
"Apa karena aku berada di posisi kedua jadi kau berfikir tidak ingin mengetahui siapa namaku?"
Aku melirik ke papan dan di sana tertera nama Egi.
"Selamat."
"Aku tidak butuh ucapanmu, kau sangat sombong sampai tidak melihat nama-nama di bawahmu bukan."
Aku menunjukan wajah bermasalah, orang ini sama merepotkannya dengan Albert, ketika aku berfikir apa situasi ini akan tambah buruk orang yang dimaksud muncul.
"Aku juga setuju, Tora itu terlalu sombong dia bahkan tidak melihatku yang berada di paling akhir."
Egi melihatnya dengan tatapan mencibir.
"Bukannya kau temannya?"
"Saat ujian kita musuh, begitulah yang dikatakannya."
Aku mendesah pelan, alasan kenapa aku tidak melihat nama orang lain selain aku karena aku sebenarnya tidak benar-benar peduli dengan nilai, kini aku telah mendirikan perusahaan gameku meskipun aku memiliki nilai bagus aku tidak benar-benar ingin melanjutkan studiku.
Albert menjadi kompor kampret.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk mengalahkannya, dia memang pintar dalam pelajaran tapi aku yakin dia tidak benar-benar seorang otaku, aku yakin dia tidak bisa menebak lagu dan film anime lebih cepat dari kita."
"Apa maksudmu ingin mengatakan kita lebih otaku?"
"Benar, impianmu adalah mengalahkannya bukan. Itu juga bisa dihitung sebagai percapaian... jangan khawatir aku juga akan turut membantu."
"Benar juga, aku pasti bisa mengalahkannya."
__ADS_1
"Dengar Tora salah satu dari kami pasti akan mengalahkanmu haha."
Egi mengangkat tangannya dengan rasa penasaran.
"Ngomong-ngomong otaku itu apa?"
Kami semua terdiam dalam keheningan sampai kampret dua muncul, dia adalah Alexia.
"Biar aku jelaskan apa itu otaku.."
Dengan penampilan seperti guru Alexia menjelaskan panjang lebar, bagiku dia hanya berkata bla bla bla dan bla bla, anehnya Egi mengerti.
"Jadi begitu, aku siap menantangnya, mari temui aku di atap setelah sekolah selesai tiga hari dari sekarang."
Dia akhirnya pergi setelah mendeklarasikan dirinya seperti itu. Aku yakin ia akan menonton anime secara maraton.
"Kalian berdua terlalu berlebihan."
"Apa maksudnya?"
"Dia teman kita di SD."
Mendengar jawaban cepat Albert membuatku terkejut.
"Sejak dulu ia ingin mengalahkanmu dalam belajar, sayangnya sampai saat itu ia terus kalah. Kemungkinan dia menjadi kembali bersemangat saat tahu Tora bersekolah di sini juga."
"Benarkah, kenapa aku tidak mengingatnya?"
Bahkan ketika aku terus berfikir aku sama sekali tidak mengetahuinya sampai Albert menambahkan.
__ADS_1
"Aku baru ingat Egi hanya satu sekolah SD dengan kita sampai kelas tiga dan saat kelas empat kamu Tora kehilangan ingatanmu karena kecelakaan, bahkan sebelumnya kamu tidak mengenaliku."
"Albert kamu serius? Kamu tidak berbohong."
"Aku ingat betul itu... tidak salah lagi, sebelum kamu bertemu dengan Tiara."
Aku memegangi kepalaku selagi menyandarkan diri ke dinding.
"Tora?"
Alexia dan Albert memegangi tanganku dengan wajah khawatir.
"Sebaiknya kita membawanya ke UKS."
"Aku mengerti."
"Tidak, aku tidak apa... aku sepertinya harus pergi ke sekolahku yang dulu."
"Kalau begitu biar aku yang mengantarkanmu," Alexia terlihat bersemangat.
"Albert tolong sampaikan ke yang lainnya."
"Serahkan padaku."
Alexia melemparkanku sebuah helm sementara dia telah duduk di sebuah motor sport mewah.
"Katakan tempatnya, aku akan mengantarmu."
"Aku baru tahu kamu memiliki motor?" tanyaku.
__ADS_1
"Sebenarnya aku baru membelinya, menyenangkan jika selalu pulang pergi sekolah dengan kalian jadi aku menitipkannya di sekolah."
Aku menaikinya dan Alexia memacu kendaraannya cepat, aku tidak ragu lagi mengatakannya tapi Alexia adalah segelintir orang yang tidak diperbolehkan mengendarai apapun di jalanan.