Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Epilog : Bagian Akhir (End)


__ADS_3

Selang beberapa bulan berikutnya aku dan Aden menghabiskan waktu bersama di pinggiran sungai selagi berlomba melemparkan batu.


Berbeda dariku yang mengenakan seragam SMA, dia menggunakan mantel hitam dengan setelan orang dewasa.


"Kau yakin dengan ini semua?"


"Ah, kurasa dengan remake game pertama kita sudah cukup untuk membuat ayah Bu Nanase terkesan."


Mendapatkan jawaban ringan dariku membuat Aden tersenyum kecil.


"Jika begitu, aku tidak akan meragukannya lagi... lagipula kita punya game online sendiri yang harus kita urus."


Dibandingkan kami yang terus-menerus membuat game berbeda, kami sudah memutuskan hanya akan mengembangkan satu game saja untuk beberapa tahun ke depan, kami memasang iklan dan juga pembelian item di dalam game tersebut hingga uang yang kami hasilkan sangatlah besar, event mingguan, bulanan dan tahunan sudah dimasukan ke dalamnya jadi hampir sulit untuk kami menciptakan game di waktu bersamaan.


Aku duduk di rumput lalu membaringkan tubuhku selagi menatap langit biru.


"Nah Tora, sebelumnya aku mengatakan bahwa melakukan apapun itu membosankan bukan?"


"Yah."


"Tapi aku pikir membuat game tidak membosankan seperti apa yang aku pikirkan, jadi terima kasih sudah menyeretku ke dalamnya."


Aku tersenyum sebagai balasan selagi merasakan embusan angin yang menerpa wajahku.


Sebuah mobil hitam telah berhenti di depan perusahaan kami, di dalam sana ayah Bu Nanase telah keluar dengan setelan jas hitam serta kacamata.


Di belakangnya tentu putrinya mengikuti.


"Jadi ini perusahaan yang dimaksud, tidak buruk."


Aku menyambutnya dengan baik selagi menjabat tangannya.


"Ini kedua kalinya kita bertemu, aku senang bahwa Anda terlihat sehat-sehat saja."


"Kamu memang sudah terlihat lebih dewasa dari yang aku ingat, langsung saja biarkan aku melihat game seperti apa yang akan kamu tunjukkan padaku."


"Silahkan."


Sementara semua orang menahan nafas mereka di luar dengan ketegangan, aku mulai mempresentasikan game yang dimaksud.


Ayah Bu Nanase menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku ingin melihat semua game yang kamu buat."


Itu jelas memberikan waktu tambahan bagiku untuk berdiri, setelah beberapa jam ia diam memikirkannya dan Bu Nanase hanya melihatku dengan tatapan memintaku terus bersemangat.


Aku benar-benar gugup.


"Yos, kamu lulus jadi menantuku."


"Bukan itu, gamenya?" balasku demikian.


"Apa maksudmu, aku tidak datang melihat game yang kamu katakan barusan aku datang hanya ingin menanyakan soal pernikahan kalian."


"Eh?"


Bu Nanase menjelaskan.


"Dari awal aku sudah menceritakan semuanya pada ayahku, ia bilang ia akan menerima perusahanmu di perusahannya tapi kayaknya akan lebih baik jika kita biarkan Tora sedikit bekerja keras."


Aku merasa lega tapi di saat yang sama merasa kesal, aku menarik pipinya.


"Awawa... maaf soal itu, senang melihatmu terus berusaha keras."


Ketika aku menjatuhkan bahuku lemas ayah Bu Nanase mengulurkan tangannya.


"Terima kasih banyak."


Aku mengatakan semuanya pada semua orang dan mereka berteriak semangat, Aura dan Erna juga datang karena penasaran.


Aku memikirkannya, mungkinkah sejak awal aku memang sudah meraih impianku saat bertemu dengan teman-temanku.


Walau aku menjalani hidupku cukup sulit kurasa selalu ada hal tidak terduga setelahnya. Aku sangat bersyukur.


Beberapa tahun kemudian di taman yang sangat luas Nanase sedang duduk selagi menggendong putri kami.


"Lihat ini sebuah bunga, lihat imutnya... hey suamiku, bukannya menyenangkan piknik saat kita libur."


"Aku juga berfikiran sama tapi dead linenya sebentar lagi, aku harus memastikan semua orang bekerja tanpa bersantai."


"Ya ampun, biarkan mereka sekali-kali bersantai. Hora... cepat gendong putrimu."


"Baik."

__ADS_1


Aku melakukan seperti apa yang dimintanya.


"Bukannya putri kita mirip ayahnya."


"Mana mungkin, jelas ibunya."


"Kamu tidak mau mengalah."


"Fufu."


"Tapi kamu yakin tidak ingin menjadi guru lagi, bukannya itu impianmu?"


"Tidak, aku berubah pikiran.... menghabiskan banyak waktu dengan keluarga lebih berarti, aku tidak ingin membiarkan waktuku terambil sedikitpun."


Aku memasang wajah bermasalah, rasanya percuma saja mengambil alih perusahaan ayahnya kalau begitu, tapi melihat bahwa dia terlihat bahagia aku tidak akan mengatakan apapun lagi.


Tak lama kemudian adikku Tiara dan Aura muncul dengan banyak makanan di tangannya.


"Sudah kuduga kalian sudah mulai tanpa kami."


"Kakak sedih, tapi sekarang tidak. Pastikan kalian datang ke pernikahanku juga."


"Kalian berdua benar-benar tidak berubah."


Kami memutuskan piknik di sini dan mereka hanya ikut-ikutan datang kemari.


"Aura kamu menikah Minggu depan kan?"


"Begitulah."


"Kalau begitu kurasa kami akan lebih dulu pergi ke penikahannya Albert dan Rin sebelum datang ke pernikahanmu."


"Kenapa begitu, bukannya harusnya aku yang lebih dulu... kita keluarga."


Aura hendak menangis.


"Sayang, jangan menjahilinya."


"Kakaklah yang selalu seperti itu."


Kami berdua hanya bersantai seharian.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2