Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 43 : Alasan


__ADS_3

Sementara Rana duduk untuk mencoba membujuk ibu Erna, aku memikirkannya sejenak. Setiap tindakan selalu memiliki alasan, tidak hanya begitu saja muncul tanpa latar belakang.


Melihatku yang telah sampai pada kesimpulan tersebut. Ibu Erna terlihat lelah dan lalu menjelaskan.


"Dulu aku memiliki seorang teman masa kecil yang memiliki impian luar biasa, kami tumbuh bersama di sekolah dan ia bermimpi ingin menjadi seorang dokter, sementara aku saat itu hanya ingin bekerja di perusahaan layaknya pegawai biasa, dia tidak memiliki bakat ataupun kemampuan, yang ia miliki hanyalah semangat kerja keras tanpa pantang menyerah. Aku selalu mendengarkan bagaimana ia bermimpi dan apa saja yang ingin dia raih bahkan setelah menginjak SMA ia tidak pernah berhenti belajar, tentu berbeda dariku aku dimiliki banyak bakat."


Ini mungkin merupakan titik balik semuanya.


Dia melanjutkan.


"Suatu hari aku menemukan temanku mati di jalanan."


Aku maupun Rana terdiam seolah petir telah menyambar kami.


"Ia kerap mimisan karena terlalu memaksa diri, lagipula menjadi dokter tak hanya dibutuhkan kepintaran melainkan uang juga dibutuhkan untuk studinya karenanya ia banyak mengambil kerja sambilan, saat itu aku lengah karena tidak mengawasinya dengan baik. Ia salah membaca petunjuk rambu lalu lintas saat menyebrang jalan hingga pada akhirnya ia tertabrak kendaraan berat."


"Kenapa temanmu sampai sejauh itu ingin menjadi dokter?" tanya Rana.


"Ia tinggal di desa terpencil ia ingin bisa membantu desanya dalam hal kesehatan, saat itu aku menyadari satu hal, jika orang berbakat tidak menyiakan kemampuannya maka orang yang tidak berbakat tidak perlu bekerja keras. Agar tidak ada yang bernasib seperti temanku."


Aku memotong dengan kesal.

__ADS_1


"Jangan bercanda, kau ingin bilang bahwa orang yang berbakat seharusnya tidak perlu bekerja keras."


"Memang begitulah keadaannya, orang berbakat hanya harus mengikuti jalan yang sudah ditakdirkan untuknya yaitu demi keberlangsungan banyak orang."


"Omong kosong."


"Tora?"


Rana segera mencoba menenangkanku.


"Apa kamu pikir bahwa orang berbakat bisa meraih apapun yang mereka inginkan, aku sampai ke tahap ini bukan karena aku berbakat aku melakukannya dengan bekerja keras. Ada kalanya aku lelah tapi di saat yang sama aku punya mimpi yang ingin aku raih. Jika orang tidak berbakat sepertiku sampai melakukan segala hal untuk meraih impiannya makan kalian orang yang berbakat juga harus melakukan hal sama. Sebelum memikirkan kebahagiaan orang lain kalian orang berbakat juga perlu memikirkan apa yang membuat kalian bahagia. Kalian bukan robot kalian manusia biasa hanya itu."


"Dan kenapa aku harus melakukan apa yang kau katakan?"


"Ini bukan untukku ataupun untukmu, ini demi temanmu. Kamu jelas tidak mengakui usaha temanmu jika ia melihat ini ia akan sedih. Cobalah pikirkan lagi apa temanmu terlihat seperti membenci kehidupannya."


Ketika aku akan melanjutkan lebih banyak lagi air mata mengalir di wajah ibu Erna hingga aku kembali duduk.


"Cobalah untuk mengatakan semua ini pada putrimu," itu menjadi perkataanku yang terakhir untuknya hari ini.


Seperti yang aku katakan aku kembali ke sekolah setelah jam istirahat diantar mobil Rana, Bu Nanase mencegatku di koridor.

__ADS_1


"Kamu mencoba membolos, sebaiknya aku harus memberikan hukuman. Datanglah ke ruanganku sekarang.


Ia menggunakan otoritas dirinya untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Apa aku akan dihukum?"


"Tentu saja, hukumannya adalah membiarkanku untuk memelukmu."


Dia melakukan seperti apa yang dikatakannya.


"Kenapa Anda?"


"Kamu terlihat sedih hanya itu."


"Begitu."


Pada dasarnya aku bukanlah seorang siswa berbakat, setelah kepergian ayahku dan ibuku aku sudah memutuskan untuk berjuang lebih keras. Aku adalah seorang pengecut yang tidak ingin kehilangan siapapun lagi dan untuk meraih hal itu aku harus lebih baik dari siapapun agar bisa melindungi adikku.


Aku sudah tidak tahu lagi seberapa banyak buku yang telah aku baca dan sebanyak pula tes yang aku lalui.


Ada satu hal yang selalu aku gantungkan sejak lama bahwa orang tidak berbakat itu tidak pernah ada.

__ADS_1


Manusia pada dasarnya telah diberikan bakat sejak mereka lahir namun kebanyakan dari mereka tidak menyadarinya.


__ADS_2