
Di saat Kimi dan keluarga tengah menikmati kebahagiaan yang tidak ada habisnya. Seolah dewi keberuntungan memang benar-benar tengah berpihak dengannya, semua yang ia dapatkan mampu memberikan kebahagiaan yang luar biasa untuk ke dua mertua dan juga suaminya.
Di tempat lain. Ibu dan anak masih berjuang untuk kesembuhannya. Ini adalah bulan ke enam Zeno berpindah dari Jakarta ke kota kembang. Ia sangat berharap dengan kepindahannya ke kota yang tidak kalah besar dari Jakarta, bisa memberikan kesembuhan untuk sang ibu, tetapi rupanya harapan dan doanya tidak seberuntung Kimi. Zeno harus menelan pil pahit ketika sakit kanker yang dialami oleh sang ibu tak banyak mengalami perubahan.
Padahal operasi dan segala pengobatan yang dianjurkan oleh tenaga ahli sudah Zeno upayakan, tetapi semesta masih belum memberikan keajaiban itu. Zeno dan sang ibu harus bersabar lagi.
“Bu, hari ini kita ke rumah sakit lagi yah. Ada janji dengan dokter untuk memeriksa perkembangan sakit ibu.” Zeno dari pagi sudah sibuk menyiapkan segala keperluan sang ibu untuk kembali kontrol ke rumah sakit.
Mendengar kata rumah sakit wanita yang badannya semakin kurus itu menggeleng dengan lemah. Zeno tahu kalau ibunya sudah lelah dengan pengobatan ini, tetapi ia sebagai anak juga tidak tega membiarkan wanita yang telah melahirkannya kesakitan. Ia bertekad akan terus berusaha apa pun itu caranya agar sang ibu sembuh dan bisa menemani dirinya untuk selamanya. Hanya sosok ibu yang Zeno punya sehingga ia sangat menyayanginya dan rela melakukan apa pun demi sebuah kesembuhan.
“Kenapa? Apa Ibu tega ninggalin Zeno sendirian. Ibu harus sembuh. Ibu punya janji dengan Zeno kalau Ibu akan tetap sehat sampai Zeno menemukan jodoh Zeno.” Laki-laki itu kembali mengulang ucapan ibunya dulu, itu adalah cara ia memotivasi sang ibu agar tetap semangat menjalani pengobatan.
Wanita bernama Zunai itu mengusap punggung tangan putranya dengan lembut. “Ibu akan kembali bersemangat untuk melakukan pengobatan kalau kamu ceritakan uang yang kamu pakai untuk pengobatan Ibu dari mana?” tanya Zunai dengan suara yang lirih.
Deg!! Wajah Zeno langsung berubah pias ketika mendengar pertanyaan ibunda tercinta.
“Apa Ibu curiga kalau uang yang Zeno hasilkan itu adalah uang haram?” tanya Zeno dengan suara yang tidak kalah lirih. Ini adalah cara ia menutupi kebohongannya. Meskipun dalam hati Zeno diselimuti dengan rasa bersalah. Ia tahu seratus persen uang yang ia dapatkan untuk pengobatan ibunya adalah uang yang haram, uang panas, tetapi laki-laki berparas tampan itu juga tidak bisa berkata jujur pada sang ibu, bisa-bisa sakitnya semakin parah kalau tahu dari mana sebenarnya dirinya mendapatkan uang yang tidak ada habisnya.
“Ibu sebenarnya percaya sama kamu, Zen, tapi Ibu juga tidak percaya ada orang baik yang dengan mudah memberikan uang yang tidak sedikit untuk pengobatan ibu. Kecuali kamu memberikan sesuatu yang tidak mereka dapatkan.”
__ADS_1
Mendengar ucapan ibunya, Zeno pun menunduk. Menelan salivanya untuk membasahi tenggorokan yang dari tadi terasa seperti ada yang mencekik.
“Apa kalau Zeno katakan dengan jujur Ibu akan percaya, tidak marah dengan Zeno dan Ibu akan kembali semangat untuk menjalani pengobatan dan berjanji akan sembuh untuk menemani Zeno sampai mendapatkan istri yang baik dan bisa menjaga Zeno seperti ibu?” tanya Zeno dengan pandangan tulus menatap sang ibu.
