Membeli Benih Mantan Kekasih

Membeli Benih Mantan Kekasih
Kebohongan Zeno


__ADS_3

Hari terus berganti, tanpa terasa tiga tahun telah berlalu, Xeva dan Xevi pun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan baik. Kehidupan rumah tangga kecil Kimi pun bisa dibilang sangat sempurna, kecemasan Kimi kalau anak-anaknya akan mirip dengan Zeno rupanya tidak harus di khawatirkan secara serius. Wajah kedua anaknya justru lebih banyak mirip dengan dirinya sehingga sampai detik ini tidak ada satu pun yang curiga kalau anak kembar itu bukan anak suaminya.


Hari ini adalah hari pertama untuk anak kembar Kimi bersekolah taman kanak-kanak. Kedua mertua Kimi pun semakin hari semakin baik dan sayang dengan cucu-cucunya. Bahkan tidak jarang dua anak kembar itu akan menginap di rumah sang kakek dan nenek, dan Kimi bersama Xyan selalu memanfaatkan waktu itu untuk berpacaran seperti saat belum ada anak-anak.


“Xeva, Xevi, ayo doang sudah siap belum?” Suara Nuna pagi-pagi sudah menggema. Yah, wanita paruh baya itu pun tidak kalah antusias dari cucu dan menantunya untuk mengantar cucu-cucunya sekolah.


“Oma...” Xeva dan Xevi langsung berebut untuk sampai lebih dulu ke Nuna.


“Kimi kamu kalau banyak kerjaan Xeva dan Xevi biar Mami yang antar.” Mendengar ucapan sang mertua Kimi pun langsung melebarkan senyum semangatnya.


“Serius Mi? Kebetulan Kimi badanya seperti meriang mungkin karena terlalu repot menyiapkan segala macam persiapan anak-anak yang mau sekolah, jadi kalau Mami tidak keberatan Kimi ingin istirahat saja di rumah.”


“Iya-iya kamu isirahatlah tidur atau pijat biar nanti segar lagi, urusan si kembar biar Mami yang atur.”

__ADS_1


“Terima kasih Mih.”


“Iya sama-sama, kamu kan bukan cucu dari untramen, jadi wajar cape dan butuh istirahat.” Kimi pun tertawa dengan candaan mami mertuanya.


Setelah semua siap Kimi pun mengantar anak-anaknya sampai mobil, untungnya mereka tidak keberatan kalau diantar sekolah saat pertama oleh omanya. Bahkan terlihat senang sekali, yah Kimi sih tahu kesenangan anak-anaknya kalau diantar oleh omanya karena mereka bisa meminta apa pun itu. Oma dan opanya akan memberikan semua yang diminta oleh cucu-cucunya.


“Akhirnya bisa rebahan juga,” gumam Kimi sembari bermain ponsel di atas kasur, hal simpel seperti ini sudah membuat Kimi bahagia, karena kalau ada si kembar belum tentu bisa rebahan dengan bermain ponsel. Niat hati ingin mencari hiburan dengan membaca novel online malah Kimi dikagetkan dengan pesan dari seseorang yang sudah hampir lima tahun tidak pernah lagi muncul dalam kehidupannya.


“Zeno, kenapa dia bisa hubungi aku lagi.” Kimi sebenarnya malas untuk membuka pesan dari Zeno, tetapi wanita itu juga penasaran. Dengan perasaan tidak menentu Kimi membuka pesan dari ayah biologis si kembar.


[Aku butuh uang untuk pengobatan ibuku, uang yang kamu berikan sudah habis, dan ibuku membutuhkan uang-uang yang jauh lebih banyak untuk pengobatannya.] Itu adalah pesan dari ayah biologis dua anak kembarnya. Kimi yang tidak tahu bahwa ibu dari Zeno sudah berpulang pun percaya saja dengan apa yang Zeno katakan.


[Apa Bibi Zunai belum sembuh?] tanya Kimi, hanya untuk memastikan kalau uang-uang yang Zeno minta memang untuk pengobatan ibunya.

__ADS_1


[Kalau sudah sembuh, aku tidak akan meminta uang dari kamu lagi. Bukanya kamu sudah dapat kebahagiaan yang kamu inginkan?]


[Baiklah aku percaya, aku akan beri uang-uang itu, tapi kamu jangan ganggu kebahagiaan rumah tanggaku!] balas Kimi lagi. Yang langsung membuat Zeno di tempat berbeda yang membaca balasan dari Kimi langsung tertawa dengan renyah.


[Beri aku lima ratus juta, setelah itu aku akan tutup mulut] Zeno semakin besar kepala dan sisi baiknya seolah terkikis dengan uang-uang yang ingin dia dapatkan dari Kimi.


[Aku pegang omongan kamu, tapi awas kalau kamu menipuku, dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memerasku.] ancam Kimi, tetapi Zeno yang membaca pesan Kimi hanya tersenyum sinis.


[Untuk apa nipu, kalau bukan untuk kesembuhan ibuku aku juga tidak akan pernah mau berhubungan dengan kamu lagi.]


Membaca pesan terakhir yang Zeno kirim, Kimi pun percaya saja, ia tanpa pikir panjang langsung mengirim uang yang Zeno minta, dan berharap kalau laki-laki itu tidak akan meminta uang-uang lagi.


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2