
Di hari yang cerah kami memiliki jam istirahat seperti biasanya, adikku Tiara sedang meracik roti lapis di tangannya sebelum memberikannya padaku.
Albert yang melihatnya terlihat cemburu.
"Aku pernah berpikir untuk sesaat, aku juga ingin punya adik lucu."
Aden menanggapi lelucon itu dengan ponselnya.
"Aku akan memanggil polisi."
"Jangan lakukan itu."
Rin, Alexia, Aura dan juga Sari turut bergabung. Untuk Bu Nanase ia mengambil cuti untuk kembali ke negaranya. Tentu itu bukan hanya sekedar cuti semata ia ingin menemui ayahnya untuk membicarakan soal perusahaan kami.
Alexia membaringkan tubuhnya di atas tikar yang selalu kami gelar di sini.
"Membosankan sekali, apa tidak ada pekerjaan yang bisa kita lakukan, biasanya hari-hari kita selalu sibuk."
"Sebaiknya kita lebih banyak beristirahat."
"Membosankan."
Meski dia mengeluh hal itu tidak akan merubah keputusanku, jika kami terus memaksakan diri akibatnya kami akan lebih mudah jatuh.
Satu orang saja dari tim ini sakit sisanya akan terpengaruh.
Rin bertanya.
__ADS_1
"Lalu soal tempat baru kita?"
"Soal itu aku dan Bu Nanase sudah menemukan yang cocok dan kami sudah membelinya. Sayangnya ia malah pergi jadi sebelum Bu Nanase kembali kita akan menahan diri untuk melihatnya."
"Aku sih tidak keberatan."
Semuanya mengangguk setuju, tak lama kemudian sebuah panggilan telah masuk ke ponselku.
"Halo, halo, aku yakin kalian sedang bersenang-senang tanpa aku, yah.... aku sedikit sedih tidak bisa bergabung, ngomong-ngomong aku sekarang ada di Akihabara. Ada acara hebat di sini kalian mau aku belikan sesuatu."
"Aku ingin beli banyak action figur."
"Aku juga."
Aku memberikan ponselku untuk mereka yang saling bergantian menyebutkan keinginannya. Aura tertawa.
"Bukannya mereka selalu bersemangat."
"Yah... ini tempat yang menarik, sebaiknya aku kembali ke ruang OSIS untuk bergabung dengan yang lainnya juga.. dadah adikku yang manis."
Aku sebenarnya ogah untuk membalas lambaian tangannya namun entah kenapa aku malah melakukannya.
Selepas sekolah aku menyempatkan diri pergi ke toko buku dan meminta semua orang pulang lebih dulu, aku melihat novel Magic School Assassin yang ditaruh berdekatan dengan Love Day, love day adalah series novel Sari yang sudah mendapatkan adaptasi buku.
Itu cukup laku dalam penjualan pertamanya di Minggu pertama sebanyak 100.000 copy.
"Fufu, kau pria muda.. apa kau mencari buku dewasa."
__ADS_1
"Tidak juga."
Aku melirik ke arah siapa yang bersuara itu, dia adalah seorang wanita dengan mulut di tutup masker serta rambut ekor kuda, dari seragam sekolahnya dia berasal dari sekolah lain dan sekarang mengarahkan pemukul baseball ke arahku.
"Kau temannya Alexia bukan, ikut aku maka nyawamu akan selamat."
Aku menunjukan wajah pucat.
"Hah, aku diculik kah."
"Tepat sekali."
Aku dibawa ke gedung tidak terpakai dengan tubuh diikat di kursi, banyak cewek di dalam sana dengan penampilan yang sama.
"Dia tuan putrinya, hahaha cukup menggemaskan."
Ada apa dengan perilaku orang-orang ini. Setelah beberapa saat akhirnya sosok Alexia muncul.
"Aku tidak menyangka hal ini terjadi, seharusnya aku ikut ke toko buku tadi," katanya demikian.
Wanita yang membawaku kemari berkata.
"Saat aku mendengar kau pensiun menjadi preman itu cukup melukai hatiku, Alexia yang ditakuti di tujuh sekolah bisa-bisanya pensiun dan beralih dengan teman-teman culun, menyedihkan."
Apa dia memanggilku culun?
"Aku memang sudah berhenti berkelahi tapi jika itu demi menyelamatkan temanku aku tidak masalah mengotori tanganku lagi."
__ADS_1
Kata-katanya keren.
Bukan itu. Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Malah jadi novel baku hantam.