Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 22 : Akhir Liburan


__ADS_3

Semua orang terbangun untuk menyantap makan siang kami. Setelah selesai mereka mulai menggambar sebuah garis di tanah untuk permainan voli.


Aku turut bergabung meski pada akhirnya aku tetap kalah.


"Kemenangan untukku," Bu Nanase menganggap dirinya menang walaupun dia sejujurnya tidak main sendirian.


Kami beristirahat untuk memulai penjelajah besok hari, di dekat sini ada sebuah gua dan kami memutuskan untuk pergi ke sana.


Sebuah ketukan terdengar di pintu.


"Kakak bolehkah hari ini aku tidur di sini."


"Ibu juga."


"Kalian berdua, tempatnya tidak cukup.. kembalilah ke kamar kalian."


Aku tentunya berhasil mengusir keduanya.


Albert dan Aden muncul dengan wajah kelelahan.


"Kalian terlihat tidak tidur?"


"Kami bergadang main kartu remi, dan dia terus menantangku sampai dia benar-benar menang."


Aku pikir seharusnya Albert bisa mengalah, Rin dan yang lainnya muncul belakangan dengan wajah tampak segar.


"Apa tidurmu nyenyak?"


"Um," Rin mengangguk sementara Bu Nanase sudah membentangkan tangannya di depan kami semua.


"Wahai para domba-domba sekalian waktu kita berpetualang telah dimulai, ibu tidak ingin dari kalian tertinggal ataupun jatuh jadi tolong berhati-hatilah."


Tiara berbisik padaku.


"Kakak apa gua itu berbahaya?"

__ADS_1


"Tidak juga, guanya sendiri tidak memiliki cabang dan berada di atas sungai meski demikian tetaplah berhati-hati."


"Aku tidak sabar melihatnya," ucapnya demikian.


Kami berjalan dan menemukan di sana seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Bu Nanase.


"Kalian terlambat, aku sudah menyiapkan semuanya loh."


Yang dia persiapkan adalah beberapa perahu karet untuk dua orang. Seperti yang aku katakan kami tidak berjalan di dalam gua melainkan melewatinya begitu saja.


Pasangan sendiri telah diputuskan dengan sebuah undian.


Aku bersama adikku.


Albert bersama Aden.


Rin bersama Alexia.


Sementara Bu Nanase bersama temannya.


Entah kenapa Bu Nanase terlihat lebih lelah, kami mengandalkan arus sungai untuk membawa kami masuk, mirip-mirip arus jeram kurasa dengan aliran yang lebih tenang.


Dari kejauhan mulut gua terlihat jelas.


"Gua seperti ini baru pertama kalinya aku melihatnya kakak."


"Aku tidak tahu apa pantas hal ini disebut gua, aku merasa ini lebih cocok disebut terowongan."


"Kakak terlalu banyak berfikir, tolong dayung lebih cepat."


"Baik-baik."


Kami menyalahkan lampu di helm kami dan terus maju, dinding yang dipenuhi kelelawar menjadi pemandangan yang bisa kami lihat sepanjang perjalanan.


"Lihat ada kadal putih?"

__ADS_1


"Lebih tepatnya Salamander," balas Rin pada Alexia. Untuk kelompok yang masih diam hanyalah Albert.


Berduaan dengan pria bisa dibilang sangat canggung.


"Mau cemilan Albert."


"Terima kasih banyak."


Alexia yang memperhatikan tampak bersinar.


"Ini mirip BL."


Rasanya aku ingin mendorongnya jatuh sekarang.


"Kakak BL itu apa?"


"Sebaiknya kamu tidak tahu hal itu."


Dalam rute kami, Bu Nanase mulai menjelaskan apa yang kami lihat, walau dia menjadi seorang guru karena alasan iseng ia merupakan guru yang benar-benar ahli.


Pengetahuannya luas dan juga mampu menjawab pertanyaan kami semua, selepas selesai kami beristirahat semalam lagi dan baru keesokan paginya kami kembali setelah mengucapkan terima kasih pada teman Bu Nanase.


Liburan kami memang hal yang terbaik.


"Kalau begitu ibu akan mengantarkan yang lainnya juga, pastikan adikmu beristirahat dengan baik."


"Kurasa dia terlalu bersemangat."


"Sepertinya begitu."


"Terima kasih."


"Jika kamu ingin mengucapkan terima kasih tolong gendong aku juga seperti apa yang kamu lakukan pada adikmu nanti."


Aku membalasnya dengan senyuman masam.

__ADS_1


__ADS_2