Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 56 : Kunjungan Kecil


__ADS_3

Di samping kehidupanku yang mulai terekspos seluruhnya, pembuatan game masih terus berjalan.


Aku mulai memperbaiki setiap pekerjaan semua orang dan beberapa pekerjaanku juga diselesaikan oleh Aden.


"Kau tak apa?"


"Maafkan aku."


"Sepertinya masalahmu lebih rumit dari yang aku bayangkan, ayah Aura mendekati ibumu dan ia menghancurkan pekerjaan ayahmu, hingga ibumu yang matre malah berpindah padanya."


"Itu hanya sedikit dari keseluruhan yang terjadi."


Aku tanpa sadar memegangi kepalaku.


"Jika itu aku, kepalaku akan sakit."


Memangnya aku tidak sakit.


"Mari abaikan yang terjadi, yang jelas aku memiliki kakak dan adik yang keduanya tidak ada hubungan darah satu sama lain."


"Aku sedikit iri, dengan kata lain kamu bisa menikahi keduanya, sungguh kehidupan protagonis yang luar biasa."


Aku ingin sekali menutup mulutnya saat ini.


Even game berikutnya akan dimulai tiga bulan lagi kami seharusnya tidak terpengaruh kehidupan nyata.


Bu Nanase muncul dengan kedua tangannya penuh jus kaleng.


"Kalian semua terlalu serius, mari beristirahat sebentar."


Rin bertanya ke arahnya.


"Kenapa banyak sekali makanan?"

__ADS_1


"Ini sebuah perayaan, Erna bilang jembatan serta jalan yang sebelumnya kita kunjungi telah selesai diperbaiki, dia bilang untuk merayakannya."


Erna ataupun Bu Nanase adalah tipe orang yang akan merayakan suatu hal bahkan jika tidak ada alasan.


Erna dan Aura muncul setelahnya.


"Kami juga membawa makanan yang lain."


"Yeey."


Aura semakin dekat dengan semua orang saat aku dan Tiara memutuskan untuk menerimanya sebagai kakak perempuan kami.


Ini keinginan adikku jadi aku tidak bisa menolaknya.


Ia bilang dirinya juga kehilangan keluarganya akan menyakitkan jika hal itu juga terjadi pada Aura.


Mari anggap saja aku memang sudah menjadi protagonis romantis atau sebagainya.


Perusahaan game ternama mengizinkan kami untuk melihat pekerjaan mereka secara langsung.


"Bukannya itu luar biasa, akan kah kita semua pergi bersama?"


Aku menggelengkan kepala atas pernyataan Alexia, untuk Albert dia hanya mengunyah pizza di mulutnya.


"Sayangnya yang diizinkan hanya dua orang, aku akan pergi dan salah satunya bisa kita putuskan bersama, mereka mengadakan tour bagi siapapun yang ingin mengetahuinya jadi bukan hanya kita yang ada di sana."


"Jangan bilang bahwa saingan kita juga ikut," kata Rin yang dijawab anggukan olehku.


Siapapun yang pergi akan berkewajiban untuk memberitahu yang lainnya saat kembali.


Karena kami sebelumnya kalah bukan berarti tahun ini bisa menang, dari segi pengalaman serta uang kami berada di bawah.


Semua orang diam untuk memikirkannya dan akhirnya mereka menunjuk Bu Nanase.

__ADS_1


Aku orang yang lebih terkejut di sini.


"Kita perlu orang dewasa yang turut ambil bagian, jadi hal baik jika Bu Nanase yang melakukannya."


"Benar sekali."


"Setuju."


"Aku dipilih karena yang paling tua," teriak Bu Nanase.


Orang dewasa cenderung memiliki otoritas, karena sudah diputuskan aku tidak akan memberikan keluhan lagi.


Itu adalah sebuah perusahaan game yang bangunannya menjulang tinggi, bagaimana kamu melihatnya itu sangatlah luar biasa, di setiap koridornya kamu bisa menemukan game apa saja yang pernah dirilis di tempat ini.


Ada ruang juga untuk mencoba setiap konsol, mungkin semacam toko yang bisa dikunjungi umum dan membelinya.


Mereka punya Sega dan Nintendo keluaran lama juga.


Salah satu staf kantor mulai mengarahkan kami semua untuk mengikutinya, aku mengambil beberapa catatan saat dia menjelaskan berbagi hal, sepertinya bagaimana game mereka buat, pasar dan juga perencana yang menyeluruh.


Bu Nanase hanya memperhatikan dengan seksama walaupun aku yakin dia tidak tertarik sama sekali, jika ia tertarik dari awal ia sudah menjalankan perusahaan ayahnya yang jauh lebih besar lagi dari ini.


Setelah sore hari kami berdua keluar dari sana dengan wajah lelah.


"Aku nyaris tidak tahu apa yang mereka katakan, tapi semuanya oke."


"Oke apanya?"


Keputusan membawa Bu Nanase memang tepat, aku sedikit tenang meskipun hanya aku siswa SMA yang turut ambil bagian dari sini.


"Terima kasih atas kerja kerasnya, sebelum pulang mari aku traktir ramen."


"Dengan senang hati aku menerimanya," kata Bu Nanase bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2