
Pagi hari itu aku menyeruput tehku di depan berada rumah selagi mengawasi Albert yang sedang berlari mengitari perumahan.
Dia sebelumnya ingin menjadi populer dan Tiara menyarankan agar dia ikut klub basket, siapapun yang berada di klub seperti itu biasanya akan mudah terkenal dan dipastikan akan menarik perhatian Sari.
Aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak, yang jelas... semoga beruntung. Jika menyangkut ketua OSIS aku sudah tahu yang akan memenangkannya. Bisa dibilang orang yang kemungkinan memiliki peluang sangat besar.
Dia adalah Aura, ia menjadi tertarik dengan hal semacam itu.
Erna dengan pakaian kuliahnya muncul tepat berjalan dari belakangku. Aku sempat berfikir kapan dia pindah dari sini tapi kurasa tidak ada keinginan untuk melakukannya.
Rumahku lebih seperti tempat kerja dan indikost.
"Sudah mau berangkat."
"Iya, di kampusku cukup sibuk sekarang."
"Begitu, apa kamu ingin ikut juga... aku tidak keberatan untuk membawamu."
"Tidak terima kasih, aku tidak cocok dengan dunia perkuliahan."
"Haha, aku rasa tidak demikian."
Aku hanya memperhatikannya yang pergi dengan mobil miliknya. Aku sebaiknya bersiap-siap juga untuk pergi ke sekolah.
Beberapa minggu berikutnya Aura telah diangkat sebagai ketua OSIS, aku yang memperhatikannya dari bawah sudah merasa tidak aneh lagi.
"Terima kasih atas dukungannya, aku akan menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman untuk semua orang, dan untuk membuktikan hal itu aku akan membuat festival budaya yang akan membuat semua mengingatnya sampai tua nanti, jadi bersiaplah semuanya."
"Yeeeeah, hidup ketua OSIS."
__ADS_1
Ah, aku lupa soal itu. Festival budaya adalah sebuah festival dimana setiap kelas akan ikut berpartisipasi di dalamnya beberapa menciptakan stand mirip lapak kios, restoran serta rumah hantu.
Aku harap aku tidak terlibat di dalamnya.
Tentu itu harapan yang sia-sia, kelompokku yang sebelumnya independen telah dipaksa menjadi sebuah klub sekolah, dan sekarang harus menyediakan acara untuk festival tersebut.
Meski aku bebas dari kelas sepertinya aku tidak bisa bebas sepenuhnya.
"Aura, tolong pikirkan lagi?"
"Kamu harus memanggilku kakak."
"Ketua OSIS."
Dia mengembungkan pipinya.
"Apa kamu tahu bahwa sekolah ini terkenal karena game yang kalian buat, itu akan membuat semua orang kecewa bahwa kalian tidak ikut dalam hal ini."
Ugh.
Aku mengerti apa yang coba ia katakan hingga aku menjatuhkan bahuku lemas.
"Aku menantikan kerja keras kalian."
"Aku mengerti."
Aura tersenyum lalu berjalan pergi.
"Jika kamu merasa penat, kamu bisa mengajak kakak berkencan loh."
__ADS_1
Aku tidak ingin sampai hal itu terjadi.
Aku merundingkan hal yang terjadi pada semua orang, sama seperti yang aku ingat mereka berubah menjadi bersemangat.
"Yeeah, game seperti apa yang kita akan buat kakak?"
"Aku punya beberapa ide tapi mari buat game yang sederhana."
"Game sederhana?"
"Kita akan membuat game pixel yang bisa dimainkan semua orang saat festival budaya."
Semua orang menatapku dengan tatapan bersinar.
"Buat gamenya yang sesimpel mungkin agar semua orang bisa memainkannya."
Alexia berteriak.
"Mantap, kita selalu melakukan hal-hal yang baru. Aku menyukainya."
"Jika membuat game seperti itu akan jauh lebih cepat dibandingkan yang kita kerjakan."
Rin sudah menulis saat ini dan segera menunjukkan hasilnya.
"Seorang putri diculik oleh naga dan seorang kesatria datang untuk menyelamatkannya, bagaimana?"
"Itu bagus, mari buat itu dalam 10 stage."
Satu pekerjaan lainnya yang harus dikerjakan.
__ADS_1