
Aku tidak ingin mengakuinya tapi Aura itu adalah kakak tiriku yang tidak memiliki hubungan darah.
Saat dia tahu apa yang telah menimpaku Aura terus menghubungi aku ataupun Tiara, dia selalu meminta maaf atas perbuatan ayahnya yang telah merebut ibu kami namun dalam hal ini entah ayahnya atau ibu kami keduanya memiliki peran sama.
Pada akhirnya ayahnya telah meninggal karena kecelakaan dan dia membagi harta warisannya untuknya maupun ibuku sebelum pindah ke Prancis.
Karena merasa bersalah mungkin Aura selalu mencoba bertanggung jawab untuk kami.
"Makan ini, biar kakak yang suapi."
"Aku bisa makan sendiri."
Semua orang yang aku kenal memasang wajah bermasalah tak terkecuali Albert.
"Aku baru tahu kamu memiliki kakak secantik ini."
"Aku dibilang cantik."
"Dia Siscon juga kelihatannya."
Tiara yang baru sampai di atap sekolah memasang wajah yang hendak melarikan diri. Sebelum dia bisa melakukannya dia telah dipeluk dari belakang lalu digerayangi.
"Kamu jadi semakin tumbuh."
"Kakak selamatkan aku, di mana kamu menyentuhku?"
Aku tidak bisa berbuat banyak untuk itu.
__ADS_1
Pada akhirnya aku dan adikku dirangkul olehnya.
"Jadi Aura, kenapa kamu kembali lagi ke negara ini?" tanya Alexia.
"Terlalu sepi untuk tinggal di sana, jadi aku memutuskan untuk kembali... terlebih setelah aku mengetahui bahwa adik manisku membuat game aku jadi lebih bersemangat."
"Kau tahu bahwa kau dan Tora maupun Tiara bukan saudara kandung."
"Tentu saja, akan jauh lebih mudah jika kita menikah."
Aku jelas akan menolaknya.
"Aku keberatan," orang yang membuat onar muncul selagi berteriak tidak karuan.
"Ara, Anda yang namanya Bu Nanase, aku sudah mendengar tentang Anda maaf karena merepotkan Anda tapi sekarang Tora maupun Tiara berada diperlindungaku jadi mohon untuk menjaga jarak."
Bu Nanase menangis.
Dan semua orang berkata di waktu bersamaan.
"Lemah sekali."
Lebih baik aku mengambil waktu berdua saja dengan Aura untuk meluruskan hal ini. Aku mengedarai sebuah motor sport dengan Aura yang berada di belakangku, aku membawanya ke sebuah tempat favoritnya yaitu sebuah tempat yang bisa melihat lautan.
"Segar sekali, bukannya tempat ini selalu menakjubkan."
"Aku sudah mengatakannya kamu tidak perlu mencoba untuk menjaga kami, aku dan Tiara tidak menaruh dendam pada ayahmu, kamu atau ibu kami, kami berdua sudah tidak memikirkan hal itu lagi."
__ADS_1
"Karena itulah, itu terasa kejam... kalian sangat baik tapi ayahku malah menghancurkan hidup kalian."
Aku memiringkan kepalaku.
"Apa kamu belum menyadarinya atau hanya berpura-pura tidak tahu, orang yang menjual rahasia perusahaan ayahmu adalah ayahku... dia bahkan menyewa beberapa orang suruhan."
"Aku memiliki kecurigaan tetang itu tapi tidak berusaha menggalinya lebih dalam."
"Harusnya kamu marah, bahkan menamparku tapi kamu hanya memandangku dengan tatapan biasa, aku sangat putus asa.. seharusnya tuhan menghukumku juga bukan hanya ayahku sendiri."
"Bukannya kamu tidak memiliki kesalahan apapun?"
"Tetap saja seharusnya aku bisa mengetahui ini dan menghentikan ayahku, aku secara tidak langsung terlibat di dalamnya."
Aura memasang wajah sedih.
Aku bisa mengerti apa yang ia rasakan, tapi entah aku ataupun Tiara kami berdua sudah sepakat untuk melupakan masa lalu dan hanya berjalan untuk masa depan.
Ketika aku memikirkannya Aura telah memelukku erat.
"Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh orang lain tapi sekarang hanya kamu dan Tiara yang aku miliki, aku sudah tidak memiliki keluarga dan bahkan ayah dan ibu, karena itulah tolong izinkan aku menjadi bagian keluarga kalian juga, entah kita tidak sedarah... aku tetap ingin jadi kakakmu dan Tiara."
Aku mendesah pelan.
Yang dikatakan Aura bukanlah kebohongan.
Meski begitu, menjadi keluarga bukan sesuatu yang bisa kamu minta begitu saja.
__ADS_1