
Kebahagiaan pun semakin Kimi rasakan terutama setelah ia melahirkan dua anak kembar laki-laki dan perempuan. Tanpa terasa tiga hari telah berlalu dan hari ini Kimi pun akan pulang ke rumah. Kedua mertuanya pun sudah memberitahu kalau mereka sudah ada di rumah Kimi untuk menyambut kepulangan dua cucunya.
“Apa kamu sudah siap Sayang?” tanya Xyan, seharusnya tanpa ditanya laki-laki itu sudah tahu jawabannya dari raut wajah Kimi yang tidak henti-hentinya tersenyum itu tandanya wanita yang baru saja resmi menyandang status sebagai ibu sangat siap untuk pulang ke rumah mereka.
“Mas, udah deh, buruan. Kimi udah nggak sabar ingin sampai rumah nih.” Wanita cantik itu mencebikkan bibirnya. Lantaran sang suami yang terus meledeknya dengan pertanyaan yang berulang-ulang.
“Astaga galak banget mahmud ini.”
“Lagian Mas yang mulai. Apa Mas itu nggak tahu salah satu ciri-ciri wanita udah jadi ibu itu galak. Jadi nanti Kimi bisa dua kali lipat galaknya dari sekarang, dan itu terjadi kalau Mas macam-macam.”
Xyan justru terkekeh dengan kelakuan istrinya.
“Iya-iya mahmud galak, mana berani Mas macam-macam. Satu macam aja udah cukup.” Tanpa banyak bicara lagi, Xyan pun menuntun istrinya sedangkan dua bayinya sudah dibawa oleh pengasuhnya berjalan lebih dulu menuju kendaraan yang sudah dari tadi siap menunggu di loby rumah sakit.
__ADS_1
Perjalanan pun semakin berwarna dengan diiringi suara musik dari ke dua bayi yang di beri nama Xeva dan Xevi itu. Terlihat repot memang ketika dua anak menangis bersama dan saling berebut untuk minum ASI tetapi Kimi dan Xyan benar-benar bahagia dan menikmati kerepotan itu.
“Surprise....” Kedatangan Kimi dan Xyan serta dua buah hatinya disambut dengan sangat mewah. Ini adalah kepulangan Kimi dari rumah sakit dengan membawa anggota baru ke rumah mereka, tetapi acara penyambutannya seperti tengah menyambut manten. Sangat meriah bahkan ruang tamu dan kamar pribadi Kimi tak luput dari dekorasi yang sangat mewah dengan bunga segar dan balon berwarna warni.
“Selamat datang Sayang, Xeva dan Xevi di rumah kalian. Semoga betah dan membawa kedamaian.”
Ucapan selamat dari kedua mertuanya serta para pekerja dan rekan bisnis suami dan keluarga besar menambah kebahagiaan Kimi, dan Xyan.
Namun, di saat Kimi dan Xyan tengah dihujani dengan kebahagiaan yang tiada henti. Di tempat lain Zeno justru sebaliknya. Laki-laki itu tengah dirundung duka. Baru saja ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri sang ibu menyerah berjuang setelah tim medis memberikan pertolongan terbaik.
Tangis Zeno kembali pecah di atas pusara sang bunda.
“Bu, apa yang harus Zeno lakukan tanpa Ibu di samping Zeno? Zeno harus bagaimana Bu? Bukanya Ibu tahu, kalau Zeno tidak bisa jauh dengan Ibu. Terserah orang-orang bilang Zeno anak mamah, anak manja dan apalah itu, terserah. Dan memang itu benar kan Bu. Zeno nggak tahu setelah ini mau apa tanpa adanya Ibu di samping Zeno.”
__ADS_1
Tangan laki-laki itu mengusap foto besar dirinya bersama dengan Zunai yang sengaja ia letakan di atas pusara sang bunda.
“Bu, Ibu jangan takut yah, Zeno akan terus bersama dengan Ibu. Lihat Bu senyum Ibu sangat cantik, dan Zeno sangat mirip dengan Ibu. Jadi Ibu jangan sedih yah, Zeno akan temani Ibu terus.” Tak henti-hentinya laki-laki itu menatap bingkai foto yang memperlihatkan senyum cantik sang ibu.
Entah berapa lama Zeno terus menerus mengajak ngobrol dengan bingkai foto itu, hingga terangnya matahari berganti dengan kegelapan malam.
“Bu, Zeno pulang dulu yah. Ibu istirahat yang tenang besok Zeno akan datang ke sini lagi. Zeno janji akan sering-sering mengunjungi ke rumah Ibu. Ibu jangan sedih, karena sampai kapan pun cinta Zeno akan terus ada untuk Ibu.”
Meskipun berat Zeno akhirnya pulang untuk istirahat, niat hati ingin istirahat di rumah, tetapi lagi-lagi bayangan kebersamaan ibunya membuat laki-laki itu kembali dirundung kesedihan. Ini adalah cobaan terberat untuk laki-laki itu, perjuangannya untuk mendapatkan uang banyak agar bisa mengantarkan kesembuhan untuk sang ibu justru berakhir dengan kehilangan sang ibu.
Pagi harinya sesuai janji Zeno, ia kembali ke makam ibunda tercinta, dan hampir setiap hari Zeno mengunjungi makan Zunai, dan bercerita apa pun yang dia lalui. Termasuk rasa kesepiannya di rumah seorang diri. Rasa lega apabila sudah bercerita di atas pusara sang ibu membuat Zeno selalu mengulangi hal itu setiap hari, bahkan Zeno sampai menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dengan ibunya.
Mungkin bagi orang yang tidak merasakan kedekatakan dengan seorang ibu perlakuan Zeno seperti orang gila, tetapi bagi Zeno itu sangat mengasikan karena ia merasakan seperti bercerita seperti biasanya yang dia lakukan dengan teman curhat satu-satunya.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...