
"Dok tolong lakukan yang terbaik pada Kimi, Dok. Saya akan bayar berapa pun asal Kimi selamat Dok." Xyan pun terus memohon agar dokter melakukan yang terbaik untuk istrinya.
Sang dokter hanya mengulas senyum masam. "Maaf sekali lagi Tuan, bukanya saya tidak mau membantu Anda, tapi untuk saat ini kondisi Kimi sudah di bawah kuasa kami, sangat lemah hidup dan mati bukan kami yang menentukanya jadi tetaplah berdoa untuk kesembuhan Kimi." Dokter pun tidak lama langsung meninggalkan Xyan yang sudah kembali terisak.
Tidak ada yang bisa ia ambil dari kemarahanya selain penyesalan yang teramat dalam. Kini ia hanya berpasrah dan bisa berdoa untuk kesembuhan Kimi. Berjam-jam Xyan terus menunggu Kimi. Ia yakin Kimi tidak akan meninggal. Kimi yang ia kenal adalah orang yang baik, dan kuat. Tidak mungkin Kimi akan menyerah begitu saja.
"Xyan, apa yang terjadi dengan Kimi." Selah hampir dua belas jam Xyan sendirian menunggu Kimi, kini Nuna dan Piter pun menyusul Xyan ke rumah sakit untuk memastikan kondisi menantunya baik-baik saja.
Melihat kedua orang tuanya datang, Xyan pun hanya mengulas senyum masam. "Semua ini salah Xyan," jawab Xyan dengan pasrah, tanpa menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Kata Bibi, kamu dorong Kimi?" Piter kini yang mengambil pertanyaan untuk Xyan.
Xyan bingung mau mejawab apa, dia tidak sengaja mendorong Kimi hingga terjatuh. Laki-laki itu pun hanya diam mendengar pertanyaan orang tuanya. Kini ia benar-benar pasrah. Bahkan dipenjara pun ia akan rela. meskipun tidak ada niat sedikit pun untuk mendorong Kimi.
Tidak lama lagi dokter Rina pun datang, dokter kandungan sekaligus yang menyarankan agar Kimi membeli bibit dari laki-laki lain, tetapi wanita yang berprofesi sebagai dokter itu tidak pernah berpikir kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Dokter Rina hanya berdiri dengan diam di antara mereka menunggu hingga Kimi sadar.
Tidak lama Dokter ke luar dari ruang ICU. "Apa ada yang bernama Dokter Rina?" tanya Dokter yang menjaga Kimi.
"Saya Dok." Dokter Rina langsung maju dengan mengangkat tanganya.
"Kimi sudah sadar dan ingin berbicaraa dengan Anda, tapi tidak lebih dari setengah jam. Kondisi Kimi sangat lemah."
__ADS_1
"Baik Dok." Dokter Rina pun langsung berganti menggunakan pakaian dengan pakaian steril dan langsung masuk menemui Kimi.
Sedangkan Xyan dan kedua orang tuanya langsung terlihat bahagia sekali ketika mendegar kalau Kimi sudah sadar. Xyan tidak henti-hentinya berdoa agar Kimi sehat kembali. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan percaya apa pun yang Kimi katakan, dan akan menganggap Xeva dan Xevi adalah anak kaandungnya sendiri.
Terserah kenyataan mengatakan kalau Xesa dan Xevi bukan anaknya, tapi bagi Xyan mereka lebih dari anak kandung. Terlebih wajah mereka juga mirip.
"Kimi apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rina dengan pelan di balik telinga Kimi. Kondisi Kimi benar-benar parah bahkan Rina yang bekerja sebagai dokter juga setelah melihat kondisi Kimi, meragukan kesembuhan ibu dari dua anak itu.
Kimi yang mendengar pertanyaan dokter hanya bisa mengulas senyum tipisnya.
"Katakanlah apa yang akan kamu katakan," ucap Rina dengan mengusap rambut Kimi. Seolah Kimi adalah putrinya sendiri.
"Apah? Kamu pengin aku rekam ucapan kamu?" tanya dokter Rina, dan Kimi membalas dengan anggukan kepala.
"Baiklah aku akan rekam." Dokter Rina pun merogoh ponselnya dan menyiapkaan rekaman untuk merekam ucapan Kimi.
"Xyan tidak salah, aku yang tidak pegangan sehingga jatuh." Kimi berbicara sangat pelan dan lirih bahkan sesekali tersengal. Karena kondisinya yang sangat lemah.
"Xeva dan Xevi jangan benci Ayah." Ternyata meskipun Kimi tadi diam saja, tetapi ia mendengar semua ucapan putra dan putrinya termasuk Xyan. Kimi tidak ingin kedua anaknya membenci Xyan meskipun dia bukan ayah biologi Desa dan Xevi tetapi Xyan sangat baik. Kalau tidak ada Xyan entah kemana lagi mereka akan mengadu dan berbagi kasih kalau bukan pada Xyan.
"Udah ...." Kimi pun yang sudah tidak kuat menyudahi ucapanya.
__ADS_1
"Apa ada lagi yang ingin kamu ucapkan?" tanya dokter Rina dengan mata berkaca-kaca mendengar ucapan Kimi ia benar-benar terharu dengan kebaikan Kimi.
"Titip Xeva dan Xevi yah Dok, saya takut Mas Xyan tidak mau merawat anak-anakku." Kimi kembali menghentikan ucapanya ia sangat kesakitan.
"Kamu ngomong apa sih, jangan titipkan anak-anak kamu pada aku. kamu harus sembuh," balas dokter Rina.
Kimi hanya membalas dari gelengan kepala, dan kemudian matanya terpejam.
"Dok panggilkan Mas Xyan ....." ucap Kimi dengan mata terpejam. Ingin dokter Rina marah pada Kimi yang seolah tidak mau berjuang untuk sembuh, tapi ini bukan situasi yang tepat. Dokter Rina pun bergegas dan bersiap akan keluar.
"Kamu tuggu yah, aku akan panggilkan suami kamu."
Tanpa menunggu lama Rina pun meninggalkan Kimi sendirian dan kali ini memanggil Xyan.
"Xyan, kamu dicari Kimi," ucap dokter Rina dengan nada bicara yang datar. Dokter Rina masih marah dengan Xyan, meskipun dokter Rina belum tahu apa yang terjadi, tetapi wanita itu tahu kalau Xyan dan Kimi terlibat pertengkaran dan menurut asisten rumah tangga yang melihat Xyan mendorong Kimi.
Mendengar ucapan dokter Rina. Xyan pun bergegas langsung masuk ke dalam ruangan Kimi. Hatinya sudah sedikit lega. Apalagi Kimi tidak marah dengan dirinya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1