
Aku mendapatkan kamar yang nyaman, saat aku keluar dari pondok semua orang telah turun ke dalam danau, tak terkecuali adikku yang mengenakan pakaian renang berwarna putih.
"Bagaimana kakak, apa aku terlihat cocok mengenakannya."
"Kamu sangat cocok."
Karena di hutan ini hanya ada kami jadi tidak masalah jika mereka mengenakan bikini saja, saat orang-orang dari luar negeri mengenakannya saat berlibur di pantai kami hal itu biasa bagi mereka namun untuk orang Indonesia mengenakannya sedikit kurang nyaman jadi aku jarang melihatnya.
"Tapi kakak tidak tersipu malu."
"Mana ada seorang kakak yang tersipu karena melihat adiknya."
"Aku akan telanjang."
"Hentikan di sini juga ada Albert."
"Aku lupa kalau dia perempuan."
Aku melirik ke arah Albert dan ia mengenakan pakaian yang serupa.
"Lu kenapa mengenakan yang begituan," teriakku dalam hati. Tunggu, Aden pasti dia tidak memakai hal itu.
Saat aku mencari keberadaanya dia juga mengenakan hal sama, aku hanya melongo seolah terkena petir di siang bolong.
"Apa? Ternyata Tora bukan anak normal?"
Suara itu muncul dari Bu Nanase yang mengenakan pakaian renang yang sedikit berani, di sebelahnya ada Rin yang malu-malu, Alexia yang terlihat tidak peduli.
Mereka terlihat cocok dan imut mengatakannya.
"Tolong jangan mengatakan hal yang membuat salah paham."
__ADS_1
"Jadi bagaimana penampilan kami."
"Sangat cocok."
Aku mengalihkan pandanganku karena tersipu malu, sementara itu adikku mengembungkan pipinya.
"Tidak adil."
"Sudah-sudah, mari bersenang-senang lagi.. ayo berenang."
"Bukannya danau di alam liar tidaklah aman, bagaimana jika di dalamnya ada dinosaurus," kata Rin.
"Hal seperti itu tidak ada, selagi kita tidak jauh dari pinggiran, itu baik-baik saja, Tora?" tanya Bu Nanase.
"Aku punya hal yang lebih utama dilakukan."
"Baiklah."
Di depanku Albert dan Aden yang telah mengenakan celana menatap langit cerah biru dengan pose lebay.
"Tidak ada danau yang tidak bisa diseberangi, mari berenang Aden."
"Ide bagus."
Aku tidak tahu bahwa keduanya bisa berenang, yang lebih mengejutkan Aden malah ikut-ikutan.
Dia memang paling benci kalah, aku mengalihkan pandangan ke arah para gadis yang saling tertawa dengan hanya mencipratkan air ke wajah masing-masing.
Pemandangan yang indah.
Akan aneh rasanya jika aku bergabung karena itu aku memutuskan untuk memancing agar memiliki makanan untuk siang nanti. Bu Nanase bilang bahwa membawa makanan ke tepi ini sangatlah tidak seru karena itulah dia meminta kami untuk makan dengan apa yang bisa kami dapatkan di sini.
__ADS_1
Ia mengatakan latihan bertahan hidup atau sebagainya.
Melihat bagaimana sekeliling kami yang asri dan banyak di tumbuhi bahan makanan, itu memanglah benar. Aku melemparkan kail pancing dan di saat yang sama ikan berhasil ditangkap untuk dimasukan ke dalam ember.
Jumlah mereka semakin bertambah seiring waktu.
Alexia muncul.
"Apa kau ini seorang pria, harusnya kau bergabung dengan kami bukannya malah memilih memancing, ini kesempatan yang tidak boleh kau lewatkan. Kau bisa tidak sengaja menyentuh dada kami dan selanjutnya melakukan hal tidak senonoh lainnya."
"Memangnya aku pria apa?" kataku lemas.
"Protagonis komedi romantis selalu seperti itu."
"Aku tidak berfikir bahwa aku seorang protagonis aku lebih ke arah pemain pendukung."
"Setelah semua yang kita lakukan aku meragukannya, apa ada yang bisa kami bantu?"
"Di dalam danau mungkin hidup kerang-kerang kecil, bisa sekalian kumpulkan itu."
"Laksanakan, aku akan meminta yang lainnya juga."
Albert dan Aden muncul beberapa saat kemudian.
"Curang, kami juga ingin membantu.. apa yang sebaiknya kami lakukan?" tanya Albert.
"Kalian seharusnya memikirkannya sendiri, tapi tolong kumpulkan kayu bakar serta makanan yang mudah ditemukan."
"Laksanakan."
"Itu tugas yang mudah."
__ADS_1
Mereka pasti tidak tahu kesulitan bertahan hidup di alam liar.