
Di atap sekolah aku berkata ke arah Erna yang membelakangiku dengan rambutnya tersibak ke samping.
"Memaksa adik kelasmu untuk melakukan tugas yang tidak ingin dia lakukan, bukannya itu sebuah kejahatan."
"Aku lebih memilih menyebutnya brilian, mengandalkan semua kartu di tanganku adalah hal yang aku lakukan."
"Jadi aku dianggap sebagai kartu andalan atau sebagainya."
Erna melirik ke arahku dengan senyuman kecil.
"Sebentar lagi aku akan lulus, aku perlu memilih penerusku yang dapat menjalankan OSIS ini dengan baik."
Angin berembus melewatiku.
"Jadi begitu, kamu mencoba membuatku terlibat dengan kegiatan OSIS agar aku bisa dipromosikan ke depannya sebagai kandidat calon OSIS."
Aku maupun Erna saling berhadapan dengan jarak dua meter.
"Bukan hal buruk bukan untuk menjadi OSIS, kamu akan memiliki rekomendasikan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, kamu bisa membantuku dan kamu terbantu karenanya."
Aku mendesah pelan.
"Sayang sekali bahwa aku tidak akan melanjutkan sekolah."
__ADS_1
Mendengar pernyataanku, Erna terkejut.
Mungkin ia merasa bahwa aku seperti dirinya namun sejujurnya tidak demikian.
"Kamu adalah siswa berbakat."
"Bakat tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan yang ingin aku raih, tujuanku adalah membuat game dan itu telah terpenuhi bahkan saat aku belum berfikir untuk memulainya, hal itu sudah cukup untukku."
"Orang-orang berbakat harus hidup demi orang lain itulah peran yang diterima olehnya."
"Itu perkataanmu atau orang tuamu?"
Erna yang selalu terlihat liar dan kuat kini goyah ke belakang, aku sudah mendengar hal tentangnya dari editor Rana.
Menggambar adalah hobinya dia adalah seorang komikus namun orang tuanya malah memintanya untuk menjadi seorang dokter karena hal itu juga ia hanya bisa menjadi ilustrasi yang tidak terlalu banyak mengambil waktu.
Apa yang dilakukan Erna sekarang hanyalah mencoba untuk membuat diriku berada di jalur semestinya yang sama sepertinya, bahwa bakat hanya ada untuk membantu orang-orang di luar sana namun bagiku bakat bukan segalanya.
Jika kamu mengikuti bakat apa dirimu juga akan bahagia.
Tentu bakat yang dimaksud adalah kepintaran yang dimiliki setiap orang saat kamu lahir.
Tergantung orang hal itu berbeda-beda dan tidaklah sama.
__ADS_1
"Aku baru pertama kali mendengarnya, bahkan orang-orang di les mengatakan hal sama seperti apa yang aku katakan," ucap Erna.
"Aku cukup kasihan dengan orang-orang kaya yang dengan enteng mengatur anaknya jadi seperti apa di masa depan, mereka tidak peduli perasaan anaknya, seolah tahu segala hal bahwa itu merupakan pilihan terbaik bagi anak-anaknya."
"Sebenarnya apa yang coba kamu katakan?"
Erna mengutarakan hal demikian.
"Pilihlah masa depan yang kamu inginkan dan soal festival aku akan memikirkannya nanti."
Aku keluar pintu dan melihat bahwa Bu Nanase telah bersandar di sebelahku.
"Kamu cukup baik memberitahukannya, Erna cukup kasihan.. dia terlahir di keluarga dokter dan dipaksa untuk mengikuti jejak orang tuanya padahal ia sangat menyukai komik."
"Setiap orang punya masalahnya sendiri, aku hanya ingin membantunya sedikit. Terlebih, Rana juga menyayangkan jika ia berhenti dari pekerjaannya di penerbit."
"Heh?"
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa, bahkan seorang guru juga tidak berani mengatakan hal demikian pada muridnya, kamu benar-benar monster."
"Kenapa semua orang menganggapku begitu?"
__ADS_1
"Kamu belum menyadarinya, lain kali akan aku katakan?"
Tanda tanya muncul di kepalaku.