Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 38 : Yang Terjadi Setelahnya


__ADS_3

"Pesan kopi hitam."


"Dan nona?"


"Aku kopi manis, terkadang orang dewasa juga ingin mencobanya."


"Ditunggu."


Tidak terduga bahwa Rana mau memesan minuman seperti itu, dia merupakan seorang editor yang memiliki gaya anak punk.


Aku dengannya memiliki bisnis bersama yang memungkinkan kami beberapa kali bertemu di kafe ini.


"Aku sudah melihat video teaser dari game yang akan dibuat, sepertinya akan menjadi positif."


"Sebelum angka sesungguhnya muncul aku tidak akan mengatakan bahwa itu positif."


"Kamu tipe orang yang seperti itu kah."


Dia menyodorkan sebuah komik berwarna padaku.


"Bacalah sebentar dan katakan bagaimana pendapatmu?"


Aku sekarang pembuat game bukan komikus tapi tidak masalah untuk melihatnya. Aku secara perlahan membaca tiap halaman sebelum sampai ke bagian akhir dan menyerahkan kembali pada Rana.


"Gambarnya sangat bagus, panel untuk teks pembicaraan juga tidak berlebihan ataupun kurang, jika kamu mengatakan bahwa komik ini ditulis oleh seorang pro, aku akan percaya."


Pesanan kami telah tiba dan masing-masing dari kami menyeruputnya.


Aku memasang wajah masam, begitu juga Rana yang tidak terbiasa dengan rasa manis.


"Ini adalah komik pertama yang dibuat Erna, bukannya luar biasa. Sayang sekali bahwa bakatnya hanya akan terbuang sia-sia."


"Bukannya dia seorang Ilustrator."


"Ia terlahir dari keluarga dokter, setelah sekolahnya selesai ia akan dikirim ke Singapura untuk belajar di sana. Sungguh disayangkan ia pada akhirnya akan keluar."


"Lalu bagaimana dengan perasaannya tentang ini?"

__ADS_1


"Entahlah, aku sulit berbicara dengannya."


"Aku harap aku bisa membantunya."


"Aku merasa terbantu jika kamu melakukannya."


Selagi mengingat kejadian tersebut, aku berbaring di tempat tidurku tanpa melakukan apapun.


Ketukan di pintu selalu mampu membuatku kembali sadar.


"Kakak makan malamnya tiba, sebaiknya cepat turun atau Alexia akan menghabiskannya."


Hal itu jelas tidak bisa aku biarkan.


Aku memasang wajah bermasalah.


Mau bagaimana lagi, sekarang ada orang asing yang turut mengambil kursi di meja makan.


"Aku bilang bahwa aku tidak akan pergi ke luar negeri, dan orang tuaku mengusirku jadi kuputuskan aku akan menumpang di sini sementara waktu."


Seperti yang semua orang bisa duga, dia adalah Erna.


"Tiara tolong tambah."


"Baik."


Karena dia menjadi menderita karenaku maka festival olahraga aku memutuskan untuk ikut.


Bu Nanase tertawa memukul meja saat aku menceritakan hal yang terjadi padanya, di ruangan guru yang tidak ada siapapun dia bisa melakukan hal semaunya.


Kebanyakan orang akan menjulukinya sebagai guru cantik dan di saat yang sama kepribadiannya aneh.


Dia bahkan duduk selagi sedikit melebarkan pahanya hanya untuk menggodaku, aku tentu lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah jendela.


"Bukannya itu bagus, kini Erna juga berada di pengawasanmu."


"Aku bukan seorang guru."

__ADS_1


Bu Nanase menutup satu matanya seolah menilai ke arahku.


"Orang-orang pernah mengatakan kamu monster termasuk ibu bukan, itu adalah pujian... kamu membantu orang secara spontan dan juga melakukannya dengan berbagai metode yang tepat, hingga orang lain hanya bisa menerima hasil memuaskan."


"Lalu?"


"Tidak banyak orang yang mampu melakukannya, monster menggambarkan dirimu yang berbeda dari orang lain."


"Aku pikir ada istilah special."


Kataku demikian.


"Kalau berbicara kamu harus melihat ke orangnya."


"Tolong tutupi paha Anda dulu."


"Dasar pemalu."


Dia melipatkan kakinya lalu melanjutkan.


"Monster juga bisa menggambarkan orang yang tidak bisa dilawan dan harus memilih untuk tidak memusuhinya. Bukan berarti ibu takut padamu lebih tepatnya ibu akan sangat mengandalkanmu di masa depan nanti, tentu karena aku suka denganmu dan ingin melahirkan anak-anakmu juga."


Seberapa mabuk kah orang ini?


Aku bisa merasakan tulang punggungku menggigil.


Ketika guru lain masuk, Bu Nanase kembali ke mode gurunya.


"Hari ini sekolah hanya akan sampai siang, jadi pastikan untuk merapihkan kelas sebelum kalian pulang."


"Selamat pagi Bu Nanase."


"Selamat pagi, kenapa pagi-pagi Anda memanggil murid ke ruangan guru?"


"Aku hanya sedang meminta Tora untuk memberikan penyuluhan untuk yang lainnya agar pembelajaran selalu berjalan kondusif."


Dialah yang harus dikondusifkan.

__ADS_1


Kemampuan aktingnya juga menakutkan.


__ADS_2