
Puas seharian berkeliling, setelah matahari terbenam akhirnya penutupan festival dilakukan, untuk penyelenggaraan terbaik jatuh kepada kafe maid dan untuk pendapatan terbesar jatuh pada klub game.
Tentu semua uang akan disumbangkan.
Dan yang paling banyak dikunjungi jatuh pada rumah hantu kelas kami, semua orang berteriak dan masing-masing perwakilan akan menerima semacam piagam.
"Apa yang kakak lakukan, kakak juga harus naik."
"Aku rasanya tidak..."
"Ayolah."
Klub game kami baru dibuat dan bahkan tidak cocok sebut klub, meski demikian aku pikir menerima penghargaan seperti ini bukan sesuatu yang buruk.
Di even game berikutnya aku juga ingin seperti ini kalau bisa.
"Kalau begitu mari tutup acara ini dengan api unggun, bakar."
"Bakar, bakar, bakar."
Ketika api unggun dinyalakan semua orang berdansa di sekitar. Aku baru tahu Aura juga bisa bersemangat seperti ini.
Beberapa bulan berikutnya kesenangan dari festival seolah terasa menjadi sebuah mimpi, di kediamanku aku telah memasang dasi dan jas di balik kemeja putihku.
"Aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini."
Adikku yang sejak tadi mengawasi dengan duduk di atas ranjang membalas.
"Tidak boleh seperti itu kakak, kita sudah terkenal akan buruk jika kita berpenampilan apa adanya."
"Kurasa kamu benar."
Jika diperhatikan aku benar-benar terlihat seperti CEO atau sebagainya. Kami berdua keluar rumah untuk menemui yang lainnya yang telah siap di mobil.
"Kamu lama sekali Tora," jaya Alexia disusuk lainnya.
__ADS_1
"Kalianlah yang terlalu cepat."
Bu Nanase dan Erna masing-masing akan membawa mobil mereka untuk mengantar semua orang.
Erna memasang wajah percaya diri dengan ponsel di tangannya.
"Aku sudah minta pihak berwajib untuk mengawal kita, jangan khawatir soal kemacetan."
Aku memasang wajah bermasalah.
Itu malah membuat kami terlihat mencolok.
"Terima kasih untuk bantuannya."
"Hal seperti ini bukan apa-apa lagipula aku juga ingin tahu hasil karya kalian, jika kalian menang apa yang akan kalian lakukan?"
"Kami semua sepakat untuk menggunakannya untuk membangunkan perusahaan yang lebih besar."
"Terdengar luar biasa, semoga beruntung."
"Tora tetap akan bersamaku."
Tadinya kuharap aku bisa sedikit menjauh darinya, itu jelas mustahil.
Kami berangkat dan sampai lebih cepat, di dalam sana telah banyak diisi oleh berbagai perusahaan game, berbeda dari even sebelumnya mereka mengizinkan pihak umum untuk masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Ada beberapa wartawan dan juga beberapa orang-orang penting sebagai juri. Melihat kedatangan kami wartawan mulai mengerumuni kami.
Aku, Aden, Albert, Rin, Alexia, Tiara, Bu Nanase, dan Erna, masing-masing memiliki interviewnya sendiri.
Setelah beberapa saat aku akhirnya bisa keluar.
"Kamu baik-baik saja, wartawan sekarang jadi sedikit ganas bukan?"
"Kamu membuatnya terdengar menyeramkan."
__ADS_1
"Haha kurasa begitu."
Yang mengajakku berbicara adalah Michan ia saingan kami yang terkuat. Dia melambaikan tangan ke arah teman-temannya.
"Aku yakin kalian akan menunjukan hal luar biasa."
"Begitu juga kalian."
"Bukannya harusnya kamu lebih menerima pujian, aku diperlakukan seperti musuh... di masa depan mungkin kita bisa berkoloborasi, apa kamu tidak mau?"
Aku tersenyum masam.
"Itu menjadi sebuah kehormatan bagi perusahaan kami, terima kasih atas pujiannya."
"Sekarang lebih baik, di sana itu putri dari perusahaan game ternama di asia bukan."
Michan melirik ke arah Bu Nanase dan aku mengiyakan.
"Apa kamu mengenalnya juga?"
"Tidak juga, tapi aku kenal dengan ayahnya... perusahannya benar-benar selektif, bahkan untukku sendiri sangatlah sulit."
"Bukannya kalian juara tahun lalu."
Michan mengangkat tangannya.
"Aku rasa mereka menginginkan sesuatu yang baru."
Aku bisa mengerti hal itu.
"Kalau begitu aku harus pergi, mari berjuang."
Aku tanpa sadar melakukan tos dengannya.
Cewek yang ceria dan mudah diajak bergaul memang sulit dihadapi.
__ADS_1