
Setelah membaringkan Tiara di kamarnya, aku pergi ke ruangan kerja lalu menyalahkan komputer sebelum memainkan game yang sebelumnya kami mulai.
Video awal telah diputar dan sekarang protagonis yang aku mainkan mulai bertemu dengan satu persatu gadis targetnya.
Visual yang ditampilkan benar-benar sangat bagus meski demikian hal ini masih belum cukup, di zaman sekarang game dengan Open World lebih digandrungi daripada game galge.
Aku memutar kursiku selagi memikirkannya, mungkinkah aku membuat game yang serupa untuk game berikutnya tapi jika aku merubah konsep untuk ditunjukan pada ayah Bu Nanase maka aku juga perlu membuat game yang lain untuk mengikuti even game berikutnya.
Memikirkannya sesaat kurasa game untuk ditunjukan pada ayah Bu Nanase bisa menunggu nanti.
Beberapa jam berikutnya aku menelepon Bu Nanase.
"Tora, apa kamu sudah kangen sama ibu?"
Aku memilih mengabaikannya dan lalu mengatakan hal yang aku pikirkan.
"Begitu, kurasa itu pilihan tepat.. seperti yang pernah ibu katakan ayah ibu cukup ketat menyeleksi siapapun yang bisa berada di bawah naungan perusahannya, jika saat ini kalian juara satu maka untuk bergabung dengannya tidak sulit, aku juga sedikit ragu untuk mengajukan kalian jika hanya juara segitu."
"Aku bisa mengerti itu."
"Kamu baik-baik saja?"
"Tentu, kami akan memenangkan kompetisi selanjutnya tahun depan dan membawa nama kami lebih tinggi lagi."
"Itu baru semangat namun langkah kalian masih panjang sebaiknya tidak perlu terburu-buru, jika kamu perlu uang hubungi Tante kita bisa menyewa."
Aku menutup teleponnya sebelum ia mengatakan hal aneh-aneh.
"Kenapa kamu menutup teleponnya, aku belum selesai berbicara."
__ADS_1
"Tidak sengaja kepencet."
"Kalau begitu aku akan mengulanginya lagi."
"Tolong jangan repot-repot."
Aku menutupnya kembali.
Aku melirik ke layar komputer di sana tampak seorang gadis yang melebarkan tangannya untuk meminta pelukan.
"Bukannya dia terlihat seperti Bu Nanase," kataku pelan.
Beberapa Minggu kemudian kami kembali menjalani rutinitas kembali, walau sebelumnya adikku bisa keluar dia kembali mengurung dirinya kembali dan sekarang dia baru saja menerima paket yang dia belinya.
Aku yang baru minum teh meliriknya dari belakang.
"Kamu beli beras online lagi."
Aku memperhatikan dan melihat bahwa itu merupakan DVD Player dengan berbagai CD anime serta film-film yang telah didubbing sebelumnya.
"Ada potongan harga di internet jadi aku membelinya."
"Heh, begitu... tapi semuanya film dari luar."
"Aku ingin mencoba melatih suaraku kakak, aku ingin nanti menunjukkan kemampuan terbaikku."
Mencari referensi mungkin adalah hal yang terbaik, mari ikut menontonnya juga.
"Pertama mari tonton anime penyihir ini, ini cukup populer loh."
__ADS_1
"Mari lakukan."
Di pertengahan film sebuah ketukan pintu terdengar, aku mengira itu Bu Nanase namun ternyata dia adalah Alexia yang membawa koper cukup besar.
Tiara muncul dari belakangku.
"Siapa kakak?"
"Owh adik kecil selamat pagi, maaf repot-repot tapi bisakah aku tinggal di sini jika uang sewa aku akan membayarnya."
"Rumahmu?"
"Rumahku digusur satpol PP sekarang aku gelandangan tanpa rumah."
Sekarang kami memiliki masalah yang lebih sulit.
Alexia menjelaskan bahwa selama ini dia tinggal bersama paman dan bibinya, setelah digusur mereka memutuskan untuk kembali ke desa. Sedangkan Alexia tidak ingin melakukannya dan akhirnya dia memutuskan untuk menumpang dengan kami.
Di sini ada ruangan kerja miliknya karena itulah Alexia memilih tempat ini.
"Aku tidak keberatan, kakak sendiri?"
"Aku tidak masalah."
"Kalian sangat baik, aku akan beres-beres rumah tolong andalkan aku," dia mungkin meremehkan pekerjaan beres-beres rumah.
Setelah beberapa hari.
"Aku tidak sanggup."
__ADS_1
Kami membiarkannya fokus untuk pekerjaannya saja.