
"Sebelum aku benar-benar marah, bisakah kau melepaskan Tora, Rena dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua... lihat dia sampai ketakutan hingga ingin mengompol."
"Aku tidak sampai segitunya," aku jelas memprotes perkataan Alexia sementara itu Rena yang menculikku tertawa seperti seorang yang mengidap psikopat.
"Tentu saja tidak, kami sudah menunggu hal ini sejak lama... kami akan membalas kekalahan kami di masa lalu, sekuat apapun kau, kau tetap kalah jumlah."
Alexia menyinggungkan senyuman licik.
"Itu mungkin benar... aku selama ini selalu bertarung sendiri tapi ingatlah saat ini berbeda, aku tidak sendiri."
"Apa?"
Dari belakang Alexia gadis-gadis bermunculan, mereka dari SMA yang sama dan juga SMA berbeda, aku melihat sosok yang tidak asing padaku.
Dia adalah Albert yang bercosplay dengan seragam siswi SMA. Karena dia cantik tidak akan ada yang menyadarinya.
"Fufu bagaimana, mereka adalah teman-temanku yang berada dalam satu geng, geng perkumpulan wibu lebih tepatnya."
"Cih."
"Mari jadikan pertarungan ini sebagai pertarungan akhir, siapapun yang kalah tidak boleh mencampuri urusan yang menang."
"Apa boleh buat, serang."
__ADS_1
"Serang."
Dan keduanya berkelahi dengan gaya mereka masing-masing, Albert baru saja bergerak dan ia sudah dipukuli sampai babak belur hingga merangkak ke arahku, wig yang dikenakannya sedikit menyerong.
"Apa-apaan mereka, mereka sangat ganas."
"Salahmu sendiri malah terlibat di dalamnya."
"Aku berusaha membantumu, ayolah cobalah sedikit memujiku."
Aku mendesah pelan dan memutuskan untuk berterima kasih padanya yang sudah melepaskan ikatanku dengan baik.
Tidak ada hal yang bisa dilakukan selain menunggu ini selesai sendirinya.
Terkadang para siswi-siswi SMA itu sangat mengerikan. Mereka mendatangi perjanjian dan dengan ini semuanya berjalan dengan damai.
Aku ingin segera mandi dan tidur, dan melupakan kejadian hari ini.
Beberapa hari berikutnya Bu Nanase telah kembali dengan banyak oleh-oleh yang diberikannya pada kami.
Ia bilang dia sudah membicarakan urusan game pada ayahnya dan di luar dugaan ia sendiri yang akan datang kemari delapan bulan lagi, selama itu ia ingin kami menunjukkan game terbaru yang bisa dia nilai sendiri.
Dengan kata lain kami akan menyelesaikannya di kelas 3.
__ADS_1
Jika game kami bisa menarik perhatiannya maka dia tidak keberatan bahwa akan menjadi payung yang melindungi perusahaan kami.
"Kakak itu sangat luar biasa, impianmu akan terkabul," ucap Tiara padaku yang masih ragu.
"Tapi kenapa ia sendiri yang melakukannya?"
"Itu karena ibu bilang bahwa Tora sangat spesial," balas Bu Nanase.
Semua orang berfikir bahwa perkataan Bu Nanase tidak salah namun dari sudut orang tua ia akan berfikir bahwa putrinya memiliki hubungan khusus dengannya.
Hanya memikirkannya membuat tekanan di kedua bahuku semakin berat.
Alexia terlalu bergembira dengan ini.
"Akhirnya pekerjaan kita datang, Owh.. komik ini untuk dewasa, banyak adegan mantap."
Aku harap tidak ada yang meniru kelakuannya sekarang.
Aku perlu memikirkan game seperti apa yang harus kami buat tapi sebelum itu karena Bu Nanase sudah kembali sudah waktunya kami beres-beres barang, singkatnya kami akan pidah ke tempat kami yang baru.
Di depan gedung berlantai lima kami semua terpaku diam, aku juga merasa demikian walaupun sebelumnya aku sendiri yang memilihnya.
Saat tidak ditempati aku sudah mempekerjakan tenaga keamanan jadi meski kami tidak berada di sana keamanan tetap terjaga.
__ADS_1
"Ini adalah perkumpulan SMA kita yang baru," kataku menyambut.