
"Hello Readers maaf ya jarang up sibuk x soalnya kuliah+kerja tapi aku bisa singgahkan waktu untuk up kok. Don't Forget you're like, you're coment and you're vote. Thank you so much."
Roly mendekati Kezia yang memalingkan wajah untuk tidak melihat dirinya.
"Pak, stop.... " Ucap Kezia yang sudah melihat angkutan umum untuk tempat tujuannya.
Kezia meninggalkan Roly yang sedang mematung.
"Amit, amit jumpa dia lagi." Ucap Kezia dengan memukul pelan jidatnya.
"Wah, kurang ajar tu cewek. Tapi menarik juga si." Gumam Roly dengan tersenyum licik di bibirnya.
"Pak, stop!" teriak Kezia karena ia kelewatan sedikit dari Rumah Sakit Umum tempat tujuannya.
"Ya si bapak gak bilang kalau uda nyampe Di Rumah Sakit Umum." Gerutu Kezia pada Pak Sopir angkot.
"Lah kan Neng gak bilang kalau mau kesini." Ucap Pak sopir.
"Oh iya Pak, Saya lupa. heheheh" Ucap Kezia dengan menggaruk keningnya.
"Ini semua karena tu cwok resek!" gumam Kezia yang terdengar Pak Sopir.
"Yaudah neng, bayar dong." Ucap Pak Sopir.
"Iya Pak, bawel banget si." Gerutu Kezia sambil mengambil uang di dompetnya.
"Ini ambil Pak sama kembaliannya saya ikhlas." Ucap Kezia dengan memberikan uang pada Pak Sopir sambil melontarkan senyum di bibirnya.
"Terima Kasih banyak Neng." Ucap Pak Sopir yang sangat gembira.
Setelah nerima uang dari Kezia ia melajukan mobilnya dari hadapan Kezia.
Kezia berjalan memasuki Rumah Sakit dengan tubuh yang gemetaran sambil tangannya meremas dompetnya.
Kezia melihat-lihat seisi Rumah Sakit karena baru pertama x nya dia berada di sana sendirian.
Kezia kembali menelpon ke nomor Boy bukan lagi ke nomor Grace.
Dreeet, dreeet, dreeet....
"aishh, kenapa tidak diangkat si." Ucap Kezia yang mulai cemas di wajahnya.
Kezia melihat pesan yang dikirim oleh Boy.
"Key nanti kalau sudah sampai diruang suster kamu hubungi ku lagi ya dan tunggu aku disitu."
Namun Kezia tidak mau diam ia malah berjalan untuk mencari ruangan Grace dan ia menemukan ruangan yang hanya sendiri tidak ada ruangan lain disamping nya.
Kezia memasuki ruangan itu, ia melihat ruangan itu sangat gelap. Kezia meraba-raba mencari saklar lampu lalu menghidupkan lampu di ruangan itu, betapa terkejutnya dia melihat semua orang ditutupi selimut.
__ADS_1
Karena penasaran Kezia memajukan langkahnya dengan tubuh yang sudah gemetaran. Kezia mendekati salah satu dari mereka lalu membuka selimut itu dengan tangan gemetaran dan,
"Aaaaaaaaaaaaa" teriak Kezia yang melihat jenazah seorang wanita.
"Gak, gak mungkin." Kezia melangkahkan kakinya mundur kebelakang lalu berlari meninggalkan ruangan itu.
"Gak, gak mungkin Grace sudah meninggal." Ucap Kezia dengan langkah yang sangat terburu-buru sampai dia menabrak seseorang Pria yang sedang berbicara dengan seorang Dokter.
Bruuukkk,,
"Auuuu" ucap Kezia dengan menyentuh keningnya yang sakit.
"Key," lirih si Pria itu yang tidak lain adalah Boy.
"Boy, ikut aku!" ucap Kezia yang langsung menarik lengan boy dan membawanya pergi meninggalkan Dokter yang sedari tadi bersama Boy.
"Sebentar ya Dok." Teriak Boy pada Dokter itu.
"Boy, aaa... apa benar Grace sudah meninggal?" tanya Kezia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu bicara apa si Key? ngaur tau." Bantah Boy.
"Aa..aku, kalau gak percaya ikut aku." Ucap Kezia dengan kembali menarik lengan Boy dan membawanya ke tempat dimana dia barusan berteriak.
