
Di saat Kimi dan suaminya sedang bahagia karena kelahiran anak mereka, justru di tempat lain kabar kurang mengenakan harus Zeno terima. Pengobatan sang ibu selama sembilan bulan tidak banyak memberikan perubahan yang berarti. Kondisi Zunai semakin melemah. Bahkan untuk melakukan aktivitas penting tidak bisa sendiri. Untuk berjalan dan untuk makan Zunai sangat bergantung dengan Zeno.
“Mah, Mamah tunggu di sini yah. Zeno akan bertemu dengan dokter penanggung jawab Mamah dulu. Nanti kalau Mamah butuh sesuatu pencet tombol ini. Zeno tidak akan lama perginya.” Zeno menunjukkan tombol mana yang harus di pencet oleh Zunai apabila ia memerlukan bantuan.
Wanita kurus dengan wajah pucat itu, memberikan seulas senyum, lalu mengangguk samar. “Pergilah, Mamah masih bisa jaga badan Mamah sendiri.”
Ini adalah hari ketiga Zunai kembali menjalani rawat inap, karena kondisinya yang terus menurun. Meskipun Zunai selalu saja menolak untuk dirawat, tetapi berkat paksaan dari Zeno, akhirnya Zunai pasrah juga.
“Masuk!”
Zeno membuka pintu berwarna putih setelah mendengar perintah masuk dari dalam sana, entah ini hanya perasaannya saja atau memang ini adalah pertanda bahwa hal buruk akan terjadi dengannya. Perasaan Zeno benar-benar tidak tenang. Gelisah dan tidak fokus sejak tadi.
“Duduk Mas Zeno.” Seorang laki-laki mengenakan jas berwarna putih yang sudah sembilan bulan menjadi teman curhat, mempersilahkan Zeno duduk dengan sangat lembut.
“Dok, apa yang terjadi dengan ibu saya, Kenapa akhir-akhir ini perasaan saya sangat tidak tenang.”
__ADS_1
Laki-laki itu memperbaiki cara duduknya dan menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang kosong.
“Ini hasil pemeriksaan terakhir.” Selembar kertas disodorkan ke hadapan Zeno. Namun laki-laki itu segera menepisnya.
“Saya tidak bisa membaca arti tulisan itu semua, bisa Anda jabarkan saja, meskipun saya tidak sepenuhnya siap dengan apa yang akan Anda beritahukan, tetapi saya akan tetap berusaha kuat dan tegar.” Kembali Zeno menggerakkan tubuhnya mencari posisi ternyaman.
“Mohon maaf sebelumnya meskipun ini berat, tapi saya harus mengatakanya. Kondisi Nyonya Zunai kembali memburuk, justru kami menemukan sel kanker yang awalnya hanya di tulang kering kini sudah semakin menyebar.”
Mendengar penjelasan itu Zeno langsung tertunduk lemas, tangan kanannya bertumpu pada pegangan kursi dan memijit keningnya, kelopak matanya langsung terasa hangat. Pantang baginya menangis tetapi setelah tahu berita yang kurang baik dengan kesehatan ibunya air matanya seolah mengejeknya. Pertahanannya roboh, ia terisak sedih membayangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi.
“Tidak lebih dari lima puluh persen. Itu perkiraan kami, tetapi sekali lagi saya dan tim bukan Tuhan, jadi perkiraan ini hanya pandangan secara medis saja.”
Deg!!! Jantung Zeno bergemuruh hebat mendengar ucapan laki-laki berjas putih yang ada dihadapanya.
“Katakan Dok, apa yang harus saya lakukan agar ibu saya tetap bertahan hidup?” Kali ini Zeno mengangkat wajahnya dan sorot mata merah terlihat, seolah memberitahu pada dokter yang bertugas menangani ibunya, bahwa ia rela melakukan apa pun demi kesehatan ibunya.
__ADS_1
“Mas, kami tahu betul apa yang Anda rasakan, tapi kami juga manusia, Andai kami punya kelebihan menyembuhkan manusia, sudah kami lakukan pada setiap pasien yang memiliki kondisi yang sama dengan Nyonya Zunai. Saat ini yang terpentung, tenangkan diri Anda berikan wajah terbaik Anda di hadapan ibu Anda dan jangan biarkan Nyonya Zunai merasakan bahwa Anda sedang menyembunyikan sesuatu, beri harinya yang bahagia. Saya percaya Anda bisa melakukannya.”
Zeno justru menggeleng dengan lemah. “Saya tidak bisa melakukannya Ibu terlalu berharga buat saya. Dari kecil saya dibesarkan oleh Ibu seorang diri, tanpa ayah, Ibu memberikan apa pun yang saya butuhkan, tidak sedikit pun Ibu menyakiti perasaan ini. Sekarang saya melihat Ibu seperti ini hati ini hancur, bagaimana saya bisa berpura-pura tetap baik-baik saja?” adu Zeno dengan suara parau dan menggebu.
Brakkk... pintu ruangan terbuka paksa membuat Zeno yang sedang sedih langsung terperanjat kaget.
“Dok pasien atas nama Nyonya Zunai, kembali kritis.”
Jeduer... petir seolah menyambar tubuh lemah Zeno. Di saat dokter berlari menuju kamar rawat ibunya, Zeno justru terduduk dengan lemah, bersimpuh di atas ubin dengan tangis ketakutan.
“Apa yang sedang Engkau, rencanakan Tuhan.”
Bersambung....
...****************...
__ADS_1