Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 42 : Bertemu Orang Tua Erna


__ADS_3

Itu hari biasanya dengan langit cerah berawan, seharusnya aku akan menemukan dua teman yang menungguku di depan rumah namun sekarang berbeda.


Di sana berdiri sosok pria berjas hitam bersama mobil mewah miliknya, kemungkinan dia seorang supir dan di dalam mobil barulah pemiliknya.


Si supir membuka pintu untuk menunjukkan si pemiliknya yaitu seorang wanita dengan jas putih yang lumrah dikenakan seorang dokter.


Jelas sekali bahwa aku merasakan hal cukup intens di sana, ia terlihat seperti Erna dewasa. Atau mungkin bisa dibilang dia pasti ibunya.


Erna dan Alexia muncul dari belakangku.


"Oi Tora, seharusnya kamu menunggu kami juga."


"Benar."


"Kalian berdua?"


"I-ibu."


Dan begitulah kami terjebak pergi ke sekolah dengan seorang yang cukup menakutkan.


"Jadi apa mereka teman-temanmu yang mempengaruhimu?'


Aku tersenyum masam sedangkan Alexia tidak peduli.


"Bukan karena mereka, aku melakukannya karena keinginanku sendiri."


"Tidak, mustahil... seharusnya aku ingat bahwa kamu akan tetap menjadi dokter."


"Aku mengatakan hal sebenarnya."

__ADS_1


Ketika kami tiba disekolah aku tidak lantas turun dari mobil melainkan tetap berada di dalam sana. Keduanya melirikku dengan bingung.


"Aku akan masuk pada pertengahan jam istirahat."


"Tunggu Tora."


Aku mengabaikan perkataan Erna, dan mobil telah melaju kembali.


"Nah, mari kita mengobrol di tempat yang lebih baik."


Aku dan ibu Erna mengambil tempat di sebuah kafe yang sering aku kunjungi, di sini biasanya aku akan bertemu Rana dan sekarang di tempat duduknya telah digantikan oleh ibu Erna.


"Bukannya Anda terlalu keras pada putri Anda."


"Ini demi kebaikannya, aku sekarang bahkan berfikir salah karena memasukannya ke dalam sekolah itu."


"Anda tahu bahkan meski Erna menjadi komikus ia akan tetap bisa menjadi seorang dokter."


"Itu mustahil, jika dia menjadi orang seperti itu, karirnya tidak akan mungkin secemerlang... yang dibutuhkannya pergi ke Singapura dan belajar di sana, ia akan menjadi sosok yang akan diperhitungkan semua orang."


"Anda terlalu berlebihan."


Lawan bicaraku sedikit mengerenyitkan alisnya selagi meminum tehnya.


"Apa maksudmu?"


"Memaksa seseorang yang memiliki bakat untuk mendedikasikan hidupnya untuk orang lain, itu terasa berlebihan. Pada dasarnya orang yang memiliki bakat juga hanya manusia biasa yang perlu mendapatkan kebahagiannya juga."


"Orang berbakat ada untuk membimbing orang lain, apa yang kukatakan salah?"

__ADS_1


"Tidak juga, hanya saja jika orang berbakat tidak menjalani hidupnya untuk apa mereka mengabdikan diri untuk orang lain."


"Jangan berbicara bertele-tele, langsung ke intinya."


Aku cukup percaya diri dengan cara aku berbicara.


"Aku meminta Anda untuk membiarkan Erna menjadi apa yang dia inginkan, tentu saja ia tetap akan menjadi dokter."


"Itu terlalu naif, memangnya ia bisa melakukan kedua hal itu."


"Aku pikir bisa, Indonesia sendiri memiliki tenaga medis yang ahli di bidangnya, terkadang aku bingung kenapa mau-maunya penduduk kita belajar di luar negeri padahal negeri kita juga sudah cukup."


Aku menyinggungkan senyuman kecil sebelum ponselku berbunyi.


"Permisi, ah Rana kamu sudah di sini, masuk saja... iya."


"Siapa itu?"


*Nanti juga tahu."


Tak lama kemudian orang yang aku maksud muncul. Ia segera memperkenalkan dirinya yang membuat ibu Erna semakin tidak nyaman.


"Kalau begitu tolong lihat dulu yang ini, semua ini buatan Erna."


"Putriku yang menggambarnya?"


"Benar, semuanya sangatlah bagus saya akan sedikit menyayangkan jika Erna harus berhenti dari karirnya, ia selalu bersemangat saat mengatakan soal menggambar, aku pikir sebagai orang dewasa kita seharusnya bisa memahaminya dan mendukung apapun putusan dari anak-anak kita."


Emangnya kamu sudah menikah? Tanyaku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2