
Tiga hari sebelum festival kami telah mendekorasi sebuah ruangan untuk kami sendiri, sama seperti kelas lainnya yang sibuk dengan rumah hantu dan kafe maid kami juga sibuk dengan urusan kami sendiri.
Sekolah hanya mengijinkan kami menggunakan sepuluh komputer karenanya setiap orang yang akan datang ke tempat kami akan diberi batas waktu sepuluh menit untuk memainkan game yang telah kami buat bersama.
Jika apabila seseorang menginginkan memainkannya di rumah kami akan memberikan CD gamenya dengan harga 25 rb, uang yang akan kami dapatkan akan disumbangkan karena itulah sekolah tidak melarangnya.
"Alexia dan Rin, aku mengandalkan kalian sebagai penerima tamu."
"Aku tidak keberatan tapi apa kami memang harus bercosplay."
"Game tidak akan menarik jika tidak ada yang melakukannya."
Alexia dan Rin terkejut dengan perkataanku tapi di zaman sekarang itulah yang terjadi. Bahkan untuk game yang pernah kami buat aku juga meminta para Vtuber untuk mempromosikannya.
Hololive-Id jadi salah satunya.
"Aku akan mengurusi soal penjualan gamenya, sisanya bisa mengawasi semua orang dan mengecek jumlah yang datang, aku dengar sekolah lain dan SMP terdekat akan berkunjung juga."
"Kami mengerti," Aden menjawab dengan intonasi kerennya.
Ketika festival dibuka seluruh kemeriahan bergemuruh ke segala penjuru, festival sendiri akan dibuka selama tiga hari maka itu menjadi kesenangan yang tidak tergantikan saat menjadi siswa SMA.
Antrian di depanku telah panjang dan hampir setiap orang yang telah mencoba game kami memutuskan untuk membeli versi lengkapnya.
"Terima kasih, selanjutnya."
"Tolong satu."
Berdiri di depanku adalah Aura dan seluruh staf OSIS.
__ADS_1
"Silahkan."
"Aku selalu tidak sabar memainkan game buatan adikku, pasti bagus."
"Selanjutnya."
"Dingin sekali."
Dia menghentikan antrian jika kami keasyikan mengobrol.
Selanjutnya beberapa murid dari sekolah lain, orang dewasa dan juga beberapa orang tua.
Game ini memang bisa dimainkan semua umur.
Hari pertama berjalan dengan baik, kami memutuskan tidak hanya fokus bekerja, kami juga bergantian untuk pergi menikmati festival ini.
Aku tidak masalah untuk pergi di hari ketiga saja, bagiku melihat orang-orang yang senang saat memainkan game buatanku sangatlah bahagia.
Aku sudah mendengar beberapa juga telah diberikan kesempatan untuk mendubling acara televisi tertentu.
"Permisi aku ingin membelinya satu."
"Silahkan."
"Aku suka semua game yang kalian buat, aku harap di even berikutnya kalian menampilkan hal yang lebih bagus lagi."
"Tentu."
Pandangan kami saling bertemu.
__ADS_1
Ini bukan pertemuan pertama kami, aku jelas akan mengingat siapa gadis berusia di pertengahan dua puluhan ini
Rambut merah sebahu dengan gaun terusan sederhana dan juga memakai bros permainan terkenal Mario Bros.
"Michan, kita akan pergi sekarang."
"Tunggu sebentar, semoga bisa bertemu lagi nanti dadah."
Karena dia melambaikan tangan padaku aku menjawabnya dengan anggukan.
"Michan? Kamu ternyata banyak dikagumi wanita."
Bu Nanase muncul layaknya hantu, atau lebih tepatnya berpenampilan demikian.
Aku dengar ia turut membantu kelas kami dalam mendirikan rumah hantu.
"Ia pemimpin tim perusahaan saat even game tahun lalu."
"Aku tidak melihatnya saat itu."
"Waktu itu ia memiliki rambut panjang tapi kurasa dipotong."
"Kamu terlalu perhatian padanya sampai tahu-tahu dia potong rambut atau tidak."
"Bukannya semua orang bakal sadar tentang itu," kataku menjelaskan.
"Jadi juara berapa perusahaannya?"
"Juara satu."
__ADS_1
"Berarti dia musuh terbesar kita."
Aku mengiyakannya karena itu memang benar.