Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 44 : Pria Yang Dibenci


__ADS_3

Belakangan hari ini 'pria panggilan' melekat padaku, itu bukan sesuatu yang mencurigakan hanya saja hampir semua orang yang aku kenal selalu meminta saran padaku.


Sekarang giliran Sari yang melakukannya di perpustakaan.


"Apa kamu mendengarnya? Apa sebaiknya yang aku lakukan?"


"Albert bukan pria buruk, kenapa tidak mencoba kencan dengannya sesekali."


"Bukannya dia selalu dikerumuni gadis, dia mungkin mempermainkan satu atau dua gadis dengan telapak tangannya yang kotor."


"Telapak tangannya memang kotor karena dia selalu bermain di got."


"Bukan itu maksudku."


"Dia memiliki peliharaan ikan ****** jadi perlu mencari cacing sutra di got untuk pakannya."


Sari hendak melemparkan buku yang besar padaku hingga aku mengangkat tanganku tanda menyerah.


"Berhentilah bercanda."


"Maafkan aku, mungkin di luar Albert seperti itu namun dia sebenarnya orang yang baik, mari akan kutunjukan sesuatu yang biasa aku lakukan."


Selepas sekolah Sari memasang wajah bermasalah karena aku mengajaknya untuk bersembunyi di semak-semak bersama Rin juga.


"Rin berapa yang telah mencobanya?"


"Lima gadis, mereka menyatakan perasaannya pada Albert dan semuanya di tolak, kurasa ini yang terakhir dalam Minggu ini."


"Jadi begitu."


Sari melemparkan tatapannya antara aku dan Rin.


"Lihat baik-baik."

__ADS_1


Kami bertiga melirik ke arah Albert yang terlihat babak belur, pipinya merah seolah terkena tamparan beberapa kali.


Di depannya seorang gadis yang imut telah mengulurkan tangannya.


"Jadilah pacarku," kata si gadis, ini merupakan posisi terbalik saat seharusnya pria yang melakukannya.


"A-apa itu?" Sari kehilangan perkataanya, aku tidak menimpalinya agar jawaban Albert terdengar jelas.


"Maafkan aku tapi aku tidak menyukaimu."


"Bisakah kamu mencobanya?"


"Tidak terima kasih aku tidak tertarik."


Ketika dia mengatakan itu sebuah pukulan mengenai perut Albert hingga dia tumbang ke tanah.


Begitukah keseharian Albert di balik layar, dia orang yang banyak disukai orang


(gadis) namun di saat yang sama dia orang yang paling dibenci.


"Tentu saja tidak, mari bantu dia," kataku lebih dulu keluar.


"Menolak permintaan gadis lagi Albert."


"Owh, kau... siapa namamu?"


Rin berbisik.


"Karena sering dipukul dia kehilangan ingatan, di novel mungkin kita harus menghantamkan balok ke atas kepalanya."


"Tunggu sebentar Rin aku cuma bercanda, hentikan dari mana kau dapat balok itu?'


Rin melemparkan balok tersebut ke samping dengan wajah kecewa, sementara aku memberikan kaca mata Albert padanya.

__ADS_1


Sari memperhatikan sedikit jauh.


"Seharusnya kamu coba saja terima salah satunya agar yang lain tidak mengganggumu lagi."


"Tidak perlu, aku lebih suka menahan sakit dibandingkan memberikan luka dalam pada mereka jika tahu aku hanya memainkan perasaan mereka."


"Dasar masokis."


Dia tertawa kecil.


Albert baru menyadari bahwa Sari berada di belakangku, dia melirik padanya.


"Ah, aku menunjukan sesuatu yang memalukan, sebaiknya aku segera pulang untuk membersihkan diri."


Albert berdiri menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor sebelum berjalan melewatiku dan Rin.


"Sekarang tidak ada pertemuan jadi aku pulang lebih dulu."


Ketika dia hendak melewati Sari tangannya dipegang olehnya.


"Kamu itu bodoh kah, apa gunanya menjadi orang yang dibenci orang lain."


"Yah.. aku tidak berniat hal itu."


"Kau terluka biar aku mengobati sedikit lukamu."


"Um."


Mereka berdua pergi meninggalkan kami. Rin buru-buru mengeluarkan buku catatannya untuk menulis sesuatu di sana.


"Lumayan untuk referensi cerita berikutnya."


"Pastikan Albert tidak mengetahuinya."

__ADS_1


"Jangan khawatir, dia akan tahu jika ia membaca novelku."


Penulis memang beda, aku harus berhati-hati agar tidak menjadi bahannya juga.


__ADS_2