Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 30 : Wawancara


__ADS_3

Seorang pembawa acara wanita telah memanggilku untuk masuk ke dalam acaranya, telah disediakan sebuah sofa di sana dan aku duduk setelah ia mempersilakannya.


Karena permintaan aku muncul mengenakan pakaian seragam biasanya.


"Terima kasih sudah mau datang ke studio, nama Anda Tora, Anda adalah pemimpin perusahaan yang beberapa belakangan ini menarik perhatian banyak orang, bagaimana Anda menggambarkan perasaan tersebut?"


"Saya merasa senang bahwa nama kami bisa mulai dikenal banyak orang, saya yakin teman-teman saya juga merasa demikian, berkat mereka juga game kami bisa diluncurkan."


"Begitu, sebelumnya banyak orang yang meragukan bahwa game seperti ini dibuat oleh siswa SMA, kini aku yakin setelah melihat live ini, semua orang akan yakin."


Aku tertawa kecil untuk menanggapinya.


"Kami telah sedikit mencari fakta tentang Anda, bahwa Anda seorang siswa berprestasi terlebih Anda anak dari seorang pembuat game ternama.. orang-orang bahkan bilang bahwa Anda memiliki koneksi tertentu agar bisa sampai ke tahap seperti ini."


"Saya pikir semua orang terlalu berlebihan menanggapinya, kami belum mencapai tahap yang kami inginkan bahkan kami tidak menjadi juara di even game tersebut, kami jelas bukan perusahaan yang cukup tinggi... jika memiliki koneksi bukannya seharusnya kami jadi juara satu saja, apa begitu?"


Pembawa acara tertawa kecil.


"Memang benar, jika punya koneksi kenapa tidak jadi juara satu saja.. kalian dengar, semua tuduhan itu palsu."


Pembawa acara mengalihkan emosi semangatnya ke depan kamera. Ini dibuat untuk mencairkan suasana agar tercipta pembicaraan yang menyenangkan dan dari sini hal yang cukup menggangguku dimulai.


"Aku dengar bahwa ayah Anda mengakhiri hidupnya karena sebuah game, kami sebelumnya turut berdukacita bahkan ibu Anda juga dengan tega meninggalkan Anda dan adik Anda, apa ada sesuatu yang disampaikan untuk itu?"

__ADS_1


"Soal itu aku tidak ingin mengatakan apapun, yang jelas entah aku dan adikku sudah melupakannya dan memilih untuk membuka lembaran baru, dan karena itu juga aku bisa memilih game sebagai tujuan hidup kami berikutnya."


"Mari bertepuk tangan untuk menyemangatinya."


Aku tersenyum kecil.


"Lalu untuk terakhir bisakah Anda bilang rencana seperti apa untuk perusahaan Anda?"


"Kami sedang memproduksi game untuk novel Magic School Assassin, saya harap akan banyak orang yang mendukungnya setelah perilisannya."


"Kami sangat menantikannya, kalau begitu sampai jumpa lagi di acara selanjutnya... sampai jumpa."


Aku menyandarkan bahuku selagi mendesah pelan sebelum mengalihkan pandangan ke arah pembawa acara tersebut, ia merupakan wanita di usia 40an meski demikian ia memiliki wajah cantik dengan rambut hitam.


"Akting ibu cukup mengesankan, jika mereka tahu bahwa Anda sendiri yang menelantarkan anak-anaknya maka itu akan cukup berubah menjadi skandal besar bukan?"


"Begitulah, ibu tidak peduli dengan kami maka kami juga merasa demikian, kalau begitu aku undur diri."


Aku hendak melangkah pergi namun pembawa acara itu menghentikanku.


"Mari berbicara sebentar."


"Tidak ada yang harus dikatakan, sudah kukatakan entah aku atau Tiara kami berdua sudah membuka lembaran baru, bahkan jika ibu mencoba membawa kami, kami berdua pasti akan menolaknya, dibandingkan kami suami kaya raya itu bisa membahagiakanmu."

__ADS_1


"Tunggu."


Aku tidak butuh penyesalannya.


Jika saja dia tidak meninggalkan kami walau kami hidup sederhana paling tidak ayahku masih hidup sampai sekarang.


Aku berjalan ke luar studio selagi memikirkannya.


Jika saja aku bisa menemukan sebuah mesin waktu apa aku bisa kembali ke masa lalu, kemudian mengubah semuanya?


Tentu saja tidak.


Bahkan apapun yang terjadi masa lalu tidak akan pernah berubah dan masa sekarang hanyalah perjuangan untuk meraih masa depan nantinya.


Ketika aku membuka pintu, cahaya menyilaukan menerpa wajahku dan di sana semua orang yang aku kenal telah berdiri menungguku.


"Barusan wawancara yang bagus," ucap Albert.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Hari ini Rin mengundang kita untuk merayakan perayaan volume duanya yang dicetak, mari pergi."


"Benar kakak."

__ADS_1


"Baik, baik."


Tanganku ditarik Tiara untuk bergerak mengikuti yang lainnya.


__ADS_2