Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 40 : Sebuah Undangan Ke Taman Hiburan


__ADS_3

"Aku ingin foto bareng, kakak tolong fotokan aku."


"Dimengerti."


Ketika Tiara tertarik dengan beberapa orang bercosplay unik, ia akan dengan senang meminta foto bersama. Mereka mengizinkannya atau lebih tepatnya mereka juga bersenang-senang dengan itu.


Ini bukan lagi festival yang biasa terjadi di sekolah pada umumnya. Namun, selagi semua bersenang-senang kurasa tidak masalah.


Pertandingan dimulai dengan memasukkan bola memakai sapu terbang, kelas satu akan bertanding dengan kelas satu, kelas dua akan bertanding dengan kelas dua dan begitu juga kelas tiga.


Ini semua akan menjadi festival panjang dan melelahkan. Aku mengoper bola ke arah Albert yang dia selesaikan dengan baik.


Rin di sisi lain tampak kelelahan tapi ia tersenyum senang saat kami memenangkan pertandingannya.


Untuk kelas dua Alexia adalah orang yang paling mencoba, dia orang yang tidak bisa dihentikan siapapun.


"Kalian semua lemah."


Dia memang seperti itu.


Bu Nanase memulai pertandingan berikutnya dan itu terus berlanjut ke pertandingan yang lainnya. Erna telihat menikmatinya juga bersama anggota OSIS lainnya. Terlebih pertandingan yang terakhir yang merupakan merebut ikat kepala.


Aku memperbolehkan Rin dan Tiara untuk berkeliling bersama sementara aku duduk di kursi panjang dengan sebotol air dingin.


Bu Nanase muncul dengan pakaian jerseynya.


"Boleh aku duduk di sini?"


"Meksi aku menolaknya, ibu tidak akan mendengarkanku."

__ADS_1


"Tepat sekali."


Ia duduk selagi minuman cola.


"Fuah, minuman dingin memang hal yang pas untuk dinikmati setelah bekerja keras."


Aku tidak ingat kerja kerasnya seperti apa.


"Kamu tidak bisa memaksa Aden untuk ikut?"


"Aku sudah tahu ia tidak mungkin ikut berpartisipasi, walau demikian dia bersenang-senang di sana," balasku selagi menunjuk ke arahnya.


Aku bisa melihat bahwa Aden telah dikelilingi banyak perempuan.


"Dia berubah jadi pria populer."


"Semuanya adalah gadis-gadis di klub komputer," kataku menjelaskan.


"Tidak, dengan seorang guru yang selalu menggodaku juga sudah merepotkan."


Bu Nanase tertawa.


"Sebaiknya kamu memanggilku Nanase seperti biasanya?"


"Di lingkungan sekolah tidak akan."


"Kalau begitu."


Bu Nanase mengeluarkan dua tiket dari dalam sakunya lalu tersenyum dengan cara jahil.

__ADS_1


"Ibu punya dua tiket di sini, berkencan denganku saat weekend."


"Tiket taman hiburan?"


"Bukannya tempat ini tempat yang paling cocok untuk pasangan."


"Meski Anda bilang begitu kita berdua tidak ada hubungan apapun."


Bu Nanase jatuh dengan lebay.


"Mustahil, padahal kita melalui malam bersama. Ini membuat ibu terluka."


"Jangan mengatakan hal aneh-aneh, jelas bahwa saat itu Anda hanya datang untuk ikut menonton DVD."


Dia bangkit lalu memulihkan tempat duduknya.


"Apapun yang terjadi jika kamu tidak datang, ibu akan mengutukmu."


"Ancaman yang mengerikan."


"Ibu akan memberikan rinciannya nanti, dadah."


Aku hanya duduk untuk memperhatikan Bu Nanase yang disambut kelas kami. Ia sangat populer bagi semua orang.


Festival olahraga ini ditutup dengan kemenangan kelasku, kelas dua Alexia dan kelas tiga Erna.


Entah kenapa malah orang-orang yang aku kenal saja yang jadi juara.


Selang beberapa hari Bu Nanase telah mengejutkanku dengan penampilannya yang tidak biasa, aku pikir dia akan mengenakan pakaian kasual atau sebagainya melainkan dia menggunakan pakaian seragam sekolah.

__ADS_1


Aku sudah menduga ini, saat dia memintaku untuk datang dengan pakaian yang sama.


Ia mengikat rambutnya ekor kuda dan jelas itu sangat cocok dengannya.


__ADS_2