Zunai menganggukkan kepalan cukup kuat, sebagai tanda bahwa ia akan menepati janji yang diucapkan Zeno untuk dirinya.
“Katakan apa yang kamu rahasiakan, seorang ibu tidak mungkin menghakimi anaknya apalagi yang dilakukan demi memberikan kesembuhan untuk ibunya.”
Kembali mendengar ucapan bijak dan tulus dari sang ibu, hati Zeno justru kembali diselimuti rasa bersalah. Ada rasa takut kenapa sang ibu tidak memberikan tanda-tanda kesembuhan apa semua ini karena dosa-dosanya untuk mendapatkan uang itu dengan cara yang dibenci Tuhan sehingga diberikan kesulitan pula untuk ibunya sembuh.
“Zen, Ibu tidak pernah mengajarkan kamu berbuat kejahatan. Uang-uang itu bukan hasil curian, rampok atau menjual benda atau barang yang terlarang kan?” tanya Zunai yang semakin penasaran dengan sikap sang putra.
Dengan cekatan Zeno langsung menggelengkan kepalanya. “Bu, Zeno tidak akan melakukan itu. Zeno tahu konsekuensinya kalau melakukan kejahatan, Zeno tidak akan tega membiarkan Ibu sendirian kalau Zeno tertangkap polisi.”
“Ibu kenal dengan orang itu.”
“Apa dia Kimi?” tanya Zunai dengan kedua mata melebar karena terkejut.
“Tepatnya mantan bos Zeno.” Zeno sudah berjanji tidak akan membocorkan semua ini sehingga ia juga harus punya cara untuk meyakinkan sang ibu kalau uang itu ia dapat dengan cara yang baik.
__ADS_1
“Suami Kimi?”
Zeno mengangguk lemah. “Zeno menjual apa yang Zeno punya, dan mereka tidak punya.”
“Ma- Maksud kamu apa Zen, Ibu tidak tahu.” Wanita paruh baya itu menggeserkan duduknya untuk mencari posisi yang lebih nyaman, ketegangannya membuat ia tidak nyaman untuk duduk.
“Orang tua Xyan sakit gagal ginjal kronis, dan Zeno terpaksa menjual setengah ginjal Zeno untuk kesembuhannya, dan sebagai gantinya Zeno meminta mereka mengobati Ibu sampai sembuh. Maafkan Zeno hanya ini yang bisa Zeno lakukan, tapi Ibu jangan khawatir Zeno akan baik-baik saja, semuanya aman. Jadi Ibu akan tetap bersama Zeno.”
Tangisan langsung terdengar di kamar yang luasnya hanya 4 x 4 meter. Zeno pun memeluk tubuh ringkih ibunda tercinta, dari sudut matanya keluar butiran bening, sebagai tanda ia terlalu berdosa harus terus membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lainya.
‘Maafkan Zen, Bu. Lagi-lagi Zeno berbohong dengan Ibu, tetapi Zeno tidak bisa berkata jujur dengan Ibu, selain Ibu pasti akan marah, janji Zeno dengan Kimi bisa terbongkar. Zeno tidak mau masuk penjara dan meninggalkan Ibu sendirian. Semua ini Zeno lakukan untuk Ibu.’
Sejak Zeno berkata dari mana uang yang ia dapatkan untuk pengobatan sang ibu. Zunai pun menepati janjinya. Wanita itu kembali bersemangat untuk sembuh, kembali bersemangat untuk untuk membuktikan pada sang anak kalau ia akan sembuh dan menemani anaknya hingga menemukan jodohnya.
Wajah bahagia pun terlihat dari Zeno, ia sangat yakin kalau sang ibu akan sembuh dan mereka akan terus bersama. Perlakuan sang ibu pun semakin hari semakin sayang dengan Zeno, karena ia beranggapan bahwa yang dikatakan Zeno adalah benar. Putranya telah menjual setengah ginjalnya untuk digantikan dengan biaya-biaya pengobatanya.
"Semoga Ibu bener-benar bisa sebuah, dan aku tidak akan dihantui oleh perasaan bersalah terus."
Bersambung....
__ADS_1
Sembari nunggu kisah kelanjutan dari Kimi dan teman-temannya, mampir dulu yuk ke novel bestie othor dijamin bikin baper...