
Desanya sendiri begitu sederhana, terbuat dari kayu yang bisa didapatkan di sekitar serta mengenakan atap jerami.
Kami diberikan satu rumah cukup luas untuk beristirahat dan keesokan paginya Erna memberikan pemeriksaan kesehatan secara gratis.
Karena dia memiliki izin jadi aku tidak akan melarangnya.
Untuk tes darah, jantung dan berat badan masih di dalam operasional baik. Semua orang turun membantu juga hingga rumah sederhana yang kami gunakan lebih terlihat seperti klinik dibandingkan hal sebelumnya.
Kepala desa berdiri di sampingku dan bertanya.
"Kenapa kalian semua melakukan hal seperti ini, lebih dari itu nona Erna?"
Sebaiknya aku menceritakan semuanya dari awal.
Kepala desa mengangguk mengerti, di wajahnya dia juga merasakan perasaan sedih apalagi sosok yang berusaha mengubah keadaan desa ini merupakan gadis baik, sayangnya umur berkata lain walaupun alasannya menjadi dokter karena kedua orang tuanya meninggal sebelum penyakitnya bisa disembuhkan.
Akan lebih baik menutup lembaran yang menyakitkan itu, karena pada akhirnya keinginannya akan tercapai dengan usaha Erna.
Aku hanya yakin akan hal itu.
Selama dua hari kami melakukan kegiatan yang sama hingga di hari ketiga kami akhirnya bisa bersenang-senang, kami berniat untuk mendaki gunung demi melihat matahari terbit.
Jam ponselku telah menunjukkan pukul 3 pagi.
"Apa masih jauh? Aku sangat lelah."
"Apa kau ini pria... masa letoy begitu, tirulah seperti aku."
Alexia mengejek Albert yang sudah kelelahan, bukan hanya dia Aden juga mengalami hal sama.
"Air, air, aku perlu air."
"Bukannya di tanganmu itu air," kataku demikian.
__ADS_1
"Benar, aku melupakannya."
Bu Nanase saling bahu membahu bersama Tiara untuk mendaki, keduanya entah kenapa bisa akrab juga.
Untuk Sari dan Erna keduanya jelas tidak kesulitan bersama Rin di depan.
Pukul 05:30 kami berhasil ke puncak, masih ada setengah jam lagi untuk menunggu jadi kami bersiap-siap menggelar tikar serta meletakkan makanan ringan serta jus-jus kaleng walaupun semuanya tidak dingin, ini lebih baik dibandingkan tidak ada.
Ngomong-ngomong kami terbilang aneh entah pagi, siang atau malam kami bisa menikmati jus seperti ini. Bahkan ketika musim hujan.
Pemandangan di depan kami hanyalah kabut tebal yang perlahan mulai menghilang dan menyisakan pemandangan luar biasa yang indah.
"Aku ingin bisa datang kemari lagi suatu hari nanti," kata Rin.
"Aku juga, aku tiba-tiba memiliki keinginan untuk menggambar," tambah Alexia.
Pemandangan yang bisa dinikmati bersama teman-temanmu memang yang terbaik.
"Alexia mana ilustrasinya?"
"Belum selesai, aku merasa ini kurang bagus."
"Rin?"
"Aku sedang menulis cerita sampingannya."
"Dan Albert?"
"Aku hanya pengisi suara."
"Bukan itu, tolong belikan cola."
"Aku dijadikan OB di sini," teriaknya.
__ADS_1
Senang rasanya kembali.
***
Semester telah dimulai kembali kini aku telah resmi menjadi kelas dua. Ada hal bagus yang terjadi belakangan ini khususnya soal adikku.
Aku berdiri di meja makan selagi memperhatikan dia yang mengenakan seragam SMA.
"Bagaimana kakak, apa aku terlihat aneh?"
"Tidak, kamu terlihat sempurna, adikku memang cantik."
Erna dan Alexia memasang wajah bermasalah.
"Siscon."
"Benar sekali."
Berkat bantuan SMP yang pernah dulu aku masuki, adikku bisa lulus seperti kebanyakan teman-temannya.
"Tapi apa kamu yakin ingin masuk sekolah lagi, kakak tidak keberatan loh?"
"Tidak, aku ingin berubah. Setelah mengenal semuanya aku pikir aku juga ingin bisa melakukan sesuatu yang sama dengan memiliki banyak teman, maaf selama ini selalu merepotkan kakak, terima kasih banyak."
Tiara membungkukkan badannya ke arahku dan tanpa sadar aku telah menangis.
"Kamu terlalu cepat tumbuh, aku tidak akan mengizinkannya."
"Entah kenapa dia malah terlihat seperti orang tua yang ditinggalkan anaknya menikah."
"Aku akan malu di kampusku jika semua orang tahu aku punya kakak seperti ini."
Dua orang ini suka seenaknya jadi abaikan saja.
__ADS_1