lebih baik lebih cepat Atika, ibu juga setuju kok."
Dirga yang sedari tadi diam dan menatap Atika dari diamnya, ia tak berani berbicara karena ibunya yang sedari tadi masih bicara tanpa henti membuat Dirga sungkan untuk ikut bicara.
"Bagaimana Atika, apa kamu mau menikah dengan anak saya tiga hari lagi." Atika pun memandang Dirga, ia harus menjawab apa.
"Atika terserah pak Dirga aja bu."
"Dirga mau mau aja kok bu."
"Cie kak Atika mau nikah, aku senang banget kak." ucap Tini.
***
"Arga keluar kamu." teriak Dinda dari luar.
"Ada apa ini." ujar Bu Ratna yang baru saja membuka pintu.
"Mana anak mu Ratna."
"Ada apa nyari anak saya, kita sudah tidak ada hubungan lagi jadi jangan mendekati Arga lagi."
Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendengar keributan diluar kemudian Arga pun pergi menuju pintu utama.
"Ada apa ini." ucap Arga yang baru saja datang.
"Arga apa apaan kamu mentalak anak saya hah, berani sekali kamu membuang anak saya begitu saja."
__ADS_1
"Maaf pak saya sudah tidak cinta lagi pada Dinda jadi saya mohon jangan pernah mengganggu saya lagi."
"Tidak bisa begitu Arga, aku ini masih istri mu. Kau tak boleh menceraikan ku karena aku sedang mengandung anak mu." Bu Ratna terkejut dengan ucapan Dinda.
"Heh Dinda memang nya yang ada di kandunganmu itu anak siapa? Arga bilang hanya sekali meniduri mu."
"Ini anak Arga bu, ngapain aku bohong kan Arga suami ku. Arga itu bohong sama ibu, dia itu selalu minta terus sama aku. Mana mungkin Arga tak terpesona dengan kecantikan aku."
"Jangan bohong kamu Dinda, aku hanya menyentuhmu satu kali jadi tidak mungkin yang ada di perutmu anak aku."
Suasana semakin memanas, tetangga berdatangan karena ingin tahu masalah yang di hadapi dua keluarga.
"Kalian percaya tidak, mana ada pria tak tergoda oleh istrinya yang cantik dan sexy begini." ujar Dinda pada tetangga yang berada disana.
"Huuu ia tuh, masa pak Arga cuma melakukan sekali kan ga mungkin." ucap salah satu warga.
Sialan kau Dinda, ternyata kau pengecut. Aku tak pernah menyentuh dia lagi semenjak aku tahu bahwa dia sudah tak perawan tapi beraninya dia berbicara tanpa kenyataannya.
"Kalau gitu kamu harus tes DNA dulu baru aku bisa percaya, aku tak ingin dibobongi kamu Dinda."
" Iya kamu harus tes DNA dulu, enak aja udah nuduh bayi yang di kandung anak Arga.l, kamu itu wanita ular saya tak percaya dengan ucapan kamu Dinda."
"Baiklah kitq tes DNA tapi jika ini benar anaknya Arga maka Arga tak boleh menceraikan Dinda." ujar pak kades.
"Ayo mari kita buktikan, awas saja kalau itu bukan anak Arga."
" Siapa takut bu." ucap Dinda.
__ADS_1
Namun di hati Arga dia sudah meyakini bahwa dinda sedang tidak mengandung anaknya, karena ia pernah memergoki Dinda di hotel saat ia pulang kerja malam. Arga melihat dinda dengan seorang pria yang sudah tua. iapun beranggapan bahwa Dinda wanita yang tidak benar.