Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 25 : Surat Tantangan


__ADS_3

Sementara kami mengerjakan game kami juga tidak melupakan ujian yang akan datang, setelah belajar bersama. Aku mengetuk pintu kamar Alexia yang merupakan ruang kerjanya sendiri.


Dia tampak berantakan dan hanya mengenakan kaos tank top dengan celana pendek.


"Ada apa Tora."


"Ini aku buatkan kisi-kisi untuk ujian tengah semestermu."


"Ya ampun, inilah yang kubutuhkan aku yakin bisa lulus ujian dengan ini."


"Aku sudah menuliskan penyelesaiannya juga, lain kali pastikan untuk tidak membolos."


"Kau benar-benar jenius, bahkan pelajaran kelas dua sangat mudah bagimu."


Aku melirik ke arah mejanya dan melihat tumpukan surat di atasnya.


"Apa itu surat cinta?"


"Lebih tepatnya surat tantangan, mereka mencoba memintaku untuk berkelahi meski aku menolaknya mereka terus saja melakukannya, menurutmu bagaimana caranya agar mereka menyerah melawanku?"


Aku memperhatikan sosok Alexia dari bawah sampai wajah selagi meletakkan tangan di dagu.


"Jika kau melihatku seperti itu aku merasa tidak nyaman, apa kau mau mendorongku ke dinding kemudian mengambil ciumanku dan akhirnya terjadi hal mengejutkan."


"Aku peringatan berhentilah membaca hal-hal erotis."


"Hal-hal erotis pekerjaanku."


"Aku punya hal yang bisa membuatmu tidak akan ditantang lagi siapapun."


"Bagaimana?"


"Sebelum itu mari berbelanja dulu."


Aku mengajak adikku juga Tiara untuk pergi ke mall, ketika Alexia mengerti apa yang akan aku lakukan wajahnya memucat.

__ADS_1


"Mustahil? Apa aku akan dijadikan cewek."


"Bukannya kau ini cewek."


"Maksudku cewek feminim."


"Yang kakak katakan memang benar, jika semua orang melihat kamu berpakaian berbeda mereka pikir kamu telah berjalan ke jalan yang benar."


"Tunggu, itu seperti aku selalu berada di jalan salah," protesnya demikian.


"Sudahlah ayo pergi Alexia."


Keputusanku tepat untuk mengajak Tiara, ada beberapa toko yang sedikit canggung jika pria masuk ke dalamnya.


"Aku tidak suka dalaman seperti ini."


"Kamu harus menggunakannya, itu juga bisa berpengaruh pada kepribadian."


"Um."


"Apa aku terlihat aneh?"


"Itu sangat cocok denganmu, kamu sangat imut benarkan kakak?"


"Um."


"Syukurlah."


Dia menggunakan gaun merah muda dengan pita untuk mengikat rambutnya, aku tidak menyangka jika Alexia bisa tampil secantik ini.


Dia memukul bahuku saat aku memikirkannya.


"Jangan terus menatapku seperti itu, aku sedikit malu."


"Sepertinya ada saingan cinta yang lainnya, aku tidak akan menyerahkan kakakku pada siapapun."

__ADS_1


"Bukan itu maksudku."


Alexia memalingkan wajahnya terlihat malu.


Jangan bilang ini benar-benar komedi romantis yang dikatakan adikku itu.


Kami mengunjungi sebuah gang sempit yang kini telah diisi lima gadis sekolah lain yang masing-masing mengenakan masker serta membawa pemukul bisbol.


Mereka semua berjongkok seperti anak berandalan.


Aku sempat berfikir dunia SMA ternyata keras juga.


"Akhirnya kau datang juga Alexia, hari ini aku akan.."


Sebelum ketuanya bisa berbicara ia menyemburkan suara tertawa.


"Apa yang terjadi denganmu haha jangan konyol kau bukan tipe cewe seperti ini bukan?"


"Inilah yang ingin aku katakan, aku sudah berhenti berkelahi bisakah kalian memaafkan soal tempo hari dan membiarkanku hidup normal."


Sebuah cahaya bersinar dari punggung Alexia, tentu itu hanya imajinasi yang bisa kami rasakan darinya.


"Silau sekali, silau.. mataku, aku mengerti, kami akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi."


"Terima kasih atas pengertiannya."


"Cih.. jika pun aku menang hanya akan memalukan."


Alexia tersenyum senang selagi melompat ke arah Tiara.


"Kita berhasil, kalau begitu kita pergi ke dua tempat lainnya."


"Masih ada lagi, kakak?"


Aku lupa bahwa surat tantangannya bukan hanya satu.

__ADS_1


__ADS_2