
Brakkkk pintu kamar Kimi dibuka dengan paksa, di mana Kimi sedang berdiri menatap ke luar jendela. Belakangan ini Kimi memang lebih suka mengurung diri di dalam kamarnya. Bahkan urusan anak-anaknya semuanya dikerjakan oleh pengasuhnya. Untuk makan pun Kimi sangat sedikit sehingga berat tubuhnya sangat turun dratis.
Kimi terperanjat ketika mendengar pintu kamarnya di buka. Setelah Kimi melihat siapa yang datang dia langsung berjalan mendekati Xyan.
"Mas, aku kangen banget," ucap Kimi dengan berkaca-kaca, ia bersiap akan memeluk Xyan.
"Stop!! Jangan melangkah lagi, aku tidak ingin disentuh oleh pela-cur murahan, yang mau tubuhnya di sentuh oleh siapa pun dengan bebas," balas Xyan dengan tatapan yang membunuh, mata merah menadakan kalau Xyan memang sangat marah.
Degg!! Kimi langsung bergeming ketika mendengar ucapan Xyan. Yah, apa yang Kimi takutkan akhirnya terjadi. Kimi yakin Xyan sudah tahu siapa anak yang mereka rawat.
"Apa kamu tahu sesuatu Mas?" tanya Kimi dengan suara lemah dan air mata sudah jatuh luluh.
Tanpa menjawab pertanyaan Kimi, Xyan langsung melepar hasil tes DnA ke hadapan Kimi. "Aku rasa itu sudah jadi bukti kalau kamu memang wanita murahan." Tidak perduli apa yang dikatakan Xyan menyakitkan untuk Kimi atau tidak, yang jelas Xyan sudah kehilangan sifat baiknya.
Tes ... Tes ... air mata Kimi terus menetes mendengar ucapan Xyan, tetapi ia juga sudah siap atas apa pun yang terjadi pada Xyan, dia tidak bisa membela diri. Perlahan Kimi pun membaca apa yang ada di kertas yang Xyan lempar.
Air matanya semakin jatuh ketika membaca hasil tes DnA di mana di sana jelas tertulis Xeva dan Xevi bukan anak Xyan.
"Mas, aku bisa jelaskan." Kimi berusaha memohon dengan bersujud di kaki Xyan tetapi laki-laki itu yang sedang marah pun langsung menendang Kimi. Bukan menendang sih, tetapi lebih tetapnya menyingkirkan Kimi agar tidak memegangi kakinya, tetapi karena Kimi yang lemas karena tubuhnya untuk beberapa hari makan tidak teratur pun langsung tersungkur.
"Jangan sentuh tubuhku, mulai sekarang kamu bukan istriku lagi. Lebih baik kamu pergi dari sini, dan bawa anak-anak haram kamu!" bentak Xyan dengan tatapan yang jijik menatap Kimi.
__ADS_1
Deg!! Hati Kimi semakin hancur. Ia bingung mau pergi ke mana, tidak ada tempat untuk berlindung selain Xyan.
"Mas tunggu jangan kaya gini kita bisa bicara baik-baik. Aku melakukan ini juga terpaksa semuanya demi kamu dan ...." Kimi yang merusaha menjelaskan pun langsung diam ketika Xyan menarik tanganya dengan paksa hingga dia merasa tanganya sakit seperti mau terlepas.
"Jangan berusaha membela diri aku muak. Tidak ada kata bicara baik-baik untuk ja-lang seperti kami, lebih baik kamu pergi." Xyan yang dikuasa api kemarahan pun menarik tangan Kimi hingga Kimi tidak bisa berjalan dengan benar tubuhnya terseret semakin sakit.
"Mas jangan gini aku mohon, kamu menyakiti aku." Kimi berusaha menyadarkan suaminya. Namun Xyan tidak menggubris ucapan Kimi sepatah kata pun. Xyan justru menarik Kimi semakin keras.
Pertengkaran Xyan dan Kimi pun terdengar hingga ke lantai bawah bahkan banyak asisten rumah tangga yang mendengar pertengkaran itu.
Kimi pun terus berontak berusaha melepaskan tangan Xyan yang sudah membuat pergelangan tanganya terluka karena kuku-kuku tajam Xyan sudah menancap di kulit putih Kimi.
Brakkkk.... Arhkkkkk
Kimi terjatuh karena pegangan tangga yang terlepas, bertepatan dengan itu Xyan tidak memegang Kimi dengan kuat. Kimi jatuh dan mengeluarkan darah dari hidung mulut dan telinganya. Tubuhnya terbentur lemari yang kuat dan baru tubuh Kimi jatuh ke lantai hingga luka parah di belakang kepalanya, dan punggungnya. Tanpa Xyan sadari kedua buah hati Kimi melihat kejadian itu.
"Kimi...." Xyan yang melihat kondisi Kimi terlentang dengan banyak darah yang keluar pun langsung berlari menghampiri istrinya. Sedangkan Xeva dan Xevi pun langsung menangis histeris melihat ibunya tidak bergerak.
"Bunda bangun Bunda...." Xeva dan Xevi mencoba membangunkan bundanya, tetapi Kimi tetap tidak merespon apa pun.
"Kimi, bangun Kimi, aku tidak bermaksud kaya gini," pekik Xyan dengan mencoba menepuk pelan pipi Kimi, tetapi tidak juga ada perubahan.
__ADS_1
"Ayah jahat." Xeva langsung menatap Xyan dengan mata yang merah karena menangis.
"Xevi benci Ayah, Ayah bikin Bunda sakit." Tidak ketinggalan Xevi pun memberikan kata-kata yang menyakitkan untuk Xyan.
"Maafkan Ayah, Sayang. Ayah tidak sengaja." Xyan pun serba salah.
"Xeva benci Ayah." Kedua anak kembari itu pun langsung berlari ke kamarnya, Xyan bingung kedua anaknya menangis, tetapi kondisi Kimi juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Tanpa berpikir lama Xyan pun langsung membawa Kimi ke rumah sakit. Biarkan anak-anaknya ada pengasuh yang pasti akan menenangkanya.
********
Detik berlalu ke menit, menit pun terus bergulir hingga tidak terasa sudah dua jam Kimi belum juga ke luar dari ruang operasi.
Namun, tidak lama seorang dokter ke luar dengan wajah lesu. Xyan langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter. "Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Xyan dengan wajah cemas dan juga rasa bersalah yang sangat tinggi.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa melanjutkan operasi kondisi istri Anda sudah sangat lemah, sekalipun dioperasi luka dikepalanya sangat parah, tulang ekor pun patah karena benturan hebat. Kecil kemungkinan akan selamat."
Jeduerrr... bak tersambar petir di siang hari yang cerah. Bukan ini yang Xyan inginkan, dia memang marah pada Kimi, tapi tidak dengan membuatnya meninggal dunia.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1