"Ini,,, ini tempatnya." Ucap Kezia.
"Key, kau lihat tulisan diatas." Ucap Boy menyuruh Kezia melihat ke atas dengan menggunakan arah manik mata hitamnya.
"Iya ini ruangan Jenazah." Kata Boy.
PLAK,
Kezia memukul kepala Boy.
"Iya aku tau ini ruangan Jenazah. Emang aku buta!" Ucap Kezia dengan mata melotot melihat Boy.
"Jadi buat apa kau mengajak ku kesini?" tanya Boy penasaran.
"Aa..ku melihat Jenazahnya Grace" ucap Kezia yang memperlihatkan wajah imutnya sampai Boy tertawa.
"Ahahahahaha,, kau kira Grace sudah meninggal?" tanya Boy yang diikuti anggukan kecil dari Kezia.
"Ahahahhahah, Key, Key. Grace dirawat di tuang penginapan dan sampai sekarang dia belum juga sadar." Jelas Boy untuk meyakinkan Kezia.
"Serius kau? terus yang aku lihat itu siapa dong?" lirih Kezia dengan melirik pintu Jenazah.
Boy hanya menaikan ke dua pundaknya.
"Kalau gak percaya ikut aku." Ucap Boy dengan menarik tangan Kezia. Kezia hanya diam mengikuti langkah Boy.
__ADS_1
Sesampainya di ruang penginapan, Kezia berjalan mendekati Grace yang masih belum bangun dari tidurnya.
"Ya ampun Grace kenapa kamu belum siuman? bukannya, hiks, hiks kau masih membalas perkataan ku dengan baik semalam Grace?" tanya Kezia yang sudah meneteskan airmata nya.
Kezia melihat ke arah Boy yang berdiri di samping Grace.
"Gimana ceritanya Grace bisa seperti ini Boy?' tanya Kezia dengan airmata yang sudah berlinang-linang.
"Gini ceritanya..."
Boy menceritakan secara detail dan tidak ada satu pun kalimat yang tertinggal.
"Kenapa bisa dia mencoba untuk bunuh diri?" tanya Kezia lagi.
"Begitu besar masalah mu Grace sehingga kau tidak mau bercerita dengan kami?" Kata Kezia yang sudah melihat wajah Grace.
"Kita harus gimana Boy? tanya Kezia dengan melihat kembali ke arah Boy.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tunggu Grace sampai siuman supaya ia bisa menjelaskan sendiri pada kita." Jelas Boy dengan melirik ke arah Grace.
Kezia tidak berhenti menangis ia sangat sedih melihat sahabatnya yang begitu banyak masalah hidupnya.
"Aku akan meluangkan waktu bersamamu Grace." lirih Kezia sambil mengelus rambut Grace.
"Aku akan menemui Dokter sebentar kau disini menemani Grace dulu." Ucap Boy.
Kezia menganggukan kepalanya.
Kezia memegang tangan sahabatnya itu dengan tatapan sendu
"Aku sibuk dengan urusan ku sendiri sampai aku tidak lagi memperdulikanmu. Maafkan aku Grace, maafkan aku." Ucap Kezia dalam hati dengan hanya mengeluarkan airmatanya.
Dreet, dreeet, dreeet....
Kezia menjauhkan dirimya Dari Grace unyuk mengangkat ponselnya yang berbunyi
"Mmm, hallo My king. " Ucap Kezia dengan suara serak.
"Kenapa sayang? apa kamu sakit?" tanya Samuel yang sudah kwatir.
"ehemmm, gak kok My King." Jawab Kezia bohong dan ia mencoba menetralkan suaranya kembali.
"Jangan bohong Key, cerita padaku apa yang telah terjadi? tanya Samuel lagi yang mengetahui bahwa kekasihnya sedang berbohong.
"My King, hiks, hiks, hiks..."
"Sabar sayang, tarik nafas, sekarang Kamu bisa cerita padaku apa yang terjadi." Ucap Samuel dengan nada yang lembut.
"hah, huf, hah, huf (Kezia menetralkan kembali nafasnya).
__ADS_1
"Sa,, sahabat ku Grace sekarang di Rumah Sakit My King." tangis Kezia pecah.