Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 60 : Rumah Hantu


__ADS_3

Di hari terakhir festival, aku terbebas dari pekerjaanku. Kini aku ingin mencoba segala kemeriahan dari festival budaya sekolah ini.


Aku diam sebentar di depan ruangan yang digunakan menjadi kios martabak, tak lama seorang dengan rambut pirang muncul, walau ia mengenakan pakaian sekolah dan wig aku masih bisa mengenalinya dengan baik.


Seorang guru bermasalah yang belakangan ini punya hobi menyamar.


Benar, dia adalah Bu Nanase.


"Maaf membuatmu menunggu, toilet benar-benar berubah menjadi ruang ganti sekarang."


"Itu bisa dimengerti."


"Ngomong-ngomong bagaimana penampilanku?"


"Sangat cocok dengan Anda."


"Fufu kamu tersipu."


Dengan penampilannya seperti sekarang jelas tidak akan ada yang bisa mengenalinya meski demikian berhati-hati sudah jadi keharusan.


Entah kenapa aku dan Bu Nanase mulai terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Jantungku berdegup kencang dan rasanya lebih cepat dari sebuah detak jam.


"Tora kamu baik-baik saja?"


"Aku sedikit lapar mari singgah ke kafe maid."


"Kafe seperti itu tidak cocok untuk didatangi pasangan, walau begitu apa boleh buat."


Rasanya ucapannya terlalu berbelit-belit.


Kami diantar oleh seorang gadis pelayan dan mendapatkan menu yang disediakan di sini, mengagumkan bahwa kafe ini memiliki jumlah makanan dan minuman cukup banyak.


"Mau pesan apa?"

__ADS_1


"Aku pesan jus mangga dan omelet rise saja."


"Aku juga sama."


"Mohon ditunggu."


Bu Nanase menatapku dengan memicingkan mata.


"Nggak kreatif."


"Apa aneh jika memesan makanan yang sama."


"Tidak juga sih.. aku senang jika kita punya persamaan, itu artinya kita cocok, setelah aku mengatakan ini apa jantungmu berdebar-debar."


"Tentu saja tidak."


"Tidak seru."


Paling tidak aku berhasil sedikit menipunya.


Itu bentuk hati yang besar.


"Terima kasih."


Ketika aku hendak menyendoknya Bu Nanase menahan tanganku.


"Apa yang kamu lakukan Tora?"


"Aku akan memakannya."


"Kamu ini, ketika makan anak zaman sekarang punya ritual dulu."


"Ritual apa?"

__ADS_1


"Berfoto, kita harus foto selfie dulu sebelum memakannya, katakan cheese."


Terhadap pernyataan Bu Nanase aku dengan terpaksa sedikit berfose pada kamera ponsel yang dipegangnya.


"Ini bagus, aku akan menjadikannya screen server di ponselku."


Aku tidak bisa melarangnya karena itu haknya. Yang jelas aku ingin makan sekarang.


"Ritual selanjutnya kita harus saling menyuapi."


Jelas sekali bahwa itu mengada-ada jadi aku menolaknya. Setelah selesai kami kembali berjalan di sepanjang koridor yang ramai, tidak enak jika kami tidak mencoba berkunjung ke wahana kelas sendiri, karenanya kami menyempatkan diri untuk datang.


"Silahkan... ngomong-ngomong Tora, siapa gadis di sebelahmu?"


Penyamaran Bu Nanase terlalu sempurna hingga bisa menipu dirinya sendiri. Aku menjawabnya dengan sepupu hingga mereka percaya.


"Hubungan sepupu tidak terdengar kuat."


"Jangan memaksaku untuk berbohong lebih dari itu," kataku lemas.


Wahana hantu ini dibuat dengan baik, dekorasi terlihat nyata khususnya saat hantunya keluar. Karena aku tahu ini cuma buatan jadi aku hanya memasang wajah datar sementara Bu Nanase di sebelahku berteriak-teriak tidak jelas.


"Bukannya hantu Indonesia terlalu menyeramkan."


"Sepertinya begitu," jawabku ragu.


Satu hantu muncul di depanku secara tidak terduga membuat Bu Nanase memelukku dengan erat. Dadanya sangat lembut.


Ah, seharusnya aku tidak memikirkan hal aneh-aneh di saat seperti ini.


"Apa? Ternyata kau Tora, ekpresimu sangat datar."


"Maaf soal itu."

__ADS_1


"Majulah, aku akan menunggu mangsa berikutnya."


"Semoga berhasil untuk itu," jawabku demikian.


__ADS_2