
Hari-hari terus berjalan seperti biasanya, Zeno pun sesuai dengan yang Kimi minta tidak pernah menghubungi Kimi lagi, baik hanya sekedar menegur sapa, menanyakan hasil kerja keras mereka atau apa pun itu Kimi benar-benar dibuat sangat bahagia karena apa yang ia ingin kan benar-benar berjalan dengan lancar.
Satu bulan sudah berlalu Kimi, pun dengan sengaja memang tidak memeriksakan diri dulu pada dokter itu ia lakukan untuk memberikan kejutan pada diri sendiri, hingga pagi hari Kimi merasakan kalau tubuhnya berbeda, ia merasakan mual dan pusing seperti halnya yang dikatakan oleh dokter Rina, pada ciri-ciri wanita hamil. Wanita cantik itu pun langsung menghitung tanggal dia biasanya datang bulan. Tidak henti-hentinya Kimi melafalkan doa agar apa yang dia harapkan benar-benar terjadi. Ia bisa hamil dan bisa membahagiakan kedua mertuanya dan juga pastinya sang suami. Tubuhnya bergetar ketika ia baru sadar ternyata dirinya sudah melewatkan jatah datang bulannya.
“Ya Tuhan, apa ini tandanya aku hamil?” gumam Kimi dengan bibir bergetar dan juga mata yang berkaca-kaca. Meskipun ia sudah sejak lama menginginkan berada di posisi ini, tetapi Kimi benar-benar terlalu gugup, dan entah ia harus berbicara apa ketika ia memang benar-benar tetap nantinya.
Dengan perasaan yang sangat tidak tenang Kimi pun membuka laci di mana alat kehamilan sudah tersedia banyak di laci itu. Langkah awal seperti sebelum-sebelumnya Kimi pun menggunakan benda pipih itu untuk mengecek apakah dirinya hamil atau tidak.
“Sekali lagi ya Tuhan tolonglah beri aku kepercayaan anak dalam rahim ini, agar aku tahu bagaimana bisa melihat orang-orang yang aku sayang bahagia menyambut kehamilanku.” Tidak ada henti-hentinya Kimi berdoa, mungkin dari situasi yang pernah ia lalui posisi saat ini adalah posisi yang paling menegangkan.
Kedua mata Kimi langsung melebar sempurna ketika ia melihat dua garis berwarna merah terpampang jelas di alat tes kehamilan yang dia gunakan. Satu alat kehamilan pun sudah cukup meyakinkan kalau benih yang Zeno tanam memang sangat baik sehingga langsung jadi, tetapi Kimi terus mencoba kembali untuk meyakinkan kalau dia memang benar-benar hamil.
Tanpa sadar sepuluh test pack semuanya bergaris dua, yang memberikan jawaban kalau usahanya dengan Zeno memang berhasil. Ini adalah momen yang sudah ia tunggu selama lima tahu. Cukup lama Kimi terisak saking bahagianya ia bisa mewujudkan apa yang suami, dan kedua mertuanya inginkan.
__ADS_1
“Akhirnya aku bisa melihat test pack bergaris dua. Bibit laki-laki itu memang tidak bisa di ragukan,” batin Kimi, dan kini wanita itu pun dalam otaknya sedang menyiapkan kejutan untuk sang suami.
“Aku harus memberitahukan pada Mas Xyan dengan cara yang romantis,” batin Kimi, ini adalah momen yang sangat langka, bahkan mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia memberikan kejutan ini, sehingga Kimi tidak mau melewatkan kejutan yang terlalu biasa ia ingin memberikan kejutan yang tidak akan dilupakan baik bagi suaminya maupun bagi ke dua mertuanya.
Kimi akan memberikan kejutan yang romantis untuk memberikan kejutan pada Xyan, dan juga ke dua mertuanya, kalau dia akan segera menjadi seorang ayah, dan juga ke dua mertuanya akan segera menjadi kakek dan nenek. Kimi bahkan sudah membayangkan betapa bahagianya suami dan juga mertuanya nanti.
Wanita itu menyimpan kesepuluh test pack dengan rapi, agar Xyan jangan mengetahui dulu bahwa dirinya sedang hamil. Ia menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan dan mencoba setenang mungkin dan sebisa mungkin tetap menunjukkan wajah seperti biasanya. Ia memastikan sekali. Lagi sebelum ke luar dari dalam kamar mandi kalau sisa tangis bahagia tidak terlihat di wajah cantiknya.
“Kamu kenapa Sayang, kok tumben pagi-pagi langsung ke kamar mandi dan terburu-buru seperti itu?” tanya Xyan yang mana memang sudah menjadi kebiasaannya ia maka akan bangun lebih dulu dari sang istri.
“Oh iya Mas nanti sore Mas pulang jam berapa?” tanya Kimi, agar ia bisa mempersiapkan semua kejutan untuk Xyan dan kedua mertuanya.
Laki-laki itu mencoba berpikir dengan keras mungkin mengingat ada jadwal meeting atau tidak. “Mas kurang tahu, memang kenapa?” tanya Xyan dengan suara yang lembut.
__ADS_1
“Kimi ingin ke rumah Mami dan Papi, apa Mas bisa pulang lebih sore. Sudah lama loh kita tidak mengunjungi orang tua mas, kasihan kan Papi dan Mami pasti menginginkan kita berkunjung,” ucap Kimi dengan suara yang manja dan menggoda. Kimi sangat tahu betul kelemahan dari sang suami.
“Baiklah, kamu atur saja, nanti Mas akan pulang lebih awal,” balas Xyan dengan santai. Seperti yang dikatakan oleh Kimi kalau Xyan pasti akan mengabulkan apa yang ia inginkan.
“Baik Mas, sekali lagi Kimi ucapkan terima kasih yah.”
Xyan pun hanya membalas dengan anggukkan sebelum ia pergi bekerja, dan akan pulang lebih awal seperti janjinya pada sang istri.
Bersambung....
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kisah kelanjutan dari Kimi yuk mampir ke novel bestie othor. Kuy ramaikan...
__ADS_1