
Begitu sampai di rumah, pandangan Xyan langsung menatap tangga di mana Kimi jatuh. Tangga yang rusak di sana kini sudah diperbaiki kerusakanya. Begitu juga darah Kimi yang berceceran sudah tidak ada. Rumah sudah nampak tidak ada apa-apa lagi.. Seperti tidak ada kejadian apa-apa lagi.
Xyan juga menatap asisten rumah tangga dan pengasuh Kimi yang juga nampak dari raut wajahnya mereka semua sangat sedih dengan kepergian Kimi.
"Istri saya sudah meninggal, tolong doakan almarhum dan maafkan kalau ada salah," ucap Xyan dengan suara lirih, yang langsung asisten rumah tangga dan pengasuh anaknya terisak, dan mengangguk pelan.
"Di mana Xeva dan Xevi?" tanya Xyan dengan siara beratnya.
"Ada di kamar Tuan sudah tidur," jawab pengasuh putra putrinya.
"Apa dia masih membenci saya?" tanya Xyan lagi.
"Tidak Tuan. Xeva dan Xevi sudah ditangani oleh psikiater, mereka hanya tahu Nyonya jatuh bukan didorong oleh Anda." Pengasuhnya pun memberikan penjelasan dengan sangat detail.
Xyan pun hanya mengangguk dan kembali mengayunkan kakinya ke kamar putra dan putrinya. Menatap anak-anak yang cantik dan tampan sedang tertidur dengan pulas. Xyan pun langsung meneteskan kembali air matanya. Perlahan Xyan menghampiri putra dan putrinya bergantian mengusap rambut mereka dan memberikan kecupan sayang.
__ADS_1
"Maafkan Ayah sayang, gara-gara Ayah kalian tidak akan pernah bertemu dengan bunda lagi."
Xyan pun yang tidak kuasa melihat anak-anaknya tidur dengan polos langsung beranjak dari kamar anaknya dan mencoba masuk ke kamarnya. Xyan tidak mau tangisnya nanti akan membangunkan anak-anaknya. Dengan perlahan Xyan menapaki anak tangga satu per satu, meskipun setiap melewati tangga di mana Kimi jatuh tubuhnya meremang bukan karena takut hantu, tetapi rasa bersalah dan berdosa menghampiri dirinya.
Begitu membuka pintu kamarnya yang pertama dirasakan pasti dingin. Kamar yang biasanya hangat setiap ia pulang selalu disambut mesra oleh Kimi, kini berubah sangat dingin dan bayang-bayang Kimi justru terus menghantuinya.
Pelahan ia membuka ponsel yang sudah satu minggu lebih tidak ia lihat.
Air mata itu kembali jatuh ketika melihat betapa banyaknya panggilan yang Kimi lakukan untuk Xyan. Bukan hanya panggilan tapi juga pesan berbaris rapih dari Kimi. Perlahan Xyan mencoba membuka pesan dari Kimi. Dengan air mata yang sudah berlinang.
"Mas, kamu ada apa sih kenapa sekarang berbeda sekali? Aku melihat orang lain di diri kamu."
"Mas kamu sudah makan belum? Jangan lupa makan." Untuk pesan yang mengingatkan makan hampir setiap jam makan selalu Kimi ingatkan suaminya agar jangan telat makan.
"Mas apa kamu sudah tidur? Aku kangen banget sama kamu biasanya kita kalau mau tidur selalu cerita-cerita. Tapi sekarang kamar sepi." Kali ini Xyan teringat akan perilakunya yang selalu bermain wanita-wanita setiap malam, tanpa memikirkan istrinya. Tapi Kimi justru terus memikirkan dirinya.
__ADS_1
"Mas, Xeva dan Xevi dapat nilai bagus." Kimi mengirimkan gambar putra dan putrinya.
Xyan menghentikan membaca pesan-pesan dari Kimi yang semakin membuatnya sesak dan dipenuhi rasa bersalah. Kemarin Kimi yang merasa kamar ini dingin dan sepi, dan sekarang Xyan yang merasakanya. Xyan mengambil pakaian Kimi dan memeluknya mencium wangi Kimi yang sangat Xyan sukai. Untung ada pakaian bekas Kimi yang belum dicuci sehingga bisa Xyan peluk dan dalam pikiranya ia tengah memeluk istrinya.
"Apakah aku bisa menjalani hidup ini tanpa kamu Kimi. Belum satu hari saja aku sangat berat menjalani hidup ini bahagimana kedepanya. Hidup tanpa kamu berat sekali Kimi."
Xyan malam ini pun tidak bisa tidur. Ia awalanya ingin tahu siapa sebenarnya ayah dari anak-anaknya, tapi setelah melihat wajah anak-anaknya yang sedang tidur Xyan pun memutuskan kalau dia lebih baik tidak mengetahu siapa ayah bilogis anak-anaknya. Xyan takut kalau anak-anaknya akan diambil oleh ayah bialogisnya.
Ia berjanji akan menjaga dan merawat anaknya dengan sangat baik, tidak akan Xyan mengungkit siapa anak-anaknya itu. Bagi Xyan anak-anak Kimi adalah amanah dari Kimi. Xyan tidak ingin tahu ayahnya, karena takut akan membenci anak-anak yang tidak bersalah.
Xeva dan Xevi adalah kado terindah dari Kimi. Tanpa ide gila Kimi, Xyan tidak akan pernah merasakan memiliki buah hati itu semua karena ternyata dia yang bermasalah dengan kesuburannya.
"Tapi kira-kira siap pengirim pesan itu yah." Xyan kembali mengecek ponsel dan mencoba memancing siapa kira-kira pengirim pesan misterius itu. Tanpa pesan dari orang asing itu Xyan tidak akan mencari tahu mengenai anak-anaknya, dan mungkin sekarang masih bahagia bersama Kimi dan kedua buah hatinya.
[Saya tidak tahu siapa Anda. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa Kimi telah meninggal dunia. Tolong maafkan kesalahan istri saya dan doakan agar Kimi mahagia di surga-Nya.]
__ADS_1
Xyan mengirimkan gambar makam Kimi yang Xyan ambil sebelum pulang.
Tidak ada maksud apa-apa Xyan hanya berharap orang itu keluar dan meminta ma'af pada Kimi. Istri tercintanya.