Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 70 : Kelas Baru


__ADS_3

Game edukasi yang kami buat telah diberikan pada Michan, dan karena ini proyek bersama itu menarik lebih banyak orang untuk meliput kami.


Itu menjadi karya sukses kami yang berikutnya.


Bersamaan embusan angin segar yang masuk melewati jendela perubahan kelas telah berubah seutuhnya, aku tidak ingin mengatakannya tapi kurasa aku terlalu menikmati sekolahku hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat dan sekarang aku bersama yang lainnya telah resmi menjadi kelas tiga.


Ada banyak hal terjadi di kelas dua khususnya soal pertandingan aneh siapa yang menjadi seorang otaku sejati, jika semua orang penasaran dengan hasilnya jawabannya adalah bahwa aku telah kalah telak.


Orang yang menantangku sebelumnya sangat senang padahal dia seharusnya lebih senang jika mengalahkanku dalam pelajaran sekolah, tapi terserahlah setelah itu dia tidak menggangguku lagi sudah cukup.


Bu Nanase muncul dengan penampilan seperti biasanya, tidak ada perubahan wali kelas jadi ia akan tetap bersama kami.


Salah satu orang bertanya.


"Ibu kelihatan lebih terlihat senang, apa terjadi sesuatu?"


Yang lain turut menambahkan.


"Aku juga penasaran, Bu Nanase memang ceria tapi sekarang lebih ceria dari sebelumnya."


Bu Nanase tampak malu-malu seharusnya tidak perlu menjawabnya tapi dia juga sepertinya tidak keberatan.


"Belakangan ini ibu menjalin hubungan dengan seseorang, kami sangat dekat tapi sayangnya tidak bisa menikah dalam waktu cepat, meski begitu aku sangat senang."

__ADS_1


Ketika wajahku memerah Albert dan Rin menatapku dengan jahil. Untuk kakakku dia hanya menggigit bukunya.


Aku belum pernah merasakan hal seperti ini, apa ini yang disebut sebagai masa muda ketika kamu tidak sengaja menulis sejarah kelammu.


Semua orang kecuali mereka mengajukan pertanyaan yang menanyakan siapakah orang tersebut dan Bu Nanase hanya menjadi ra-ha- sia dengan pose nakalnya.


Aku tidak membenci tingkahnya hanya saja itu membuatku tidak bisa fokus dengan apa yang harus kulakukan karena damagenya terlalu besar. Dia terlalu manis.


Albert menjatuhkan dua buah tiket di dekatku.


"Apa ini?"


"Bawalah pacarmu ke sana."


"Tunggu, bagaimana kamu bisa memiliki tiket ini?"


Rin bergumam di dekatku.


"Dia ditolak dan dia bilang dia akan menyerah."


Yap, terkadang aku lupa. Beberapa orang bisa memiliki seorang yang kamu sukai dan beberapa orang harus memilih untuk melupakannya.


"Jangan hiraukan tentang Albert, dia akan terjebak denganku mulai sekarang."

__ADS_1


"Itu maksudnya."


Aku melirik ke arah Rin yang menempatkan satu jari di bibirnya seolah mengisyaratkan untuk tidak memberitahukannya.


Albert kamu ternyata memiliki pengagum rahasia yang tidak terduga.


Aku menghela nafas panjang akan penampilan Bu Nanase yang jauh dari penampilan dirinya sebelumnya, dia mengenakan celana pendek, T-shirt dan rambut yang diikat penampilannya sangat muda dan sulit menebak bahwa ia sudah melewati umur belasan tahunnya.


"Apa penampilanku terlihat aneh?"


"Tidak, kamu terlihat cantik."


"Aku dipuji, aku sangat senang tolong puji yang lainnya juga."


"Terlalu berlebihan tidak baik."


"Yare, yare, terlalu menahan diri juga tidak baik."


Tiket yang diberikan Albert adalah tiket menonton pertunjukan opera di hari libur, aku belum pernah menontonnya tapi kurasa orang di sebelahku tidak keberatan.


"Opera memang menganggumkan, bagaimana kalau kita mencoba bertingkah seperti mereka, aku jatuh dan Tora menangkapku sebelum kita berciuman."


"Tidak ada bagian itu di opera ini, jangan mengarangnya."

__ADS_1


"Kamu ternyata memperhatikannya."


Menjaga hubungan dengan dia agar tetap sehat memang menyulitkan. Ada beberapa orang mengatakan wanita itu, racun dan penggoda dan aku rasa aku harus setuju dengan itu, entah bagaimana hari ini berjalan dengan lancar.


__ADS_2