Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 24 : Pekerjaan Berikutnya


__ADS_3

Aku telah dihubungi editor Rin untuk bertemu dengannya di kedai kopi.


"Yo, maaf membuatmu harus datang di waktu-waktu seperti ini."


"Aku tidak keberatan."


Penampilan Rana merupakan anak metal sejati.


"Silahkan untuk memesan apapun yang kamu suka."


"Tolong kopi hitam."


"Sungguh dewasa jika kamu ingin mencoba kopi pahit seperti itu."


"Aku ingin membiasakan diri."


"Begitu."


"Kudengar volume dua dari Magic School Assassin akan dicetak, selamat untuk itu."


"Ini semua berkat usaha Rin, aku sebagai editornya hanya cuma membantunya sedikit, ngomong-ngomong alasanku datang kemari hanya ingin menanyakan apakah game untuk Magic School Assassin bisa dibuat?"


"Mungkinkah Anda ingin memintaku untuk membuatnya?"


"Tolong jangan terlalu sopan denganku, panggil saja aku Rana."


Jika dia memintanya aku tidak keberatan untuk melakukannya.


Kopi pesananku telah datang dan aku menyeruputnya untuk merasakan rasa pahit di ujung lidahku.


"Popularitas Magic School Assassin sudah cukup populer, jika ini bertujuan untuk promosi kurasa hal itu tidak perlu dilakukan."


"Meski kamu bilang begitu, aku ingin bahwa karya Rin bisa dinikmati dalam berbagai bentuk khususnya dalam game. Kamu tahu Tora, pemain game di Indonesia lebih banyak dibandingkan yang suka membaca, bahkan setiap even seperti pertandingan game diadakan antusiasnya membludak."


Mungkin yang dia maksud MPL mobile legend.


Di Indonesia sendiri tidak banyak even-even dilaksanakan.


"Apa ada alasan yang lainnya?"


"Rin selalu bekerja keras, aku hanya ingin dia mendapatkan kesuksesannya lebih awal."


Kurasa Rana terlalu baik, kebanyakan editor terkadang tidak peduli dengan hal itu, selagi mereka terkenal mereka akan mendukungnya jika tidak mereka akan memilih penulis yang lebih jauh kompeten.

__ADS_1


Tidak aneh jika beberapa penulis baru selalu ganti-ganti editor.


Aku sesaat memikirkannya.


"Jika itu sebuah game untuk ponsel, aku bisa melakukannya sendiri... untuk servernya akan kuserahkan pada Anda nantinya jika ingin game tersebut online."


"Aku ingin membuatnya offline saja."


"Mungkin konsep yang ada inginkan seperti konsep pertarungan."


"Tepat sekali."


"Jika itu ponsel untuk game offline, kapasitasnya akan kurang dari satu giga."


Rana memotong pemikiranku.


"Aku tidak masalah lebih dari itu."


"Aku mengerti."


"Kamu tidak meminta kepada yang lainnya?"


"Sebenarnya mereka sedang sibuk mempersiapkan game untuk tahun depan, di even sebelumnya kami tidak juara satu dan sepertinya mereka sedikit kesal untuk itu."


Aku menggelengkan kepala.


"Meski begitu aku akan meminta izin yang lainnya dulu."


Ketika aku selesai menelepon, semua orang malah datang untuk berkumpul.


"Jika kau ingin membuat game seorang diri maka kami menolaknya."


"Alexia?"


"Benar, sebagai teman masa kecilmu aku juga tidak akan membiarkannya. Kita membuat game bersama maka dari itu kita akan melakukannya selamanya."


"Aku juga tidak setuju, jika demikian aku tidak ingin dibuatkan game dari karyaku."


"Kalian semua."


Aden jelas memiliki pemikiran yang sama walaupun dia hanya diam.


"Tapi kalian harus mempersiapkan soal game untuk even berikutnya?"

__ADS_1


"Soal itu kita bisa pikirkan nanti, nona Editor berapa lama kami harus menyelesaikan gamenya," tanya Tiara.


"Kalau bisa secepatnya tapi aku pikir tak masalah jika tiga bulan."


"Jika demikian kita bisa melakukannya dulu sebelum beralih untuk even game."


"Itu artinya waktu kalian akan terpotong."


"Hanya tiga bulan, bukan waktu yang lama."


Mereka semua mengangguk sepakat dengan apa yang dikatakan Tiara.


Apa mereka sudah terbiasa dengan deadline?


Aku mendesah pelan lalu kembali berkata ke arah Rana.


"Sepertinya aku berubah pikiran, kami akan mengerjakan game bersama-sama."


"Itu akan jauh lebih bagus, kalau begitu aku serahkan semuanya pada kalian.. untuk uang muka kalian bisa mengambilnya lebih dulu."


Ia menyodorkan cek berisi 100 juta yang membuat kami semua terkejut.


"Ini uang DP, ini terlalu banyak."


"Jangan khawatir ini uangku sendiri, tolong buat sesuatu yang bagus."


Rana berdiri lalu meninggalkan kami setelahnya.


"Sebenarnya siapa dia?" tanya Albert.


"Rana adalah putri pemilik penerbit," jawab Rin santai.


Sepertinya kami dikelilingi orang kaya.


Uang juga termasuk sebuah penekanan seperti apa game yang ingin dibuatnya.


"Tora?" panggil Aden.


"Sepertinya kapasitasnya harus HD... mari tingkatkan gamenya menjadi berkapasitas 2 giga untuk ponsel ketika mereka menginstalnya itu menjadi 4 giga."


"Setahuku tidak ada game ponsel setinggi itu untuk offline, kau tahu itu membuat pihak developer sedikit kurang memaksimalkan pendapatan."


"Yang memintanya juga tidak peduli rugi."

__ADS_1


"Sepertinya begitu."


__ADS_2