
Ujian semester telah selesai. Kecuali kami, Aden harus tinggal satu tahun lagi di kelas tiga.
Aku menemaninya di pinggir sungai selagi menatap langit yang telah berubah kemerahan.
"Tidak masalah untuk tinggal satu kelas lagi bukan."
"Tentu saja, sekolah terlalu meremehkanku. Aku akan mengambil peringkat satu setelah ini."
Kami saling membenturkan kaleng jus sebelum meminumnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Bu Nanase? Kalian pacaran?"
"Tidak, aku juga tidak tahu aku menyukainya atau tidak yang jelas aku lebih mengutamakan game dari apapun."
"Pernyataan yang konyol, manusia perlu cinta dan kasih sayang untuk hidup aku tidak berfikir kau bisa hidup dengan hal itu."
Aku memasang wajah keterkejutan.
"Aku tidak menyangka mendengar perkataan seperti itu darimu."
"Ngajak ribut."
Aku tertawa kecil lalu membaringkan tubuhku di rumput.
"Sejauh ini yang aku tahu bahwa di masa lalu aku pernah bertemu dengan Bu Nanase, sayangnya aku tidak mengingatnya. Aku sempat menanyakan pada adikku dan ia juga tidak tahu apapun."
"Begitu, memang aneh gadis secantik Bu Nanase tertarik dengan orang sepertimu."
"Oi."
"Yah apapun itu, semoga beruntung."
__ADS_1
Keheningan beberapa saat muncul di antara kami, sampai aku membuka mulutku.
"Bagaimana menurutmu soal game?"
"Paling tidak, tidak membuatku bosan khususnya dirimu."
"Kalau seseorang mendengarnya itu akan jadi masalah loh, mengatakan hal seperti itu pada sesama cowok."
Atas perkataanku, Aden menunjukkan wajah jijik.
Dia benar-benar tidak bisa diajak bercanda. Ia melanjutkan.
"Yang jelas game menyenangkan, tidak hanya untuk yang memainkannya akan tetapi yang membuatnya juga."
Aku tersenyum kecil sebagai balasan, saat pertama kali aku dibawa oleh ayahku ke perusahaan game miliknya, perasaan seperti itulah yang aku miliki juga.
Setelah ujian kami mendapatkan libur panjang dan sekarang Erna mengajak kami semua untuk berlibur ke sebuah tempat di pelosok desa, dia sudah lulus dari SMA dan sekarang mengenakan jas dokter selagi bersandar pada mobil Van barunya.
"Tentu saja aku punya, lihat."
"Dan pakaian itu, apa kamu punya izin juga?"
"Aku sudah diterima di fakultas kedokteran tidak masalah bukan."
Aku memasang wajah bermasalah, khususnya terhadap Bu Nanase.
"Kenapa dia juga ikut?"
"Soal itu aku tidak sengaja berpapasan dan kecoplosan soal kita yang akan berlibur, pada akhirnya dia memaksaku untuk ikut. Aku merasa sakit saat dadaku dipegang-pegang."
"Apa kalian mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
Orang yang dimaksud muncul seperti hantu.
"Tidak ada," balas Erna secepat yang bisa dia katakan.
"Yah sudah."
Aku pikir aku akan menyebutnya piknik perusahaan juga. Beberapa perusahaan terkadang pergi seperti ini.
"Terima kasih untuk mengundangku juga."
Yang mengatakan itu adalah Sari, dia tidak memiliki rencana jadi semua orang sepakat untuk mengajaknya juga, dibandingkan siapapun Albert jelas yang terlihat bersemangat.
Dia mengedipkan mata ke arahku yang kujawab dengan senyuman masam.
Seberapa mabuk orang ini.
Adikku Rin mulai membantu Alexia dan Aden mengemas barang bawaan kami.
Aku bertanya ke arah Erna.
"Apa mungkin desa yang kita kunjungi itu?"
"Benar sekali, itu adalah desa yang teman ibuku dulu katakan. Aku merasa ingin mengembangkan kesehatan di desa itu juga, paling tidak aku ingin bahwa kerja kerasnya dulu tidak akan sia-sia dan aku ingin mengambulkan keinginannya."
Teman Ibu Erna sebelumnya telah meninggal karena terlalu memaksa diri belajar untuk menjadi seorang dokter. Mungkin hal itu juga yang membuat hati Erna tergerak.
"Kalau begitu mari berangkat."
"Bu Nanase ada di sini, jika tidak sanggup biarkan ia yang menyetir."
"Kau masih tidak percaya padaku," teriaknya demikian.
__ADS_1