
Imut merupakan kata yang cocok untuk menggambarkannya. Walau demikian mengenakan pakaian seragam pada hari libur bukan sesuatu yang normal hingga pada akhirnya semua mata tertuju pada kami.
"Kenapa semua orang melihat ke arah kita, hmm aku tahu mungkin karena aku cantik."
Itu mungkin benar tapi lebihnya soal penampilan kami.
Karena sudah seperti ini aku lebih baik mencoba tidak memikirkannya lagi.
"Ah di sana, mari naik itu."
Aku memasang wajah bermasalah.
"Bukannya itu terlalu."
Melihat ekpresiku mata Bu Nanase seolah baru menemukan mainannya.
"Jangan bilang kamu takut naik rollercoaster."
"Tentu saja tidak."
"Kamu sedang mencoba untuk bersikap tenang kan."
Bu Nanase merangkul lenganku membawanya ke dadanya.
Yah, itu lembut.
"Kita harus terlihat mesra agar tidak membuat mereka kecewa."
Jika Bu Nanase mengatakan bahwa dia mantan agen rahasia atau apapun itu aku akan percaya.
Di belakang kami adikku bersama yang lainnya telah menguntitku sejak lama. Aku bahkan bisa mendengar apa yang mereka bisikan di sana.
"Apa mereka pacaran."
"Kelihatanbya seperti itu, Rin kau baik-baik saja aku kira kau menyukai Tora?" tanya Albert.
"Aku hanya menghormatinya."
Alexia tertawa.
"Aku juga merasa begitu."
__ADS_1
"Kalian sangat aneh."
Sementara mereka mengatakan perkataan yang tidak-tidak aku telah diseret dalam antrian. Dari wajahku terlihat jelas bahwa aku memang tidak ingin menaikinya.
"Giliran kita."
Aku naik dengan gerakan robot, ketika petugas memastikan bahwa semuanya telah siap, tunggangan kami mulai bergerak maju, naik lalu turun dengan kecepatan luar biasa.
Aku tidak bisa menikmati hal seperti ini walau demikian aku berusaha untuk tidak muntah setelahnya.
"Menyenangkan sekali bukan, sekarang ke sana."
Kami naik ke wahana yang lebih ekstrim dari sebelumnya.
"Bisakah kita naik yang lebih mudah."
"Maksudmu seperti odong-odong di sana."
Dia jelas mengejekku.
Aku mendapatkan hari yang melelahkan lainnya.
"Hari ini sangat menyenangkan, mari pergi kapan-kapan lagi."
Walau begitu kurasa ini tidak terlalu buruk.
Peluncuran game Magic School Assassin telah disepakati, di dalam ruangan rumahku semua orang telah menunggu tanggapan yang akan kami terima.
Kami telah menahan diri selama tiga hari untuk tidak melihatnya sampai sekarang.
"Kalau begitu akan aku umumkan hasilnya."
Aku melirik layar smartphoneku dan memastikan seberapa banyak orang yang telah mendownloadnya, jika video demonya mencapai 100 juta seharusnya lebih dari itu.
"Lima ratus juta," kataku tertegun
Semua orang berteriak semangat, Aden yang selalu menyembunyikan wajahnya juga turut memasang wajah lega.
Rin bertanya.
"Bagaimana nilai ulasannya?"
__ADS_1
"Empat koma sembilan."
Semua orang kembali bersemangat, Bu Nanase segera mengambil ponselnya.
"Mari rayakan dengan pizza dan cola."
"Hooooh."
Mereka tidak bisa menahan diri, selanjutnya para pengisi suara mulai berdatangan untuk ikut dalam kemeriahan.
"Kakak tempat ini jadi semakin ramai."
"Maaf membuatmu repot."
"Tidak, aku malah senang... aku pikir aku hanya akan hidup berdua saja dengan kakak, tapi sekarang membayangkan bisa seperti ini sangat mengagumkan."
Bu Nanase yang entah dari mana memeluk Tiara dari belakang.
"Aku mabuk."
"Tidak ada orang yang mabuk karena cola," balasnya demikian.
"Kamu kasar sekali pada kakak iparmu."
"Aku tidak punya kakak ipar."
"Kamu tidak menerimaku."
"Jelas sekali."
"Kakak sedih."
Bu Nanase benar-benar suka menjahilinya. Aku mengabaikan mereka untuk bergabung dengan semuanya.
"Dengan ini kita bisa beristirahat untuk beberapa hari."
Ketika aku mengatakannya Albert memotong.
"Apa maksudmu beristirahat, bukannya kita punya tujuan lain, sekarang berikan kami tugas yang lainnya."
"Benar sekali, aku ingin langsung bekerja lagi."
__ADS_1
"Setuju," teriak Bu Nanase ceria.
"Kalian benar-benar jadi gila bekerja," kataku lemas.